Renungan #Gita: Tindakan yang Melebihi Pendalaman Kitab, Tapa-Brata, Amal Saleh, Dana Punia?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

 

“Dengan mengetahui kedua jalur ini, tiada seorang pun Yogi yang terbimbangkan lagi; sebab itu, Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), beradalah dalam kesadaran Yoga setiap saat. ” Bhagavad Gita 8:27

 

Seruan Krsna jelas sekali, “Jadilah seorang Yogi!” Gita adalah iklan-abadi untuk mempromosikan Yoga.

Inti dari Gita…….

BUKANLAH PENGHAFALAN AYAT-AYAT – Apalagi melombakannya seperti yang sering terjadi. Kita tidak perlu latah. Jika orang lain mengadakan lomba pembacaan ayat, maka kita pun ikutan, kita pun menyelenggarakan acara serupa. Untuk apa? Untuk menghabiskan dana? Itukah maksud Krsna? Itukah maksud Gita? Adakan Pesta-Gita-Gita Utsava atau Gita Yajna – semacam carnival, di mana kita dapat membahas, menghayati, berekspresi dengan Yoga. Hidup dalam Yoga. Dan, mempelajari pesan-pesan Gita.

Jangan memenuhi lapangan tempat Pesta-Pora Gita diadakan, dengan stall-stall, kedai-kedai yang menjual minuman dan makanan, seperti yang sering terjadi. Cukup 1-2 kedai untuk itu. Selebilmya, kedai-kedai menjual berbagai tafsir atas Gita. Koleksi saya yang amat sangat terbatas saja, setidaknya terdiri atas puluhan tafsir dan terjemahan. Kedai-kedai yang menjual CD/DVD, peralatan/perlengkapan Puja/ Yoga, dan sebagainya.

Di atas segalanya, setiap penunggu kedai mesti bisa menjelaskan tentang apa yang ditawarkannya — bagaimana dapat membantu seorang seeker, seorang pencari. Bukan sekadar menjual saja!

KEMBALI PADA AYAT – Berada dalam kesadaran Yoga berarti berada dalam keadaan Samadhi. Itulah ciri seorang Yogi. Tapi, jika Samadhi — keseimbangan diri — ditafsirkan sebagai “semedi”; duduk rapi bersila “saja”, maka bukanlah Yogi seperti itu yang dimaksud.

Beradalah dalam Samadhi senantiasa, jadilah seorang Yogi. Berani, senantiasa berupaya mempertahankan keseimbangan diri, kesadaran diri — sama dalam suka dan duka.

“Yoga-Yukta — berkelengkapan Yoga,” bersama Yoga; dalam Yoga, atau mengupayakan hidup dalam Yoga – jadilah Yoga-Yukta, biarlah Yoga mewarnai seluruh hidupmu!” Demikian nasihat Krsna.

 

Bhagavad Gita 8:28

“Demikian, seorang Yogi yang sadar akan Kebenaran Mutlak, niscaya mencapai Keadaan Tertinggi melebihi apa yang dapat dicapai lewat pendalaman kitab-kitab suci, tapa-brata, dan beramal saleh, atau berdana punia.” Bhagavad Gita 8:28

Bhagavad Gita 8:28

 

Gita adalah sebuah revolusi. Pesannya sangat revolusioner. Jika kita membacanya sekali saja, dan menghayatinya — maka jadilah kita seorang seperti Vivekananda, seperti Gandhi, seperti Soekarno!

JIKA GITA TIDAK MEMBAKAR SEMANGAT KITA – Dan, malah memisahkan kita dan kenyataan hidup, membuat kita menarik diri dari keramaian dunia dan menyepi di tengah hutan, maka kita belum membaca Gita, belum menghayatinya!

Gita mengajak kita untuk menjelajahi ruang semesta bebas dari segala macam sekat, tapi setelah itu Gita pun berseru supaya kebebasan yang kita raih itu digunakan untuk berkarya secara bebas.

Kebenaran Mutlak adalah Kebebasan Mutlak.

Menyadari kebenaran adalah menjadi bebas. Inilah tingkat Kesadaran Tertinggi yang tidak tercapai oleh tindakan lain mana pun. Setelah mencapai tingkat tertinggi inilah, manusia baru memahami kemanusiaan sekaligus keilahian dirinya. Kemanusiaannya membuat dia berempati dengan sesama makhluk sejagad raya. Keilahiannya mmembebaskan dia dari segala keterikatan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Tautan terkait sebelumnya:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/05/renungan-gita-jalur-terang-dan-gelap-kebebasan-dan-kelahiran-kembali-abadi-adanya-apa-mau-kita/

 

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s