Renungan #Gita: Se-universal apa pun Bhagavad Gita tak bisa Dipahami Mereka yang Berpandangan Sempit

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

 

“(Ajaran) Yoga kuno yang dirahasiakan ini pula yang telah Ku-sampaikan kepadamu saat ini, karena engkau adalah seorang sahabat berjiwa panembah.” Bhagavad Gita 4:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Sebagian orang menganggap ‘ajaran tua’ sebagai sesuatu yang mesti ditinggalkan, karena sudah usang, kadaluarsa. Ya, jika sekadar ajaran, maka bisa jadi demikian. Tetapi Yoga bukan ‘sekadar’ ajaran.

Yoga adalah laku kehidupan – Yoga adalah Manual Kehidupan. Yoga adalah seperangkat Hukum-hukum Alam yang jika dilakoni, menyelaraskan kita dengan semesta. Dan, bukan itu saja – Yoga juga dapat membantu kita melampaui segala peraturan dan hukum untuk meraih Kesadaran Murni.

Sebab itu, selama masih ada kehidupan; manual ini, ajaran ini, hukum yang dapat melampaui hukum ini, tidak akan pernah usang. Tidak pernah kadaluarsa.

Yoga bukan sekadar Puratana atau Kuno, tetapi juga Sanatana, abadi, langgeng. Dan, juga SANGAT DIRAHASIAKAN – Kenapa? Jika memang universal, kenapa mesti dirahasiakan? Kenapa pula Krsna mesti menyampaikan kepada Arjuna bahwa ajaran ini disampaikan karena Arjuna adalah sahabatnya dan seseorang yang berjiwa panembah?

Kenapa tidak kepada setiap orang? Jawabannya mudah. Saat ini, Anda, pembaca ulasan ini terrnasuk golongan mana? Termasuk golongan ‘semua’, atau golongan Arjuna?

Jika Anda termasuk golongan semua, maka hampir 6 miliar penduduk dunia semestinya membaca Bhagavad Gita, entah ulasan ini, atau ulasan lainnya. Kenyataannya tidak demikian.

BHAGAVAD GITA ADALAH PUSTAKA YANG PALING SERING DITAFSIRKAN – Karena, memang tidak ada larangan untuk melakukan hal itu. Anda boleh seorang ahli bahasa Sanskrit, atau mengulas Gita berdasarkan terjemahannya dalam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada institusi yang berhak untuk mengeluarkan maklumat bahwa Anda salah.

Kenapa? Karena Gita bukan milik institusi kepercayaan mana pun. Gita adalah ‘buah’ peradaban manusia, peradaban Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo, yang bersifat universal. Di zaman internet ini, Gita bisa diakses on-line oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Kendati demikian, apakah setiap orang mengaksesnya? Tidak.

ANDA HANYA MEMBACA APA YANG MENARIK BAGI ANDA – Dan, karena ketertarikan Anda, maka Anda membeli buku ini. Walau harganya tidak murah, karena ukurannya cukup besar, tebal, jumlah halamannya banyak. Sementara, umumnya orang kita, orang Indonesia malas membaca buku-buku tebal seukuran ini.

Berarti, Anda tidak termasuk golongan ‘umum’. Anda tidak termasuk ‘semua’ ataupun ‘mayoritas’. Anda termasuk kelompok ‘khusus’ — kelompok Arjuna — yang tidak terpengaruh oleh kebiasaan umum, dan membeli buku ini.

Bahkan, Penerbit buku ini juga demikian. Mereka, setidaknya menaruh simpati terhadap isi buku ini, dan menerbitkannya. Walau, dari segi ekonomi, mungkin lebih menguntungkan bila mereka menginvestasikan jumlah uang yang sama untuk menerbitkan 4 – 5 karya fiksi!

Tidak semua penerbit akan menerbitkan buku ini, walau saya menawarkannya kepada mereka. Apalagi penerbit yang mengkhususkan dirinya untuk menerbitkan buku-buku dari kepercayaan tertentu. Berarti, penerbit karya ini pun termasuk golongan Arjuna.

APAKAH KRSNA PILIH KASIH? Tidak, Ia hanya menawarkan nasi kepada seorang bayi yang cukup berusia untuk mencernanya. Seorang bayi mesti makan bubur. Tidak bisa diberi nasi.

Ajaran ini dirahasiakan — implikasinya adalah sama seperti Peringatan Keamanan di atas Kantong Plastik – Amerika dan Eropa mengharuskan hal tersebut – supaya dibuang di tempatnya, dan tidak dijadikan mainan oleh anak-anak kecil, yang dapat membahayakan nyawa mereka.

Mau beli mainan, ada rekomendasi ‘Cocok untuk’ usia sekian-sekian. Dus obat ada peringatannya juga, ‘Simpanlah di tempat yang sejuk, jauhkan dari jangkauan anak-anak.’

KATA ‘RAHASIA’ DI SINI MESTI DIMAKNAI dalam konteks demikian. Se-universal apa pun Bhagavad Gita, tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang belum cukup berwawasan, yang masih berpandangan sempit.

Berbagai kepercayaan mengharuskan anak-anak kecil untuk menghafal kitab suci. Mengerti, tidak mengerti — asal hafal. Tidak demikian dengan Gita.

Menghafal Gita, menyanyikan dengan suara semerdu apa pun — semuanya tidak berguna, jika kita tidak menghayatinya. Dan, untuk itu — dibutuhkan tingkat kedewasaan tertentu. Bukan saja kedewasaan dalam arti usia, tapi dalam arti mental serta emosional, dan inteligensia.

Kadang seorang anak berusia 5-6 tahun sudah cukup dewasa — inteligensianya sudah cukup berkembang. Kadang, seorang tua berusia 50-60 tahun pun masih berpandangan sempit dan belum siap mempelajari pustaka universal seperti Gita.

’KEMATANGAN DIRI, KEDEWASAAN DIRI, Kesiapan Diri yang dibutuhkan untuk memahami Gita, Yoga, Ajaran Kuno nan Rahasia ini adalah:

1) Keterbukaan untuk menerima sesuatu yang ‘baru ‘ – baru bagi yang bersangkutan, walau sesungguhnya ajarannya bukanlah sesuatu yang baru.

Keterbukaan ini bisa diartikan sebagai Sifat Jiwa yang Bersahabat. Tidak mentah-mentah menolak, ‘Kami sudah punya kitab pegangan sendiri, sesuai dengan kepercayaan kami. Tidak perlu mempelajari kitab-kitab lain.

 

Penolakan seperti itu membuktikan bila Jiwa masih tertutup oleh kabut ilusif dualitas. Kita belum mau menuju Hyang Tunggal, kita baru memberi lip-service pada konsep Hyang Tunggal. Kita belum siap untuk manunggal.

2) Tidak mempelajari sesuatu dengan apriori, dengan semangat untuk mencari-cari kesalahan, untuk rnernbuktikan bahwa ‘hanyalah kitab kami yang mengandung kebenaran’. Kitab-kitab lain tidak mengandung kebenaran.

Sikap apriori seperti ini bertolak belakang dengan semangat manembah. Semangat manembah tidak berarti kita memuja Gita atau membeli poster lukisan Krsna dan Arjuna untuk menghiasi dinding di rumah. Jika kita tertarik untuk melakukan hal itu, silakan – siapa yang dapat melarang?

Tapi, hal itu tidak menjamin bila kita sudah bersemangatkan seorang panembah. Belum. Semangat manembah berarti kita melihat segala kebenaran berasal dari Hyang Maha Benar yang  Satu, Tunggal. Dan, mempelajari Gita dengan semangat itu, bukan untuk perbandingan dan mencari kesalahan.

Jika kedua kriteria ini terpenuhi, maka kita ‘menjadi’ seorang Arjuna; mitra, sahabat, dengan semangat manembah.

Kemitraan dan panembahan dalam ayat ini mengacu pada sifat-sifat generik. Berlaku bagi setiap orang yang hendak, sedang, dan akan mempelajari Gita. Semangat inilah yang telah mendorong saya untuk kesekian kalinya mengulas kembali ajaran Hyang Dirahasiakan ini. Semangat sama menggerakkan hati penerbit untuk menerbitkannya. Dan, semangat yang sama membuat Anda membeli buku ini, atau barangkali meminjamnya, untuk dibaca, diselami.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s