Renungan Diri: Nyaman tak Nyaman, Mesti Melewati Segala Pengalaman Hidup Tak Bisa Menghindari

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies), Bab Sara Samuccaya. Terjemahan dalam bahasa Sunda dan Inggris tidak dikutip.

 

Sara Samuccaya 502

sukham ca duhkham ca bhavabhavau ca labhalabhau maranam jivitamca

paryyayatah sarvva eva-visanti tasmaddhiro naiva tapyenna hrsyet

 

Happiness and sorrow, being and non-being, gain and loss, life and death affect all, turn by turn.

Let the wise be ever equiposed, neither disheartened by sorrow, nor overtly exalted by happiness.

 

Setiap orang secara bergiliran, bergantian — mesti melalui pengalaman suka dan duka;

ada dan tidak ada atau punya dan tidak punya; untung-rugi; lahir-mati; dan sebagainya.

Dengan menyadari hal ini, hendaknya seorang bijak senantiasa menjaga keseimbangan diri.

Tidak terlampau bahagia saat mengalami suka,

dan tidak tenggelam dalam duka-derita saat keadaan tidak menguntungkan.

 

Sara Samuccaya 503

Saat diberkahi dengan pengalaman suka,

hendaknya seseorang bersyukur dan menghargainya, tidak menyia-nyiakannya.

Misalnya, saat mudah-rejeki, hendaknya seseorang tidak menghamburkan uang,

dan menggunakannya untuk segala hal yang bersifat mulia serta menabung.

Saat berada dalam kesulitan, hendaknya ia tabah dan menghadapi segala tantangan

Belajarlah dari para petani yang menghadapi segala tantangan cuaca

dengan penuh semangat dan kesiapsediaan.

 

Sara Samuccaya 504

Nyaman atau tidak nyaman, seseorang tetaplah mesti melewati segala pengalaman hidup.

Tidak ada yang dapat menghindarinya.

 

Sara Samuccaya 505

Duka menyusul suka. Suka menyusul duka.

Demikian keduanya mengunjungi manusia secara bergiliran.

Persis seperti jari-jari roda — yang berada di atas saat ini, akan berada di bawah

Dan, yang berada di bawah saat ini, sesaat lagi akan berada di atas.

Pengertiannya, seseorang yang berkuasa saat ini, sesaat lagi akan kehilangan kekuasaannya.

Dan seseorang yang berhamba saat ini, sesaat lagi bisa menjadi hartawan, berkuasa dan mempin.

Sebab itu, hendaknya kita selalu eling, waspada, sadar. Tidak sombong, tidak angkuh.

 

Sara Samuccaya 506

Seorang bijak yang berinteligensia, berkesadaran tinggi, tidak bodoh —

tak pemah melambung saat mengalami suka, dan tidak pernah menciut saat mengalami duka.

Baginya, jatuh-bangun adalah pengalaman yang silih berganti,

dan mesti diterima, dihadapi dengan penuh ketabahan.

 

Sara Samuccaya 507

Hendaknya seseorang tidak bersikap kekanak-kanakan.

Pengertiannya ialah, tidak cengengesan saat suka dan tidak cengeng saat duka.

Segala macam derita mental/emosional dapat diatasi dengan kesadaran akan

tidak kekalnya pengalaman suka maupun duka (meditasi dan sebagainya); dan

penyakit fisik mesti diatasi dengan obat. Inilah tuntutan kebijaksanaan.

 

Sara Samuccaya 508

Sesungguhnya, pikiran yang kacau, perasaan yang tidak enak, memengaruhi

badan atau fisik manusia, sebagaimana bola besi yang panas di dalam tempat berisikan air.

Pengertiarmya, air dalam tempat ikut mendidih, atau setidaknya menjadi panas.

 

Sara Samuccaya 509

Sebab itu, tenangkanlah pikiran, perasaanmu;

atasilah segala duka mental/emosional dengan kebij aksanaan, dengan kesadaran —

sebagaimana memadamkan api dengan siraman air.

Ketika gugusan pikiran dan perasaan (mind) menjadi tenang, badan pun ikut menjadi sehat.

 

Sara Samuccaya 510

Mereka yang telah menemukan, menguasai inti kebijaksanaan dan

prajna dan buddhi — terbebaskan dari penderitaan yang disebabkan oleh keriput dan uban.

Bahkan, tiada lagi kelahiran ulang bagi mereka.

Pengertiannya adalah, seseorang yang sadar akan hakikat dirinya sebagai Jiwa yang kekal abadi

dan ketidakkekalan dunia benda – tidak terpengaruh oleh segala fenomena fisik

dan perubahan-perubahan seperti bertambahnya uban atau keriput sejalan dengan usia.

Kesadaran Jiwa membebaskan manusia dari segala keterbatasan raga.

 

Sara Samuccaya 511

Ketika gugusan pikiran dan perasaan (mind) tidak terganggu oleh musibah/bencana;

ketika tiada lagi kerinduan untuk pengalaman-pengalaman suka atau kenikmatan duniawi;

ketika rasa takut dan marah telah lenyap, teratasi, terlampaui —

maka seseorang disebut Muni, seorang Bijak,

yang telah berhasil menghentikan gejolak gugusan pikiran dan perasaan (mind).

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s