Renungan Diri: Antara Michel Jackson dan Beatles, Memilih Jenis Musik bagi Penunjang Kesadaran

buku kearifan mistisisme

Cover Buku Kearifan Mistisisme

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

“Guyuran DMT saat kematian menentukan perjalanan ruh selanjutnya. Jadi bukan urusan kehidupan ini saja, tetapi juga kehidupan berikutnya.”

Ketika roh melepaskan badan tanpa rasa sakit, tidak ada energi yang terboroskan, dan ia — roh — dapat berpikir secara jemih. Ia dapat menentukan sendiri apakah perlu lahir kembali, tidak, atau belum. Jika ya, maka di mana, tujuannya apa, pelajaran baru apa saja yang ingin dipelajarinya.

Sesungguhnya, kita semua ditakdirkan untuk melewati masa transisi seperti itu. Sayangnya tidak selalu demikian, karena diri kita tidak siap.

Siapkan diri Anda sejak hari ini dan saat ini juga, maka pengalaman kematian bisa menjadi lebih indah daripada pengalaman terindah sepanjang hidup Anda di dunia ini.

Sahabat kita menjelaskan:

“Ketika Roh Merasa Bebas, ia bisa menentukan apa yang terbaik untuk dilakukan dalam masa kehidupan berikutnya. Saat itu intelegensia yang bekerja. Ia bisa memilah dan memilih yang ‘terbaik’ bukan saja bagi ‘diri’nya, tetapi juga bagi seantero alam. Karena dalam kebebasannya itu ia merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta.

“Sebaliknya, jika ia tidak merasa bebas, maka yang menentukan kelahiran berikutnya adalah keinginan-keinginan dan obsesi-obsesinya yang terpendam (Yang semuanya masih berada dalam wilayah lingkup gugusan pikiran serta perasaan atau mind. Mind yang sebagaimana telah kita ulas secara rinci dalam Yoga Sutra Patanjali, dan Bhagawad Gita bagi Orang Modern yang baru saja dicetak ulang untuk kesekian kalinya, belum bertransformasi menjadi buddhi atau intelegensia).

“Tidak terjadi pemilahan dan pemilihan apakah keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi itu baik atau tidak dan membantu peningkatan kesadaran diri atau tidak. Misalnya, seseorang memiliki obsesi untuk menjadi penyanyi atau pemusik rock. Jika ia ‘mati dalam ketidaksadaran’karena guyuran DMT yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, maka obsesi dan keinginannya yang bekerja, dan ia lahir dalam keluarga di mana orangtuanya akan membantu dia untuk mewujudkan keinginannya.

“Tetapi, jika ia ‘mati dalam kesadaran’ maka inteligensinya memandu, ‘musik memang baik, tetapi frekuensi music rock tidak membantumu, lahirlah dalam keluarga di mana kau akan memperoleh kesempafan untuk menekuni jenis musik yang dapat menunjang kesadaranmu.’ Atau, bahkan dipandu untuk memilih sesuatuyang lain sama sekali.

“Musik rock berada pada frekuensi yang cukup rendah. Musik rock menarik kesadaran manusia ke bawah, pada dunia benda, pada segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Ini yang terjadi pada Michael Jackson. Dalam kelahiran sebelumnya ia memiliki obsesi untuk menjadi pemusik. Kemudian, obsesinya itu menentukan kelahirannya dalam keluarga yang tidak hanya mendukung dan membantu untuk merealisasikan obsesinya, tetapi juga ‘menjualnya’. Padahal, dalam kelahiran sebelumnya, Michael Jacksan juga pernah mendalami spiritualilas, kendati tidak terlalu intens.

“Setelah meraih sukses duniawi, sebagaimana telah Pak Krishna uraikan secara panjang lebar dalam buku tentang Michael Jackson (The Gospel of Michael Jackson dalam dwibahasa Indonesia dan Inggris – a.k.) ia mengalami kebingungan yang hebat.

“Rock Tidak Menjawab Kebutuhan Jiwa. Kebutuhan Jiwa Michael Jackson pun tidak terpenuhi. Naman, ia tidak bisa menjauhkan diri dari rock. Maka, hidupnya berakhir tragis.

“Tidak demikian dengan kelompok Beatles. Setelah menyadari kebutuhan Jiwa, mereka membubarkan kelompok yang saat itu sedang di puncak kejayaan. Industri hiburan menertawakan keputusan mereka, tapi mereka tidak peduli.

“Setelah pembubaran itu, karya mereka secara terpisah memiliki warna yang beda. Bahkan, beberapa saat sebelum bubar pun, karya-karya George Harrison dan John Lennon sudah memiliki warna yang berbeda dari warna sebelumnya.

“Bakat musik muncul dan dapat dilihat dengan jelas ketika seorang anak masih balita. Saat itu, sebaiknya orangtua yang sudah berwawasan spiritual mengarahkan anaknya ke musik yang dapat membantu Jiwanya.

“Sebagian orangtua merasa bahwa anak-anak mesti dibiarkan mengembangkan sendiri potensinya. Dalam hal ini, ada kesalahan persepsi. Potensi seorang anak sebagai musisi dan penyanyi memang mesti didukung. Itu adalah potensinya.

“Tapi, Jenis Musik Bukan Potensi. Jenis musik adalah pilihan. Barangkali seorang anak memiliki potensi sebagai pengusaha, pedagang. Baik. Potensi tersebut perlu didukung, tetapi apakah ‘berdagang ssnjata’ mesti didukung juga? .Apakah memperdagangkan badan manusia mesti didukung juga? Apakah usaba pelacuran perlu didukung? Jelas tidak. Demikian juga dengan jenis musik yang tidak menunjang perjalanan Jiwa tidak perlu didukung.

“Tentunya, advis ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki wawasan spiritual. Mereka tidak perlu membaca buku ini. Untuk apa?

“Siapa yang berhak untuk melarang mereka jika memang ingin mengembangkan rock atau musik jenis lain yang lebih keras lagi? Tidak ada yang dapat melarang mereka. Sebagaimana kita tidak dapat melarang para pedagang senjata dan tidak bisa menghentikan pabrik rokok atau minuman keras.

“Orangtua yang Berwawasan Spiritual bertanggungjawab untuk mengarahkan anak-anak mereka pada jalur yang akan membantu perkembangan Jiwa.

“Orangtua yang sudah kenal spiritual dan sudah memahami hal-hal seperti ini ketika anak-anak mereka masih kecil, masih di bawah 14-15 tahun, sebetulnya sangat beruntung karena anak-anak dan remaja seusia itu masih bisa diarahkan.

“Kalau seorang anak sudah berusia di atas 14-15 tahun, maka sulit diarahkan. Karakter mereka sudah mulai terbentuk.

“Memang tidak selalu mudah untuk mengarahkan seorang anak, walau masih kecil atau remaja—kadang keinginan dan obsesi mereka dari kehidupan sebelumnya sangat kuat. Tetapi, bagaimana pun juga orangtua mesti tetap berusaha. Itu kewajiban orangtua, tidak perlu memikirkan hasilnya.

“Selain itu, sesungguhnya, seperti yang juga sudah diakui oleh para Neurosaintis, proses wiring atau semacam pembentukan/penataan otak manusia berjalan hingga usia 30an ta/hun. Jadi jika memang ada keinginan aun ditunjang oleh pergaulan—maka hingga usia 30-32 tahun pun karakter manusia masih bisa ditata.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s