Renungan Diri: Waspadai Pergaulan! Kesadaraan Baru Otak Kalah Dengan Kebiasaan Pergaulan Lama

buku neo spirituality

Cover Buku Neospirituality Neuroscience

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

 

Malaikat Tak Bersayap

Kasus ini mewakili lebih dari 21 kasus berbeda yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan. Usia mereka bervariasi, yang paling muda berusia 15 tahun dan yang paling tua 72 tahun (saat masih dalam penelitian kami). Kami, secara kolckrif, menyebutnya “malaikat-malaikat tak bersayap”.

Kedua puluh satu kasus ini adalah bagian dari 143 kasus yang kami teliti bersama. Kami menemukan bahwa 122 kasus tidak bermasalah, dan hanya 21 kasus yang bermasalah. Qleh karena itu selanjutnya kami akan membahas 21 kasus terakhir saja.

Mereka adalah orang-orang yang sangat berpotensi dan sesungguhnya sudah mengalami evolusi spiritual. Dalam usia tertentu, mereka mengenal spiritualitas dan terdorong oleh batinnya sendiri untuk mendalaminya. Tidak ada paksaan dari siapa pun, termasuk dari orang tua dan keluarga. Ada kalanya keluarga mereka mendukung, ada kalanya tidak. Terbukti 18 kasus tidak cukup mendapat dukungan. Pada umumnya ada pengalaman tertentu dalam hidup mereka yang menjadi trigger atau pemicu sehingga mereka berpaling pada spiritualitas. Dan jalan spiritual yang mereka tempuh pun bervariasi. Selama beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, mereka menjalani hal-hal yang dianggap sudah menjadi takdir.

Kami menyimpan beberapa tulisan, surat, dan testimoni yang menunjukkan bahwa selama dalam masa penelitian, mereka sangat bahagia dengan pilihan tersebut.

Kesalahan Mereka

Tanpa kecuali, mereka semua masih mempertahankan “pergaulan” mereka sebelumnya. Pergaulan inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi mereka. Terjadilah tarik menarik antara pergaulan lama dan kesadaran baru. Dan dalam pertarungan itu, pergaulan lamalah yang keluar sebagai pemenang. Jelas demikian karena kesadaran baru tersebut “baru” berusia beberapa bulan atau beberapa tahun (paling baru kurang lebih 8 bulan dan paling lama 5 tahun). Sementara itu, pergaulan lama sudah berusia belasan bahkan puluhan tahun (bila kita mengambil “satu episode kehidupan” saja sebagai bidang studi. Bila memperhatikan episode-episode sebelumnya maka pergaulan dalam “episode yang berjalan” sesungguhnya mewakili belasan hingga ratusan episode sebelumnya dalam bentangan waktu 500 hingga 5000 tahun).

Tentu saja ketika berbelok dan menempuh jalan lama kembali, mereka butuh alasan untuk membenarkan keputusan mereka. Alasan mereka beragam. Pada umumnya mereka tidak akan menyalahkan diri sendiri tetapi mencari kesalahan orang lain:

  • Saya tidak cocok dengan orang-orang sok spiritual sekitar saya yang ternyata sombong-sombong.
  • Mereka mempunyai kelemahan-kelemahan yang sama seperti orang biasa, misalnya masih doyan seks, masih mencari uang, masih mengejar nama.
  • Saya menjadi korban cuci otak selama ini sehingga tidak sadar akan perbuatan saya.
  • Saya meninggalkan Tuhan selama ini tetapi ternyata Tuhan masih baik, tidak meninggalkan saya dan sekarang saya berada pada jalur Tuhan lagi.
  • Ternyata orangtua, famili, dan teman-teman saya benar karena saya sendiri memilih jalan tidak benar.

Dan masih banyak alasan lain.

Masalah Ego

Ada kalanya setelah berbelok dan menyadari kembali kesalahannya, seseorang ingin melanjutkan kembali perjalanannya. Tetapi sering terhadang oleh ego dan keangkuhannya sendiri. “Apa kata orang kalau saya kembali. Saya sudah menjelek-jelekan pilihan saya sebelumnya.”

Dari 21 kasus di atas, ada 5 orang yang  menyatakan diri mereka hendak kembali melanjutkan perjalanannya tetapi tidak cukup berani untuk menghadapi teman-teman lamanya.

Anehnya, setelah ditelusuri, 16 orang lainnya pun sesungguhnya tidak bisa lepas dari spiritualitas yang sudah menjadi “takdir” mereka. Tetapi karena malu mengambil jalur yang sama, mereka mengambil jalur yang lain. Padahal jalur pertama itu adalah jalur pilihan hati nurani mereka. Itulah jalur yang cocok bagi mereka. Sekarang jalur lain yang mereka pilih malah menambah ego dan memaksa mereka untuk mencari berbagai macam alasan supaya bertahan pada jalur tersebut termasuk dengan cara menjelek-jelekkan apa pun yang berkaitan dengan jalur sebelumnya.

Pemicu di Luar Diri yang Berbahaya

Kasus ini menarik sekali karena ternyata pengaruh lingkungan, pergaulan, dan pemicu-pernicu di luar diri memainkan peran yang penting sekali.

Ada beberapa butir kesimpulan yang mesti diperhatikan:

  • Dengan pengulangan yang intensif, kebiasaan-kebiasaan lama bisa diubah dan kebiasaan-kebiasaan baru dapat ditanamkan.
  • Hal-hal yang ditanamkan dan yang diubah tentunya berdasarkan pilihan dan kemauan kita.
  • Bila hal yang ditanamkan itu adalah pilihan orang lain bagi kita maka proses itu disebut brain washing atau cuci otak. Efek dari proses ini tak akan bertahan lama, bisa beberapa minggu, bulan, tahun. Pada akhirnya efek itu akan melentur dan orang yang mengalaminya pasti tersadarkan walaupun kehilangan banyak waktu.
  • Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, bilamana hingga akhir hayat pun tidak sadar (pengecualian karena rata-rata mereka sadar jauh sebelumnya tetapi malu untuk menyatakannya) maka saat ajal tiba kesadaran akan kesalahan itu pasti muncul. Dan terjadi penyesalan diri yang sangat berat dan menyedihkan. Ada kalanya orang itu susah meninggal dan sangat menderita.
  • Seseorang yang sudah mau “berubah” harus membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh sebelumnya karena pengaruh-pengaruh itu bisa menjadi pemicu untuk menariknya kembali ke jalur yang sama. Hal ini sama seperti yang terjadi pada korban narkotika, yaitu mereka harus meninggalkan lingkungan lama.

Bagaimana Mengetahui bahwa Pilihan Saya Sudah Tepat?

Pertanyaan ini muncul dari seseorang dalam penelitian kami, “Bagaimana saya mengetahui bahwa jalur yang pernah saya pilih itu adalah jalur yang tepat dan jalur yang saat ini saya tempuh adalah jalur yang salah?”

Jawabannya adalah Pertama, tidak ada jalur yang salah. Persoalannya, jalur itu tepat atau tidak bagi diri kita. Semua jalur bagus dan baik. Tetapi ada yang tepat bagi kita dan ada yang tidak tepat. Kedua, bila jalur yang saat ini sedang ditempuh adalah jalur yang tepat maka seseorang tak akan menoleh ke belakang lagi. Tidak akan ada kegelisahan dan keraguan. Malah yang ada rasa syukur, “Ternyata jalur pertama itu berhasil mengantar saya ke tahap berikut.”

Seorang yang telah menemukan jalur hidupnya tak akan menjelek-jelekan jalur yang pernah ditempuhnya. la tidak akan mencari kesalahan, kelemahan, kejelekan dari jalur sebelumnya. la menerimanya sebagai anak tangga pertama yang mengantarnya ke anak tangga berikut.

Ketiga, seseorang yang menjelek-jelekkan pengalaman sebelumnya, sesungguhnya menderita penyakit kurang percaya diri. la sedang berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa jalur baru yang dipilihnya itulah jalur yang tepat bagi dirinya. Keempat, dan ini merupakan sesuatu yang sangat umum, biasanya mereka yang meninggalkan suatu disiplin ilmu dan menempuh yang lain merasa dirinya “terpanggil” untuk menyelamatkan orang-orang lain yang dianggapnya “sesat” karena sedang menekuni disiplin ilmu yang ditinggalkannya.

Kata “sesat dan menyesatkan” adalah cerminan dari belahan otak kiri yang bingung dan belahan otak kanan yang hampir tidak berfungsi. Sehingga intuisi orang itu sama sekali tidak berjalan dan hanya insting hewaninya yang sedang bergejolak. Jadi ia patut dikasihani.

Catatan: Penelitian ini masih dilakukan bersama (oleh saya, Anand Krishna dan Dr. Setiawan) hingga tanggal 5 September, 2009. Hasil di atas adalah hasil bersama yang kami capai atau sepakati dalam diskusi “fisik” terakhir pada hari itu. Penelitian selanjutnya terpaksa melibatkan rekan-rekan lain dan hasilnya belum dipublikasikan-a.k.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/04/renungan-diri-otak-alat-sempurna-evolusi-mental-guna-peningkatan-kesadaran-spiritual/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/08/renungan-diri-alam-tidak-terpisah-sistem-pendidikan-mengajarkan-perpisahan-meracuni-otak-anak/

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s