Renungan #Yoga Patanjali: Siddhi Kekuatan Supernatural, Bawaan Lahir, Terapi, Afirmasi dan Mantra

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

janma-osadhi-mantra—tapas-samadhi-jah siddhayah

 

“Siddhi, beragam kekuatan-kekuatan natural dan supernatural,

dan/atau excellence, kesempurnaan dalam berbagai bidang,

adalah hasil dari kelahiran (dalam keluarga dan di lingkungan

yang menunjang hal itu—ini yang biasa disebut potensi bawaan);

osadhi atau rempah-rempah dan tumbuhan-tumbuhan (yang

digunakan sebagai obat untuk memperbaiki berbagai dosa,

kekurangan, kelemahan, dan kesalahan dalam diri seseorang, yang

dapat memengaruhi karakter dan sikapnya terhadap hidup dan

kehidupan); mantra atau afirmasi (untuk mengingatkan diri akan

kekuatan dan potensi-diri); tapa atau disiplin-diri;

atau samadhi, pencerahan.”

Banyak opsi, banyak pilihan.

Tinggal memilih mau mengumpulkan siddhi – dalam konteks ini kekuatan, kesaktian natural, alami, dan atau supernatural.

 

PERTANYAANNYA, APAKAH ITU YANG MENJADI TUJUAN KITA? pertanyaan tersebut mesti dijawab sendiri. Perhatikan gaya Patanjali. Bab terakhir ini pun diawalinya dengan memberi kita pilihan, mau kita apa.

Jangan lupa pula segala cara, semua cara yang diurutnya, dirangkumnya dalam sutra ini bisa juga mengantar kita pada kaivalya—the suchness – , jika kita tidak berhenti pada tahap pengumpulan siddhi saja.

Perhatikan urutan siddhi.

Pertama adalah yang kita raih sebagai sifat bawaan. Ini yang sekarang banyak dibicarakan, diramaikan, dibahas. Anak-anak dengan kekuatan-kekuatan yang “dianggap” supernatural yang disebut indigo, crystal children, dan seterusnya.

Sekali waktu Hola bertemu dengan seorang anak indigo, dan langsung saja ia memperkenalkan diri, “Hi, little brother, remember me, your elder brother?”—masih ingat saya Dik, kakakmu?

Sang Indigo-Child bingung.

Ia mesti mengakses database-nya untuk mencari file Hola, ternyata tidak ketemu juga.

Hola mendeteksi dilemanya, “Jangan gelisah Dik, tidak perlu mencari data segala. Kita sama-sama indigo.”

Anak itu berontak, ia merasa ke-indigo-annya tersaingi, “Ah, kamu berkhayal saja. Aku bisa melihat kamu bukan indigo. Tidak ada ciri-ciri indigo dalam dirimu.”

SEORANG PSIKOLOG YANG MENJADI AGEN SANG INDIGO CHILD IKUT KEGERAHAN, “Untuk menyatakan diri sebagai Indigo Child, Anda harus menjalani berbagai tes, setelah lulus, baru…”

Hola memotongnya, “Tes untuk apa? Aku memiliki Akta Kelahiran. Bahkan Paspor dan Kartu Pendudukku, semua menjadi bukti ke-indigo-anku.”

Wah celaka, pikir Sang Psikolog, orang ini gila, sampai bisa memengaruhi penguasa untuk menjadi saksi akan ke-indigo-annya dengan mencantumkan di dokumen-dokumen resmi.

Tapi kemudian, dalam sekejap, ia tercerahkan kembali, “Bukti, apa buktinya, mana buktinya? Coba aku lihat KTP-mu.”

“Silakan,” spontan Hola mengeluarkan KTP-nya. “Silakan periksa sendiri.”

Sang Psikolog memeriksa, si Indigo Child pun ikut melirik. Kemudian, mereka berdua menarik napas panjang, lega, “Candaanmu bagus juga, Bung. KTP-mu ini jelas menyebutkan kamu lahir di India.”

“Ya, memang betul.”

“Di mana indigo-nya?”

“Ya itu…kalian tahu nggak sih arti indigo‘?

“Indigo itu berarti ‘dari India’. Coba buka kamus. Aku dari India, ya, indigo.”

Memang demikian adanya.

Indigo berarti “dari India”, dari Hindia, Indies, Indo. Jadi, saya dan Anda yang lahir di Indonesia pun—semua, tanpa kecuali—boleh menyebut diri sebagai Indigo Child. Secara teknis, tidak salah.

Kembali pada sutra.

 

SETIAP ANAK LAHIR DENGAN SIFAT-SIFAT BAWAAN—yang dijelaskan secara apik dalam Bhagavad Gita. Sifat bawaan ini dapat dibagi dalam 2 Kelompok Besar: Kelompok Asuri atau Syaitani, dan Daivi atau Ilahi, Mulia.

Nah, terkait dengan dua sifat itulah, setiap potensi-bawaan bisa menjadi destruktif, bisa juga menjadi kreatif.

Siddhi atau potensi-potensi bawaan memang tidak sejenis dan seragam dalam diri setiap anak yang lahir. Ada anak yang berbakat dalam musik atau seni lainnya. Ada yang berbakat dalam bidang sains. Ada yang sejak kecil tertarik dengan segala hal yang terkait dengan spiritualitas. Ada juga yang sejak kecil sudah memiliki sifat untuk berdagang.

Sifat-sifat bawaan ini ada yang menyebutnya natural ada pula yang menyebutnya supernatural. Padahal, tentang supernatural pun, sesungguhnya masih dalam kerangka besar prakrti, pradhana, kebendaan, alam-benda, kebendaan – apa pun sebutannya.

 

MASTER LAHIR DENGAN KEMAMPUAN YANG DISEBUT MIRACULOUS, bahkan beliau dijuluki sebagai Man of Miracles. Lalu, apa kata beliau tentang mukjizat-mukjizat yang “terjadi” di sekitarnya? Beliau menyebutnya sesuatu yang natural, alami. Segala apa yang terjadi, tercipta dari apa yang tampak sebagai “tangan kosong” atau dari “udara”, sesungghnya tetap memanfaatkan elemen-elemen alami dan cela-cela dalam hukum alam – kita sebut “cela” karena belum dapat menafsirkannya.

Miracles atau mukjizat pun terjadi dalam alam-benda, maka apa kata Master memang sudah tepat, yaitu semua masih materi, benda, kebendaan, prakrti.

Selanjutnya adalah

 

SIDDHI YANG DIPEROLEH BERKAT OSADHI ATAU RAMUAN dari rempah-rempah, dari tumbuhan. Kata “usada” atau “husada” berasal dari osadhi. Tujuannya adalah menyembuhkan, memperbaiki gangguan-gangguan dalam tubuh sehingga kita dapat bekerja secara optimal.

Ada juga rempah-rempah dan tumbuhan yang membantu perbaikan kinerja kelenjar-kelenjar, seperti pineal, pituitary, dan sebagainya. Kelenjar-kelenjar ini terkait dengan relaksasi dan meditasi. Mereka yang supergelisah, pikirannya sangat kacau, ada kala membutuhkan terapi untuk mencapai excellence, kesempumaan dalam bidangnya.

 

BERIKUTNYA ADALAH TENTANG MANFAAT MANTRA ATAU AFIRMASI. Seseorang yang sejak kecil dicekoki dengan doktrin bahwa dirinya adalah manusia berdosa, tumbuh menjadi minder, tidak percaya diri.

Afirmasi sangat berguna untuk meng-counter, membalikkan pengaruh afirmasi negatif sebelumnya. Afirmasi negatif, seperti “aku berdosa” bisa diperbaiki dengan afirmasi positif, seperti “aku bertanggung jawab atas segala perbuatanku; aku dapat mengubah sikapku, perbuatanku, sehingga berakibat baik bagi diriku dan setiap orang di sekitarku;” dan sebagainya, dan seterusnya.

Mantra-mantra dalam bahasa Sanskrit sesungguhnya adalah afirmasi, bukan mumbo-jumbo klenik. Karena tidak paham, makn terjadilah salah paham.

Misalnya:

– Om Gam Ganapataye Namah adalah afirmasi untuk membangkitkan unsur Ganesa atau kebijaksanaan serta daya-kepemimpinan di dalam diri; semangat pantang-mundur; keberanian untuk menghadapi segala rintangan, dan sebagainya;

– Om Sarasvataye Namah adalah afirmasi untuk membangkitkan aspek sains dan seni dalam diri kita;

– Om Laksmiye Namah adalah afirmasi untuk membangkitkan semangat entrepreneur, semangat kewirausahaan;

– Om Durgaye Namah untuk keberanian; dan sebagainya.

 

KEMUDIAN SIDDHI SEBAGAI HASIL DARI TAPA, berarti kesempurnaan yang diraih berkat disiplin-diri. Saya rasa tidak perlu dibahas lagi. Setiap orang yang disiplin, sudah pasti berhasil, sudah pasti sukses.

Terakhir…..

 

SIDDHI HASIL SAMADHI, inilah yang kelak mengantarkan kita pada kaivalya—the suchness.

Namun dalam perjalanan menuju keadaan super yang terjelaskan itu, setiap siddhi, setiap kesempurnaan yang diraih dengan cara apa pun dan di bidang apa pun, sudah pasti memiliki sisi negatif. Sisi negatif yang disebabkan oleh gugusan pikiran serta perasaan kita sendiri, oleh mind kita sendiri.

Contoh yang paling umum: Seseorang yang berhasil menjadi kaya raya, jika tidak menjaga diri, niscayalah ia menjadi korban egonya sendiri, keangkuhannya sendiri.

“Aku kaya, aku berhasil karena kerja kerasku sendiri, upayaku sendiri.” Kalimat itu, walau “mungkin” benar, tidak patut diucapkan. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu, kita memberikan bahan bakar kepada ego. Sebab itu, berhati-hatilah selalu.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s