Renungan Diri: Alam Tidak Terpisah, Sistem Pendidikan Mengajarkan Perpisahan Meracuni Otak Anak?

buku neo spirituality

Cover Buku Neospirituality Neoscience

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Manipulasi Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, kedua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting-insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehiclupan. Sedangkan bagian Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di “manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orangtua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat.

Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun.

 

Manipulasi Positif

Adalah pendidikan yang bersifat menambah dan memperluas wawasan. Pendidikan yang membebaskan dan memajukan. Pendidikan yang berlandaskan budi pekerti seperti yang pernah kita peroleh tempo doeloe. Pendidikan yang berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Ajaran yang menciptakan kedamaian dalam hati, mengembangkan cinta dalam diri dan menunjang keharmonisan dengan alam dan antara sesama makhluk hidup inilah yang disebut manipulasi positif.

Secara singkat, tiga kalimat  bawah ini menjelaskan muatan manipulasi positif dalam otak manusia:

  1. Heart that Beats for World Peace: Hati (bukan jantung, tetapi psikis/jiwa) yang Berdetak untuk Kedamaian Dunia. Bukan sekadar kedamaian diri, bukan pula kedamaian keluarga atau kelompok tertentu. Bukan kedamaian golongan atau umat tertentu, tetapi kedamaian dunia.
  2. Life that Expresses Love: Hidup yang Mengekspresikan Cinta-Kasih. Bukan cinta terhadap sesuatu, atau seseorang atau sekeIompok orang saja. Bukan pula cinta terhadap dunia, tata surya, atau bahkan alam semesta, tetapi cinta saja, titik. Berarti, siapa pun jua yang berhubungan dengan kita menerima luapan cinta kita, kasih kita. Siapa pun dia, termasuk mereka yang barangkali tidak setuju dengan kita atau bahkan menjelek-jelekkan atau memusuhi kita.
  3. Thoughts, Speech and Words, which are Harmonious: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan yang Selaras. Berarti yang kita ucapkan dan yang kita lakukan sesuai dengan pikiran kita. ttidak berpura-pura, tidak munafik. Kita tidak menipu orang dengan memperlihatkan wajah palsu atau senyuman plastik. Ini juga berarti bila pikiran, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan alam semesta. Kita tidak mencelakakan siapa pun, termasuk lingkungan hidup, dengan pikiran, ucapan, serta tindakan kita.

 

Peace, Love, and Harmony—Kedamaian, Kasih-Sayang (Cinta Sejati), dan Keselarasan (Harmoni)—inilah tolok ukur manipulasi yang positif dan berguna bagi hidup.

 

Manipulasi Negatif

Sungguh patut disayangkan bahwa saat ini lebih banyak manipulasi negatif yang terjadi/dilakukan terhadap otak anak-anak kita. Hal ini dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja karena kcbodohan dan ketidaktahuan. Sistem pendidikan yang mengajarkan perpisahan, entah karena agama, suku, ras, bahasa, status sosial, warna kulit dan sebagainya memberi muatan negatif pada otak anak-anak kita. Pendidikan yang memisahkan adalah pendidikan yang tidak sesuai dengan kinerja alam. Karena alam ini tidak terpisah-pisah. Alam merupakan satu kesatuan.

 

Anthony de Mello (1931-1987), seorang rohaniwan sejati, pernah berkelakar, “Suatu ketika saya berada dalam pesawat dan saat itu kami sedang melintasi perbatasan Amerika Serikat dengan Kanada. Kemudian terdengar suara pilot dari cockpit, ‘Bila Anda melihat lewat jendela sebelah kiri, saat ini kita sedang berada persis di atas perbatasan Amerika Serikat dan Kanada.“ Kemudian Romo Tony (demikian panggilan akrab beliau) melanjutkan, “Saya pun berusaha melihat ke bawah lewat jendela. Ternyata saya tidak melihat perbatasan itu.”

Perbatasan adalah buatan manusia. Bila kita berada di darat, kita bisa melihat perbatasan. Barangkali ada Pos Imigrasi dan Bea Cukai buatan manusia. Namun dari ketinggian, batas tersebut tak terlihat lagi. Apa maksudnya? Pendidikan yang memecah-belah adalah pendidikan yang bermuatan negatif. Bila anak-anak kita diberi pendidikan seperti itu maka celakalah mereka. Dan celakalah masa depan bangsa, maupun dunia.

Sayangnya, pendidikan seperti inilah yang saat ini diperoleh anak-anak kita. Pendidikan yang melemahkan dan merusak kemanusiaan diajarkan melalui nilai-nilai yang sempit. Bukannya memahami diri sebagai sesama manusia, anak-anak kita saat ini justru memperoleh pelajaran yang memisahkan mereka, sesama anak bangsa, atas dasar agama dan sebagainya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Tautan terkait sebelumnya: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/04/renungan-diri-otak-alat-sempurna-evolusi-mental-guna-peningkatan-kesadaran-spiritual/

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan Diri: Alam Tidak Terpisah, Sistem Pendidikan Mengajarkan Perpisahan Meracuni Otak Anak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s