Jejak Veda Masih Terasa di Thailand?

1 samudera susu

Gambar kerjasama Dewa dan Asura mengaduk Samudera Susu dan Shiva yang menghirup racun yang keluar

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

“Pemahaman istilah ‘Hindu’ dalam konteks budaya/peradaban kuno, prasejarah, dan antrapologi tidaklah terkait dengan agama, tapi dengan suatu wilayah geografis dari pegunungan Hindu Kush, sekarang di Pakistan dan Afghanistan, hingga perbatasan kepulauan Nusantara, termasuk sebagian Filipina. Wilayah yang terkait dengan peradaban Lembah Sindhu ini disebut Shintu oleh para peziarah dan pedagang asal Cina, Hindu oleh sejarawan dan pelancong dari Timur Tengah, dan Indies, India, Indo oleh orang Barat. Judul asli buku ini, The Hindu Book of Astrology, kiranya diartikan dalam konteks tersebut dan tidak dikaitkan dengan agama.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Patung Shiva di Bandara Internasional Suvarnabhumi

Saat melihat beberapa Pagoda/Vihara di Bangkok, sebetulnya sudah terasa bahwa walau pemandu mengatakan 70% penduduk Thailand beragama Buddha, dan siaran resmi dari pemerintah sekitar 90% beragama Buddha, akan tetapi tugu-tugu/patung-patung peringatan mengingatkan kesamaan dengan negeri kita, tentu saja dengan pernik-pernik dan nuansa ala Thailand. Tugu/Patung yang mirip dengan negeri kita tersebut mendukung bahwa kita semua dulu mempunyai peradaban yang sama, peradaban Sindhu. Warga Thailand menghargai peninggalan masa lalu dan bahkan membuat Tugu-Tugu/Patung-Patung Peringatan yang bernuansa Veda.

Pada saat kedatangan di Bangkok, kita disibukkan mempersiapkan paspor dan data-data keimigrasian, dan jalan kaki yang cukup jauh sehingga kurang jeli melihat sekitar. Akan tetapi saat pulang, selesai pemeriksaan keimigrasian, saat masuk hall Bandara, kita melihat patung indah besar sekali menggambarkan kerjasama para dewa dan asura mengaduk samudera susu dengan ular naga Vasuki, dan patung Shiva warna ungu di tengah menghirup racun yang keluar. Srimad Bhagavatam……. pikir saya dengan bahagia.

Silakan baca:

https://triwidodo.wordpress.com/2011/07/08/renungan-bhagavatam-perebutan-amerta-dan-kurma-avatara/

 

Sepasang Patung Yaksha Penjaga dan Barisan Kera Mendukung Gunung

Saat masuk Vihara Wat Arun, kita melihat sepasang patung Yaksha membawa gada dengan pernik-pernik Thailand. Saya ingat di Solo pun di Alun-alun, sebelum masuk Keraton kita juga melihat sepasang patung raksasa penjaga. Kalau ditelusuri kemungkinan besar mereka adalah sepasang Penjaga istana Vishnu, Vaikuntha Jaya dan Vijaya. Pemandu kita hanya tahu mereka adalah Yaksha/Raksasha Penjaga yang hampir di setiap Bangunan Besar selalu ada sepasang patung penjaga tersebut.

1 di depan pataung penjaga

Foto selfie di depan sepasang Yaksha Penjaga.

 

Saat melihat barisan kera menyangga gunung, kita ingat Hanuman menyangga Gunung untuk mencari obat bagi Lakshmana yang terluka saat perang melawan para raksasa Alengka. Pemandu kita mengatakan itu anak-anak Hanuman. Mungkin saja di Thailand berkembang Legenda Ramayan versi Thailand yang dikenal sebagai Ramakien.

Nama Wat Arun sendiri berasal dari Dewa Aruna, kusir Dewa Surya, yang membawa cahaya fajar sebelum munculnya Sang Surya. Aruna sendiri dalam kisah Srimad Bhagavatam adalah kakak dari Garuda. Da, Aruna mempunyai putra Jatayu dan Sempati.

Lambang Thailand sendiri mirip dengan lambang Indonesia yaitu burung Garuda.

1 di depan kera penyangga gunung

 

Foto di Wat Arun dengan latar belakang patung-patung kera menyangga Gunung.

 

Silakan lihat kisah Garuda di Srimad Bhagavatam:

https://triwidodo.wordpress.com/2012/03/19/bakti-burung-garuda-terhadap-bunda-tercinta-dalam-kitab-garuda-purana/

Silakan lihat kisah Sempati di Ramayana:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/10/25/kisah-sempati-blueprint-skenario-kehidupan-dalam-kisah-ramayana/

 

Menghormati Budaya Leluhur

“Landasan kita peroleh lewat penggaliannya Soekarno terhadap kearifan lokal, terhadap budaya dan sejarah kepulauan sejak awal mula peradaban dunia, manusia pertama di Jawa, Soloensis mulai bercocok-tanam dan memburu; sekitar 500.000 – 1 juta tahun yang lalu!”

“Semestinya masyarakat disadarkan akan akar budaya mereka yang satu dan sama; akar budaya yang mempersatukan mereka dengan saudara-saudara mereka di Gandhaar, Qandahar di Afghanistan hingga perbatasan Astraalaya, Benua Australia. Kepulauan Nusantara berada di wilayah peradaban Sindhu, yang oleh pelancong sekaligus sejarawan China disebut Shintu, oleh sejarawan Arab disebut Hindu, dan oleh orang-orang Barat disebut Indies, Indische, Hindia, Indo.”

“Kembali ke budaya asal tidak berarti kembali pada kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang sudah usang, kadaluarsa dan tidak berguna. Kembali kepada budaya asal berarti kembali kepada “kebijaksanaan-kebijaksanaan masa lalu yang masih relevan”. Budaya asal  yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan – nilai-nilai yang tidak merendahkan derajat, harkat dan martabat manusia; nilai-nilai yang tidak membedakan manusia berdasarkan warna kulit, ras, bahasa, agama dan lain sebagainya. Nilai-nilai budaya asal yang menjunjung tinggi kedaulatan individu atas dirinya, pikirannya, haknya untuk menyuarakan pendapat, yang menjunjung tinggi kebebasan untuk menolak pembodohan yang dilakukan dengan mengatasnamakan kepercayaan, agama, dan Tuhan.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Sandi Sutasoma Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

buku sandi-sutasoma_res

Cover Buku Sandi Sutasoma

Asal mula semua agama adalah Veda?

Sebagaimana dituliskan dalam buku “Ramayan Around The World” karya Ravi Kumar, ternyata hampir diseluruh dunia dapat ditemukan kisah-kisah yang kurang lebih sama dengan kisah-kisah Veda (dalam kaitannya dengan buku ini adalah Ramayana yang terdapat dalam kitab Itihasa). Dalam bukunya tersebut Ravi Kumar menyebutkan bahwa hampir di seluruh negara di Asia mengenal kisah Ramayana, meskipun sudah diadopsi sedemikian rupa sehingga lebih mencirikan daerah bersangkutan. Thailand sendiri menggunakan Garuda Visnu sebagai simbol negara. Di Kamboja tarian Ramayana sangat umum dipentaskan. Agama Shinto di Jepang juga memiliki dewa-dewa dan tokoh-tokoh yang sangat erat kaitannya dengan kisah Ramayana. Dikutip dari tulisan Brother Agung Joni dalam blog: http://saimandirsamplangan.blogspot.com/2011/01/awal-mula-semua-agama-adalah-veda.html#

 

Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.

 Agama Hindu sebagaimana nama yang dikenal sekarang ini, pada awalnya tidak disebut demikian, bahkan dahulu ia tidak memerlukan nama, karena pada waktu itu ia merupakan agama satu-satunya yg ada di muka bumi. Sanatana Dharma adalah nama sebelum nama Hindu diberikan. Sanatana dharma yang memiliki makna “kebenaran yg kekal abadi” dan jauh belakangan setelah ada agama-agama lainnya barulah ia diberi nama untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sanatana dharma pada zaman dahulu kala dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai shindu, penganut Weda ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang indu (tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lama-kelamaan nama indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut sanatana dharma disebut Hindu. Dikutip dari tulisan Faisal Wibowo dalam blog: http://faisal-wibowo.blogspot.com/2013/01/sejarah-agama-hindu.html

 

“Budaya bukanlah sesuatu yang mati. Budaya adalah sesuatu yang hidup. Bahkan menurut saya, budaya adalah sumber kehidupan suatu bangsa. Yang bisa mempersatukan kita adalah budaya. Suatu bangsa yang melupakan nilai-nilai luhur budayanya sendiri akan hancur lebur. Tanpa nilai-nilai budaya, kesatuan dan persatuan bangsa tidak dapat dipertahankan. Agama, warna kulit, suku dan ras kita berbeda. Kita bahkan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Kita masih bersatu sebagai suatu bangsa yang besar perekatnya hanyalah budaya. Dalam Lautan Budaya Nusantara itu, bersatulah aliran-aliran yang berbeda. Ada aliran Jawa, ada sungai Sunda, ada kultur Sulawesi dan Kalimantan dan lain-lain. Tetapi dalam Lautan Budaya Nusantara semuanya bersatu.” Dikutip dari buku  (Krishna, Anand. (2005). Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

1 di depan buddha berbaring

Foto di depan Buddha Berbaring di Vihara Wat Po

 

Buddha Muka Empat atau Brahma Muka Empat?

Di Thailand ada patung yang dikenal sebagai Buddha Muka Empat, atau ada yang menyebutnya Dewa/Brahma Muka Empat.

 

1 brahma muka empat bangkok

 

 

 

Foto Brahma Muka Empat di Kuil Erawan Bangkok, sumber internet

Brahma, sebagaimana yang kita kenali, adalah salah satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu. Pengikut Hindu mempercayai dewa ini sebagai dewa pencipta, dewa yang kekal, yang lebih tinggi dari dewa lainnya. Apabila berpasangan dengan dua dewa yang lainnya, yakni: Visnu dan Siva, ketiganya ini dikenal dengan julukan Trimurti. Istilah Trimurti ini muncul sekitar dua ratus tahun setelah Buddhaparinibbana, yakni saat kaum Brahmana menamakan ajarannya sebagai ajaran Hindu atau Jaman Hindu.

Sebenarnya, istilah Brahma ini telah muncul lama sebelum kemunculan jaman Hindu; yakni muncul pada Jaman Veda. Jaman Veda adalah jaman kedua dari empat jaman dalam agama Brahmana, yakni: jaman Ariyaka, jaman Veda, jaman Brahmanaka, dan jaman Upanisada (Hindu). Teori pembedaan masyarakat berdasarkan warna kulitnya atau yang dinamakan kasta muncul di jaman Veda ini. Dan, Brahma pada masa ini diyakini sebagai sumber dari keempat kelompok kasta di atas.

Rinciannya secara berturut-turut adalah, kasta Brahmana muncul dari mulut Brahma, kasta Ksatriya muncul dari lengan Brahma, kasta Vaisa muncul dari paha Brahma dan kasta Sudra muncul dari kaki Brahma. Kemudian pada jaman Brahmanaka, Brahma dijadikan sebagai objek pujaan tertinggi dengan menyisihkan kebesaran dewa Indra yang sebelumnya telah menjadi pujaan tertinggi sejak awal mula berdirinya agama ini, yakni sejak jaman Ariyaka dan awal jaman Veda. Brahma dianggap sebagai dewa pencipta menggantikan dewa Indra. Dan kaum Brahmana menyatakan diri bahwa kaum mereka adalah keturunan Brahma.

………

Tidak seperti dalam tradisi Brahmana/Hindu yang menempatkan Brahma di alam surgawi dan masih berlumur gairah nafsu (Komavacarabhava), Brahma dalam ajaran Buddha diletakkan di alam tersendiri, yakni alam Brahma, yang bebas nafsu gairah (Ruparupabhava). Dalam kitab-kitab agama Buddha, istilah Brahma sering disebut di sana. Artinya, agama Buddha mengakui keberadaan Brahma. Namun, istilah brahma dalam kitab agama Buddha itu memiliki pengertian yang berbeda dari kepercayaan kaum Brahmana. Batasan pengertian brahma diubah sedemikian rupa hingga sesuai dengan doktrin agama Buddha. Perlu diketahui juga, bahwa Sang Buddha banyak memberikan makna baru atas kata-kata yang sebelumnya telah dipakai di jaman itu, seperti misalnya kata arahanta, brahmana, mokkha, bhagavantu, dsb. Pengubahan ini utamanya ditujukan agar para pendengar ajaran Beliau memiliki pengertian baik dan benar.

Sebuah kata atau nama bisa mengandung makna lebih dari satu arti. Tiap-tiap makna berperan dalam memahami suatu ucapan atau ajaran. Karena itu, pemilahan makna kata dari makna-makna adalah satu tugas yang amat penting untuk mencapai maksud sebenarnya si pengucap. Pengertian lebih penting daripada nama itu nama yang menjulukinya sendiri. Karena, nama adalah sekadar julukan. Sedangkan pengertian adalah arahan dari suatu nama diucapkan. Untuk kata brahma misalnya, umat Buddha tidak diarahkan untuk memahaminya sebagai pusat dari makhluk alam semesta, sosok makhluk yang kekal, yang menentukan nasib setiap insan (yang sebenarnya juga termasuk nasib hewan dan makhluk lain), atau sosok makhluk yang secara langsung memberi anugerah sekaligus kutukan terhadap makhluk lain.

Brahma dalam pengertian sebagai sesosok makhluk, adalah makhluk-makhluk yang telah mengembangkan kebajikan besar sehingga mampu menempati alam brahma. Brahma dalam agama Buddha bukanlah mewaliki satu makhluk saja, melainkan mewakili sekelompok makhluk dengan berbagai macam tingkatannya. Alam Brahma memiliki banyak tingkat. Tiap tingkat memiliki ciri khas, kemampuan, dan batas usia penghuninya. Dewa Brahma, meskipun berusia amat lama, juga akan habis masa usianya (meninggal dari alamnya). Ia pun akan melanjutkan kehidupannya di alam-alam lain seperti halnya makhluk manusia dan binatang. Dan, semasih belum mencapai tingkat-tingkat kesucian, mereka semua tak terlepaskan dari alam samsara. Dikutip dari tulisan Y.M. Maha Dhammadhiro Thera dari blog: http://vincentspirit.blogspot.co.id/2012/08/se-mien-fo-se-mien-shen-dewa-empat-muka.html

1 bung karno

Foto bersama Bung Karno di Bangkok

 

“Tradisi merupakan bagian dari budaya.Dan budaya adalah jati-diri suatu masyarakat. “Bangsa, masyarakat yang melupakan jati-dirinya, akan terlupakan oleh sejarah.” demikian menurut kakeknya dulu. Beragama Islam tidak berarti meremehkan tradisi dan budaya asalnya. Baginya beragama Islam tidak berarti serta merta menerima budaya Arab, atau budaya asing lainnya, dan meninggalkan budaya leluhur. Menerima ajaran Islam sebagai pedoman bagi akhlak serta hubungannya dengan Sang Khalik. Dalam kesehariannya ia tetap berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur dalam budayanya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Ibaadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tautan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/26/pemandu-perjalanan-dan-pemandu-kehidupan/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/28/sulitnya-mengisi-aplikasi-visa-us-online-dan-mengisi-kehidupan-di-dunia-nyata/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/29/urip-mung-mampir-ngombe-sekadar-minum-transit-di-dubai-ibarat-transit-di-kehidupan-dunia/

 

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s