Renungan Diri: Bayangkan Tangan-Nya di mana-mana! Yang mengelusmu, mendorongmu Dia? Masih Mengeluh?

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Tanya: Berarti meditasi itu betul-betul merupakan proses seumur hidup.

Jawab: Ya, betul sekali, kendati prosesnya tidak datar. Ada tahapan-tahapan yang harus kita lewati. Misalnya tahap menegasikan segala sesuatu, “Ini masih belum kesadaran. Ini pun belum….” Pada suatu ketika, itu akan membuat kita begitu bingung dan gelisah. Sebelum memasuki alam kesadaran, setiap orang harus melewati masa gelisah. Masa bingung. Biasanya, selama 6 bulanan.

Kegelisahan seperti inilah yang digambarkan dalam bab pertama Bhagavad Gita. Kebenaran itu apa sih? Bila ini bukan, itu pun bukan, maka apa sih Kebcnaran? Sementara belum sampai pada Kebenaran, apa pula yang harus kulakukan? Untuk apa hidup? Apa makna kehidupan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan menghantui anda. Dan selama berbulan-bulan…. Saat itu, anda harus bergulir terus. Jangan berhenti pada pertanyaan. Jangan pula mencari jawaban. Biarlah pertanyaan muncul dan lenyap dengan sendiri, karena pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari aku ilusif. Pada saat menguapnya aku-ilusif, pertanyaan pun lenyap.

Bila anda “berhenti” untuk mencari jawaban, aku ilusif akan memperoleh kekuatan. Dia akan bercabang. Kemudian menjawab pertanyaannya sendiri. Dan anda pun terjebak dalam permainannya, “Ah, jawaban ini datang dari Malaikat, dari ini, dari itu.”

Kebingungan dan kegelisahan harus dilewati, tidak perlu dihindari dan ditakuti. Yang patut jaga hanyalah satu, “kekhawatiran”. Jangan sampai khawatir, karena “kekhawatiran” selalu menyangkut masa lalu atau masa depan. Kekhawatiran adalah produk utama, produk unggulan mind.

Kegelisahan, kebingungan, dan kegerahan hanyalah sempalan mind. Semua itu terjadi dalam kekinian. Sulit membingungkan atau menggelisahkan masa lalu dan masa depan. Mengkhawatirkan, ya. Pahami perbedaannya. Lain kekhawatiran, lain pula kegelisahan, kebingungan, dan kegerahan.

Memang tidak semua orang bisa hidup tanpa kekhawatiran. Dan, anda pun tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Demikian hebatnya cengkeraman mind.

Gampang-gampang susah, ya… Padahal, bagi Manusia Jawa zaman dulu, hal ini bukanlah sesuatu yang sulit dicerna. Populernya istilah nrimo, nglakoni, dan sebagainya membuktikan hal itu.

Manusia Nusantara zaman dulu tidak pandai bicara tentang agama dan keagamaan, tetapi sangat pandai melakoni inti agama dan keagamaan. Cinta misalnya, tidak banyak dibicarakan, tetapi dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Mereka tidak membutuhkan Perintah dari Gusti Allah untuk saling mencintai. Cinta sudah mendarah-daging. Sudah menjadi bagian dari hidup mereka, budaya mereka, adat mereka.

Masih berkaitan dengan “menafikan segala sesuatu yang bukan ’Aku’, hingga menyadari kesatuanmu dengan ’Sang Aku’” pada suatu ketika Sathya Sai Baba sedang membahas soal cinta. Seorang bule yang duduk di atas kursi roda, mengajukan pertanyaan: “Tadi pagi, ketika antre di kantin, tiba-tiba ada yang mendorong saya dari belakang. Saya hampir terlempar jatuh. Baba, bagaimana saya mencintai orang seperti itu?”

Baba tersenyum, “Bagaimana kalau yang mendorongmu itu ‘aku’?”

Si Bule tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Itulah salah satu cara untuk menafikan kesadaran ilusif. Berupayalah untuk melihat Tangan-Nya di mana-mana. Yang mengelusmu Dia, yang mendorongmu pun Dia. Lalu, apa yang harus kau keluhkan? Kepada siapa engkau harus mengeluh?

Bila sulit melihat Tangan Dia yang memang tak terlihat, jadikan gurumu sebagai katalisator. Lihatlah tangan gurumu di balik setiap peristiwa. Dan egomu, ke-“aku”-anmu akan terkikis habis.

Kita takut neraka. Kita pikir neraka dikuasai iblis, sedangkan surga dikuasai Allah. Lain cara berpikir kita, lain pula cara berpikir seorang Rumi. Bagi Rumi neraka adalah wujud cinta-kasih Allah.

Bagi Rumi, neraka ibarat hamam tempat pemandian. Di neraka itulah, manusia memperoleh kesempatan untuk membersihkan diri. Neraka bukanlah kutukan, terapi berkah.

Setiap hari, lewat setiap buku, saya membicarakan hal yang sama. Kesadaran dan Kasih—itu saja yang saya bicarakan. Tak ada hal lain. Tak ada agenda lain. Just one. Agenda tunggal saya, ya itu…. Walau Kesadaran dan Kasih adalah dua kata, sesungguhnya sinonim. Kesadaran akan memicu Kasih. Kasih akan membuatmu sadar.

Saya meminjam sekian banyak mulut untuk memukul “batu mind”. Pukul terus sampai pecah. Ada yang sudah sering kena pukulan sebelumnya, maka saya baru memukulnya satu kali saja dia sudah pecah.

Ada yang belum pernah kena pukulan, maka saya harus memukulnya berulang kali. Puluhan, bahkan ratusan kali. Tidak ada jalan lain. Setiap kata yang saya ucapkan, setiap buku yang saya tulis bagaikan pukulan palu.

Beberapa waktu yang lalu, berbagai media habis-habisan menghujat “saya”. Dan, terus-terang saya pun sempat kegerahan. Sempat berpikir, dengan segala hormat terhadap para kritikus yang menyandang sekian banyak gelar itu, apa sih mau mereka? Ada apa sih di balik serangan-serangan mereka? Tega-teganya mereka melakukan hal itu atas nama agama yang “mendamaikan”. Asas kedamaian apa yang saya langgar? Selama 1-2 jam, saya pun sempat bingung. Tiba-tiba ada yang menyubiti saya… “Sakit, sakit, sakit…” Saya mengeluh.

Dan, Sang Pencubit bertanya: “Yang sakit siapa?“

Aku tidak bisa menjawab. Siapa ya?

Saat itu juga, saya sadar kembali bahwa yang sakit hanyalah “aku ilusif”. Sang Aku tak pernah sakit. Kemudian kesadaran itu pula yang mendorong saya untuk membalas setiap serangan dengan kasih, dengan mengulurkan tangan persahabatan, dengan menambah silaturahmi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s