Renungan Diri: Sekapur Sirih dari buku Tattva Sang Hyang Mahajnana

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

“Mimpi seorang fisikawan adalah pencarian jawaban-jawaban terakhir

yang menuntun pada kesimpulan yang sederhana, unik, dan mutlak.

Idealnya, teori final… seharusnya demikian karena

memang tidak ada kemungkinan lain…

Singkatnya, teori final ini akan merjadi surga unified-theory.”

Brian Greene (b. 1963)

Fisikawan, “The Elegant Universe ”

 

Bukan hanya fisikawan, sebagaimana dikutip dari buku yang sama, Brian Greene menambahkan:

“Kita semua, dengan cara masing-masing,

merupakan pencari kebenaran dan

kita masing-masing merindukan sebuah jawaban mengapa kita ada di sini.”

 

PARA RESI DAN PENCARI, PARA ILMUWAN JIWA dari Peradaban Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Indo harus bekerja keras dan bereksperimen dalam waktu yang sangat lama untuk akhimya sampai pada kesimpulan bahwa fisika, ilmu tentang materi dan keberadaan material; dan keberadaan material ini adalah berlandaskan pada prinsip dualitas. Oleh karenanya, mereka melanjutkan pencarian mereka, eksperimen mereka pada tataran lain — pada tataran mental/emosional dan intelektual.

Seiring berkembangnya intelek mereka, mereka menemukan bahwa bahkan melampaui ranah Intelegensia, ada ranah lain – ranah spirit, ranah ruh yang mereka simpulkan adalah Ranah Kesatuan, Ranah Kemanunggalan, Ranah yang “Demikian Adanya” — Kaivalyapada.

  1. SUDARSHANA DEVI SINGHAL, bunga lain dalam taman Prof. Dr. Raghu Vira dari International Academy of Indian Culture, telah berjasa besar dengan berbagi dengan dunia kebijaksanaan kuno yang telah terlupakan dari Dvipantara, yang dikenal sekarang sebagai Kepulauan Indonesia.

Kita telah membahas dalam kata pengantar untuk Sara-Samuccaya, Slokantara, dan Sevaka Dharma (Dvipantara Dharma Sastra, 2015); sungguh suatu tantangan hebat bagi Prof. Raghu Vira dan timnya yang sangat mengagumkan, termasuk Dr. Singhal yang merupakan salah satu anggotanya, untuk merekonstruksi isi dari manuskrip yang telah rusak. Thank you, Sir. Thank you, Madam.

Sara-Samuccaya, Slokantara, dan dua naskah yang dihadirkan di sini, sampai hari ini dihormati sebagai pustaka mulia oleh penduduk asli pulau Bali.

Fakta bahwa kitab-kitab ini aslinya ditulis dalam bahasa Sanskrit oleh para bijak, para resi, yang jelas-jelas merupakan penduduk asli dari kepulauan ini – kemungkinan besar orang-orang Jawa — telah menambah nilai dan makna pentingnya, terutama bagi para penduduk Bali, ahli waris peninggalan dan kebijaksanaan kuno Dvipantara atau Kepulauan Indonesia.

 

MEMBACA ULANG NASKAH-NASKAH SEPERTI INI, kita tidak bisa tidak menyimpuIkan bahwa keseluruhan wilayah ini, sebagaimana diakui oleh Sejarawan Besar Arab, Al-Biruni (973 – 1048) dalam magnum opus-nya “Tarikh Al-Hind” (“Sejarah India” atau lebih dikenal sebagai “Indica”) sesungguhnya adalah bagian dari peradaban yang satu dan sama — peradaban yang sekarang disebut sebagai Peradaban Lembah Indus.

Sindhu dalam bahasa asli Sanskrit, pertama kali disebut oleh para pelancong Cina sebagai Shintu, kemudian Intu – dilafalkan sebagai Hindu oleh para Arab dan Persia. Portugis menyebutnya Indies, dan Inggris serta Belanda menciptakan kata India dan Indo.

 

PERADABAN SINDHU INI TELAH MELAHIRKAN berbagai filosofi, agama, dan sistem kepercayaan. Beberapa  di antaranya adalah…

Rta atau Sanatana Dharma — sebuah cara hidup berdasarkan Prinsip-Prinsip Kebajikan, sekarang digunakan untuk merujuk pada Agama Hindu — mungkin adalah filosofi tertua yang “terdokumentasikan” tentang kehidupan.

Sangha atau Komunitas yang didirikan Buddha — eksperimen skala besar pertama tentang kehidupan komunal — juga didasarkan pada Dharma, nilai-nilai kebajikan.

Filosofi Jain, Panth atau Jalan Sikh — ini adalah yang populer. Sesungguhnya masih ada beberapa yang Iain — yang masih hidup dan terus berkembang, yang menjadikan Peradaban Lembah Sindhu atau Indus sebagai satu-satunya peradaban kuno yang masih bertahan.

 

KITAB YANG BERADA DI TANGAN ANDA, KAWAN, adalah hadiah dari peradaban tersebut. Kitab-kitab ini mengundang Anda, mengundang kita semua untuk merayakan Kesatuan, Realitas Tunggal, dan pada saat yang sama juga mengakui dan mengapresiasi perbedaan luaran yang tampak jelas.

Kitab-kitab ini membawa kita melampaui gagasan populer, ide populer tentang “Persatuan dalam Perbedaan” — mereka mengajarkan kita bahwa di inti segala hal, hanya ada Satu Kebenaran. Perbedaan-perbedaan yang kita lihat hanyalah manifestasi dari Kebenaran yang Satu itu.

Saya merasa terberkahi dengan kesempatan yang diberikan oleh Bunda Ilahi, Gusti Semesta, untuk berbagi transkreasi yang didasarkan pada Naskah Asli dalam bahasa Sanskrit.

Semoga kita semua diterangi oleh tulisan ini, demikianlah doa sederhana saya,

Anand Krishna

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s