Renungan Diri: Menari di Pasar Dunia, Ikut Gerombolan Massa, Lupa Lahir Sebagai Manusia Bebas

buku kearifan mistisisme

Cover Buku Kearifan Mistisisme

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Kita semua, tanpa kecuali, sudah terbiasa…….

Mengikuti Kehendak Dunia. Ada yang menyuruh kita memakai sepatu. Kita menengok ke kanan dan kiri, ternyata semua orang memakai sepatu. Maka kita pun ikut memakai sepatu. Bukan karena kemauan atau keinginan kita, tetapi karena terpengaruh oleh kebiasaan umum. Setiap orang berkerudung, maka kita pun ikut berkerudung, tanpa mencari tahu untuk apa berkerudung. Dan, kalau tidak berkerudung, maka untuk apa pula?

Tidak ada yang salah dengan sepatu Ravidas dan kerudung Mira. Tidak, tidak ada yang salah. Yang salah adalah seorang melakukan sesuatu hanya karena mayoritas atau orang melakukan. “Masak mereka semua salah?”

Ya, mereka semua “bisa” salah. Jumlah tidak membuktikan kebenaran.Jumlah tidak menjamin keabsahan sesuatu. Kiranya itulah pelajaran yang diperoleh Mira dari Ravidas:

Be Yourself – Jadilah Dirimu Sendiri. Dunia ini memang “luar biasa”. Ketika Anda rnenjadi “biasa”, maka sudah pasti dimusuhi oleh orang-orang yang merasa “luar biasa”! Dengarlah Mira……

“Sungguh ajaib suratan takdir!

Kijang bermata lebar, cantik pula, mesti berkeliaran di hutan mencari

makanan dan perlindungan…

“Burung bangau bertabiat keras berbulu putih dan tekukur bersuara merdu — hitam warnanya;

Sungguh ajaib suratan takdir!

“Sejernih apa pun air sungai rnenjadi asin ketika bertemu dengan laut;

si bodoh berkuasa, si bijak mengemis;

Sungguh ajaib suratan takdir;

“Para panembah selalu teraniaya oleh penguasa zalim yang berkuasa,

demikian pula dengan Mira;

Sungguh ajaib suratan takdir…”

Apakah seorang panembah seperti Mira mesti berhenti menari dan menyanyi karena tarian dan nyanyiannya tidak disukai oleh pihak penguasa? Tidak. Mira tidak pemah berhenti menari dan menyanyi. Persis seperti Ravidas, ia pun merasa kasihan terhadap mereka yang telah berhenti menari dan meyanyi. Ia rnengasihani mereka yang terpaksa menerima “pemberhentian” yang dipaksakan seperti itu.

Ada Kalanya Kita Melihat Para Penari di Pasar Dunia. Mereka yang mengikuti irama dunia dan keduniawian sesungguhnya hanya tampak menari. Mereka tidak menari. Mereka telah berhenti menari.

Seorang penari tidak bisa menari di “satu tempat”. Ia tidak bisa menari di pasar dunia saja. Ia tidak bisa menari di satu planet saja. Ia tidak bisa menari terus dalam satu tingkat kesadaran.

Tarian seorang Mira atau Bulleh, nyanyian seorang Ravidas atau Tulasidas mengantar mereka ke dimensi-dimensi lain. Mereka sedang menari bersama bulan, bintang, matahari, dan planet-planet serta galaksi-galaksi lainnya.Tarian para Mira, Bulleh, dan Ravidas adalah tarian lintas batas, lintas planet, lintas galaksi, lintas alam. Anda tidak bisa membatasi gerak mereka. Anda tidak bisa mengharapkan mereka menari di pasar dunia saja.

Kita sedang Menari di Pasar Dunia. Kita sedang mengikuti permintaan pasar. Kita tidak menggunakan kebebasan yang kita miliki. Lama-lama kita pun lupa bahwa kita dilahirkan sebagai manusia bebas, sebagai Jiwa merdeka.

Kita mengikuti kemauan massa. Kesadaran kita adalah kesadaran gerombolan — mob consciousness. Kita semua telah menjadi korban kesadaran palsu dan semu. Jati diri telah terlupakan. Kebebasan diri dan kemerdekaan Jiwa terinjak-injak di bawah kaki kita sendiri. Sungguh memilukan!

Kita mewarnai diri kita dengan warna dunia. Kita konformis. Sewaktu-waktu kita dapat menggadaikan kemerdekaan Jiwa demi kenyamanan raga. Bahkan bisa menjual kebebasan diri demi kedudukan semu. Tidak demikian dcngan Mira.

“Warnailah Bajuku dengan Warna-Mu…..”

 

“Warnailah bajuku dengan warna-Mu,

warna yang tak Iuntur, walau dicuci berulang kali..

“Bukan merah, bukan pula hijau,

warnailah bajuku dengan warna-Mu…”

Warna merah, hijau, dan sebagainya adalah warna-warna dunia. Mira tidak berkepentingan dengan warna-warna dunia. Mira menginginkan bajunya—raga dan Jiwanya—diwarnai dengan warna-Nya, karena hanyalah warna-Nya yang tidak pernah Iuntur. Hanya warna-Nya yang bertahan terhadap segala cuaca dan bertahan untuk selamanya.

“Warna yang Tak Luntur, walau Dicuci Berulang kali.” Mira mendambakan warna yang tidak terpengaruh oleh siklus kelahiran dan kcmatian. Lahir, mati, lahir, mati—biarlah siklus kelahiran dan kematian terulang berkali-kali, tetapi cinta untuk-Mu, tetap sama. Demikian permintaan Mira. Demikian permohonan seorang panembah.

Mira tidak puas dengan warna-warni dunia. Ia tidak terpengaruh oleh kegemerlapan dunia. Ia telah meninggalkan istana demi cintanya. Sementara itu, kita masih:

Mencari Keseimbangan antara Dunia dan Pangeran. Bagi seorang yang mengaku sebagai “rohaniwan” pun, kegilaan cinta Mira sungguh sangat membingungkan, “Kita tidak bisa seperti itu. Kita mesti menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Urusan sini dan urusan sana.” Ya, itulah kita. Lain kita,lain Mira.

Kita masih hidup clalam kesirikan. Kita masih hidup dalam dualitas. Kita menduakan Gusti Pangeran. Kita menempatkan dunia “kita” sejajar dengan-Nya. Kira menempatkan urusan“kita” di atas panggung hati, panggung nurani, yang sesungguhnya adalah tempat-Nya bersemayam. Kita menggusur Dia dan menempatkan kepentingan-kepentingan diri yang picik di atas panggung nurani. Sebab itu, memang sulit memahami Mira. Tapi, sekali memahami Mira, kita menjadi Mira. Memahami Mira berarti menyatu dalam kegilaannya. Siapkah kita?

Mira adalah Seorang Pemberontak Rohani. Seorang pemberontak rohani melakukan pemberontakan terhadap segala sesuatu yang menciptakan dualitas, yang memisahkan manusia dari manusia dan manusia dari Gusti Pangeran; yang menciptakan perbedaan kelas dengan membangun sekat-sekat pemisah.

Ravidas pun demikian. Bahkan dalam salah satu syairnya, yang kemudian dijadikan bagian dari Guru Granth Sahib, kitab suci umat Sikh (baca juga Alpha dun Omega Japji bagi Orang Modern oleh penulis yang sama, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama — Ed.), Sant Ravidas mengupayakan perubahan sistem secara nyata. Ia membayangkan sebuah negara ideal dan masyarakat beradab, yang warganya saling menghormati. Tiada lagi perbedaan antara pemeluk kepercayaan A dan B. Tiada lagi pertikaian atas nama kepercayaan dan keyakinan, yang kemudian ditutup-tutupi dengan berbagai dalih dan dalil.

Ravidas menyebut Negeri Impiannya itu sebagai….. Begampura:Negeri Tanpa Duka (halaman 137 buku Kearifan Mistisisme)

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s