Renungan Diri: Keterikatan Penyebab Penderitaan, Orang Bijak Melayani Siapa Saja Tanpa Keterikatan

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies), Bab Sara Samuccaya. Terjemahan dalam bahasa Sunda dan Inggris tidak dikutip.

 

Sara Samuccaya ayat 482

Yavatah kurute jantuh sambandhan manasah priyan,

tavanto’sya vidhiyante hrdaye sokasankavah

Whatever affectionate ties a creature creates, so many are the nails of

potential separation that are struck into the heart.

 

Setiap hubungan, setiap relasi yang dibangun dan dibina oleh seseorang

justru, menambah keterikatan; dan kemungkinan sakit hati,

ketika ia mesti berpisah dengan mereka yang dicintainya.

Sesungguhnya, adalah keterikatan yang menyebabkan penderitaan

Seorang bijak melayani siapa saja —termasuk keluarganya dengan

tanpa keterikatan. Demikian, ia terbebaskan dad penderitaan.

 

Sara Samuccaya ayat 483

Keterikatan adalah akar penderitaan mental/emosional (mind)

Adalah ketertarikan yang menciptakan keterikatan dan menyebabkan penderitaan

 

Sara Samuccaya ayat 484

Kesadaran mereka yang terikat dengan anak, pasangan, dan keluarga

adalah seperti seekor gajah tua yang jatuh ke dalam lubang penuh Iumpur.

Pengertiannya ialah, kendati sudah sadar pun,

sulit bagi seorang seperti itu untuk keluar dari lumpur keterikatan.

Memang mudah mengatakan hendaknya seorang mencintai dan melayani

sanak keluarga tanpa keterikatan. Namun, prakteknya tidak semudah itu.

 

Sara Samuccaya ayat 485

Racun keterikatan pada anak dan pasangan adalah sangat mujarab, tak terobati.

Racun ini bisa membingungkan dan menyebabkan kelahiran berulang-ulang.

Dalam arti kata, walau sudah menderita dalam satu masa kehidupan, seseorang tetap saja

Tidak dapat melepas keterikatannya yang menyebabkan kelahiran ulang baginya

Kemudian, dalam kehidupan berikutnya, lagi-lagi ia terjebak dalam keterikatan

dan menanam benih bagi kelahiran ulang lagi.

 

Sara Samuccaya ayat 486

Adalah sangat mudah bagi seseorang untuk tidak terikat

dengan kotoran dan cacing yang keluar dari badannya.

Namun, sangat sulit untuk membebaskan diri dari keterikatan pada seorang anak,

padahal ia pun keluar dari badan yang sama.

Visualisasi seperti ini mesti dipahami dan digunakan sebagai terapi, bukan untuk

membenci seorang anak dengan menyamakan dia dengan kotoran dan cacing;

tapi, untuk membebaskan diri dari keterikatan yang rnenyebabkan penderitaan.

 

Sara Samuccaya ayat 487

Di mana ada ketertarikan, di sana pula ada rasa takut —

takut ditolak, takut ditinggal, dan sebagainya.

Ketertarikan adalah wadah penderitaan; ia adalah akar segala duka

Bebas dari keterikatan, seseorang merasa lega.

 

Sara Samuccaya ayat 488

Bila kehendakmu sudah kuat, buddhi atau inteligensia sudah berfokus pada moksa,

kebebasan mutlak — maka, hendaknya tiada lagi kekhawatiran tentang keluarga,

atau apa yang terjadi tanpamu. Sesungguhnya, sudah berfokus pada moksa atau belum,

seseorang yang ber-buddhi, berinteligensia tidak pemah berpikir,

“Apa jadinya ketika aku tidak ada?” Pikiran seperti itu disebabkan oleh ego,

oleh sikap “Playing God” — seolah kita adalah Tuhan yang dapat mengurusi segala hal

Ada atau tidak adanya kita — dunia akan tetap ada.

Setiap anggota keluarga pun memiliki kehidupan masing-masing,

yang mesti mereka jalani sendiri.

 

Sara Samuccaya ayat 489

Setiap makhluk lahir sendiri; ia tumbuh menjadi besar sendiri.

Pun, karena perbuatannya sendiri ia mengalami suka-duka sepanjang hidupnya

Kemudian, ia mati sendiri pula — meninggalkan dunia ini seorang diri.

 

Sara Samuccaya ayat 490

Sebagaimana sebatang kayu yang terapung-apung di laut

bertemu dan bertabrakan dengan batang kayu yang lain, kemudian berpisah lagi

demikian pula pertemuan makhluk-makhluk di dunia ini.

Berarti, tiada pertemuan yang langgeng.

Pertemuan dan perpisahan adalah ibarat dua sisi kepingan uang logam.

Ada pertemuan, ada perpisahan; ada perpisahan, ada pertemuan.

 

Sara Samuccaya ayat 491

Sebab itu, hendaknya seseorang tidak terikat dengan anak, cucu, kawan, dan kerabat

Pada suatu ketika mesti berpisah dari mereka semua.

 

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

2 thoughts on “Renungan Diri: Keterikatan Penyebab Penderitaan, Orang Bijak Melayani Siapa Saja Tanpa Keterikatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s