Urip mung Mampir Ngombe, Sekadar Minum, Transit di Dubai Ibarat Transit di Kehidupan Dunia

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

buku Tao Teh Ching

Cover Buku Tao The Ching

 

“la yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya, tetapi tidak tupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada sesuatu apa pun. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup dalam lingkungan pesantren atau biara. Semuanya begitu teratur. Godaannya minim. Dengan itu, pengendalian diri Anda sama sekali tidak teruji. Hidup di tengah keramaian dunia ini, menikmati segala pemberian alam, tetapi tidak terikat da sesuatu apa pun – demikianlah seorang bijak. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupan. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang. la akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hidup di dunia bersifat sementara

Leluhur kita mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Sayidina Umar berkata bahwa pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan harta yang dimilikinya adalah pinjaman. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Isa Sang Masiha menyatakan bahwa dunia ini ibarat jembatan, lewatilah, jangan membuat rumah diatasnya. Dalai Lama berkata, “We are visitors on this planet. We are here for one hundred years at the very most. During that period we must try to do something good, something useful, with our lives. if you contribute to other people’s happiness, you will find the true meaning of life.”

DSC_0017

Foto Menunggu pesawat di Terminal 2

 

Transit di Dubai

Naik Emirates Airlines berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pk 17.45 menempuh perjalanan selama 8.5 jam sampai Dubai pk 23.15 (waktu Dubai).

Dubai International Airport adalah bandara terbesar di dunia, dengan 97 escalator, 157 lift, 180 check-in counters, dan ruang parkir yang sanggup menampung sampai 2600 mobil membuat bandara ini terpilih sebagai bangunan terluas di dunia dengan luas total bangunan mencapai 1,500,000 m² (150 ha, 0.5 luas kecamatan Serengan Kota Surakarta). Sumber dari Internet.

Pesawat ke Boston berangkat pk 02.40 sehingga kita hanya mempunyai waktu singkat 3 jam lebih sedikit. Dari brosur di pesawat ditulis kita harus jalan kaki selama 20 menit dan naik subway selama 15 menit menuju terminal keberangkatan.

Rupanya kita harus naik turun beberapa lift, lewat banyak eskalator naik atau turun dan jalan kaki sebelum mencapai stasiun subway. Hanya mereka yang sehat yang dapat menempuh perjalanan transit tersebut. Sepanjang jalan banyak mall, dan orang sibuk berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing. Hanya melihat penunjuk arah terminal, kita berdua melangkah ke arah yang harus dijalani. Kita hanya istirahat karena hal-hal yang tidak bisa ditunda seperti ke toilet. Minum pun kita tunda, dilakukan setelah sampai terminal keberangkatan.

Lebih kurang 45 menit kita sampai terminal keberangkatan dan kita merasa haus. Air putih dalam botol sudah ditinggalkan di Bandara Indonesia, karena peraturan penerbangan tidak membolehkan kita membawa cairan di atas volume tertentu dalam kabin. Kemudian kita tanya ke Mc Di di sebelah Terminal Keberangkatan, dan pembelian hanya menerima uang Dirhams Dubai. Kita kemudian balik ke tempat penukaran uang menukar uang dengan Dirhams Dubai dan membeli air putih dan salad.

DSC_0020

Foto selfie di Dubai, sweater yang saya pakai adalah sweater yang saya pakai 20 tahun yl ke USA, bahkan saat masih tugas belajar di Canada 30 th lalu, hehehe

 

Sebelum keberangkatan kita pun transit di Bandara Soekarno-Hatta. Agar mempermudah perjalanan kita memilih naik Garuda, agar turun dan transit di Terminal 2 yang sama dengan Terimal keberangkatan ke Dubai. Akan tetapi hotel transit sudah tidak ada lagi dan adanya di Terminal 1. Jadi bagasi dititipkan di locker dan naik free shuttle bus ke Terimal 1. Sebelum keberangkatan kita cukup lama antri dan lama pula ditempat check in, karena untuk pergi ke Amerika harus menuliskan alamat di US selama kita tinggal di sana. Saya buka-buka arsip email tidak ketemu, akhirnya buka arsip  WA dan ketemu alamatnya.

DSC_0015

Foto antri Check in di Soekarno Hatta

 

Berdasar penghayatan atas pengalaman tersebut, saya menulis status di Twitter:

transit Dubai, trn pswt jln escalator lift kereta 45′ smp trmnl kbrgktn, tujuan jelas lngkh jls. Dmk shrsnya transit dunia. Namaste #PemanduHidup

 

Mempertahankan peran sebagai tamu di dunia

Asy Syu’araa berulang-ulang mengingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia (antara lain seperti dalam ayat 180). Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “warga dunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”.

Apa arti ibadah atau ritual hajj? Hajj adalah peringatan, untuk mengingatkan kita bahwa fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang sedang berkunjung di dunia atas perintahNya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia yang sedang berkunjung ke bait Allah sebagai tamuNya. Apakah Allah membedakan antara warga atau tamu? Bukankah kita semua adalah ciptaanNya? Ya betul. Dia tidak membedakan. Kita sendiri yang menentukan kedudukan kita. Kita sendiri yang memilih, dan menempatkan diri sebagai pengunjung/tamu di dunia atau sebagai warga tetap.

Berikutnya dijelaskan adab atau disiplin seorang tamu di dunia;

  1. Penilaian yang benar,
  2. Tidak merampas hak manusia,
  3. Tidak merusak dunia, dan
  4. Selalu bertaqwa pada Gusti Allah (ayat 182/4).

 

Inilah adab seorang tamu di dunia. Pilihan sepenuhnya di tangan kita. Sesungguhnya seperti mursyid mengatakan “Allah Maalik hai” – Gusti Allah Maha Memiliki. Mau jadi warga dunia atau tamu di dunia, kita semua tetaplah milikNya. Adalah demi kebaikan kita sendiri bahwa pilihan itu di-“cipta”-kan supaya kita bisa “bermain” dengan cantik. Marilah kita mencontohi permainan cantik para pecintaNya dengan mempertahankan kewarganegaraan surga kita yang sedang berkunjung ke dunia sebagai tamu. Sehingga hajj kita bukanlah sebagai tamu Allah, tetapi sebagai hamba Allah. Amin.

Kita semua “warga surga yang sedang berkunjung ke dunia”. Anggap saja dirimu sebagai alien, ET. Dan, tujuan kita di sini untuk membangun surga di dunia. Supaya teman-teman lain sesama ET punya tempat penginapan yang menyerupai watan, kampung halaman mereka. Sekaligus supaya warga dunia lain “jadi ngerti” oh ternyata dunia ini nggak seberapa, ada yang lebih cantik!

Asy-Syu’araa ayat 180: dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

 

Sengaja saya kutip dari Materi Neo Interfaith Studies yang disiapkan oleh Bapak Anand Krishna. Sebenarnya saya merasa sangat sedih, karena materi yang sangat berharga itu belum ada lagi yang ingin ikut program online-nya. Ada penjelasan berbagai agama yang dapat kita petik bahwa benang merahnya sama, karena berasal dari Dia Hyang Satu juga. Berbagai penafsiran oleh mereka yang belum menghayati kedalamannya yang membuat ajaran-ajaran nampak berbeda. Ada hal yang universal sama dan ada yang kontekstual tergantung situasi dan kondisi. Saya berharap akan ada banyak orang yang mengikuti Program Online dan berdiskusi banyak di Forum yang disediakan.

2 bangkok 12

Foto selfie bersama Dalai Lama yang menganggap hidup di dunia hanya singkat agar digunakan untuk melayani dan berbuat kebaikan

 

Merasa sebagai Tamu saat Transit, mengapa tidak merasa sebagai Tamu di Dunia?

Mengapa pada waktu transit di Dubai kita tetap merasa sebagai tamu, dan saat di dunia kita merasa sebagai warga dunia?

Pada saat datang ke Kedutaan Amerika, kita berdua juga pernah merasakan transit di Hotel Transit Gambir. Kereta dari Solo datang di Gambir pukul 5 pagi, sedangkan janji di Kedutaan pukul 9. Kita transit sementara di Gambir, istirahat, mandi, sarapan, menitipkan tas di locker dan berangkat ke Kedutaan. Kita pulang dengan kereta ekonomi dari Pasar Senen pk 13.00. Karena hanya tiket itulah yang tersisa. Semua kereta penuh penumpang karena akhir pekan. Pada waktu transit kita benar-benar merasa sebagai tamu.

Mari kita pelajari bersama kutipan di bawah ini:

Seorang pedagang yang sedang berkunjung ke kota lain boleh menikmati segala kenyamanan dan kemewahan hotel dimana ia sedang bermalam. Tapi, dia selalu ingat tujuannya berada di kota asing itu. Ia tidak larut dalam kenyamanan dan kenikmatan itu. Pagi-pagi ia sudah bangun. Meninggalkan kamar hotel, dan pergi ke pasar untuk berdagang. Ia tidak memiliki keterikatan dengan hotel itu, dengan segala kenyamanan kamarnya. Itulah sebab ketika urusannya selesai ia pun langsung checkout, tidak menunggu diusir, dan pulang ke “negeri asalnya”. Kiranya inilah arti ayat 11 dalam surat al-Fath, “harta dan keluarga kami merintangi”. Qur’an Karim mengingatkan para mukmin untuk tidak terikat dengan kenyamanan dan kenikmatan duniawi, dan untuk senantiasa mengingat tujuan hidup. Yaitu “berjuang” dalam, dan dengan kesadaran ilahi. Gusti tidak membutuhkan pembelaan, Ia pun tidak membutuhkan senapan kita, roket dan bom kita untuk memusnahkan dunia ini. Jika ia menghendaki maka dalam sekejap jutaan nyawa bisa melayang, planet ini bisa musnah hancur-lebur.

Ayat ini adalah pelajaran bagi mukmin, bereka yang beriman. Ayat ini dimaksudkan bagi hamba Allah, dan bukan bagi budak dunia. Jika kita puas dengan perbudakan, maka itu adalah pilihan kita. Dan, konsekuensinya adalah resiko kita sendiri. Tuhan maha menyaksikan. Ia menjadi saksi akan setiap pikiran, perasaan, ucapan dan tindakan kita. Keselarasan antara apa yang ada di hati dan kita buat mengantar kita ke svarga, fitrah kita, kodrat kita (innalillahi …) Jannah – itulah Idulfitri.  Ketidakselarasan mengantar kita ke narka, untuk mengulangi pelajaran yang belum selesai, dan itulah jahannam, itulah Yaumid din – wilayah kekuasaan Yama, mayapada. Yama, Maya – jelas? Salam Kejelasan…

Surat al Fath ayat 11: Orang-orang Baduwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sengaja saya kutip dari Materi Neo Interfaith Studies yang disiapkan oleh Bapak Anand Krishna. Sebenarnya saya merasa sangat sedih, karena materi yang sangat berharga itu belum ada lagi yang ingin ikut program online-nya. Ada penjelasan berbagai agama yang dapat kita petik bahwa benang merahnya sama, karena berasal dari Dia Hyang Satu juga. Berbagai penafsiran oleh mereka yang belum menghayati kedalamannya yang membuat ajaran-ajaran nampak berbeda. Ada hal yang universal sama dan ada yang kontekstual tergantung situasi dan kondisi. Saya berharap akan ada banyak orang yang mengikuti Program Online dan berdiskusi banyak di Forum yang disediakan.

Tautan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/26/pemandu-perjalanan-dan-pemandu-kehidupan/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/28/sulitnya-mengisi-aplikasi-visa-us-online-dan-mengisi-kehidupan-di-dunia-nyata/

 

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Urip mung Mampir Ngombe, Sekadar Minum, Transit di Dubai Ibarat Transit di Kehidupan Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s