Renungan Diri: Meditasi Tidak Meninggalkan Dunia Tapi Membekali Kita Semangat dan Keberanian Menghadapinya

buku kidung agung

Cover Buku Kidung Agung

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Si Jelita: “Aku milik kekasihku, ia menginginkan aku.”

Betul, Salomo, apa pun yang kau katakan itu betul. Tubuhku molek, mulutku manis, mataku seperti ini, hidungku seperti itu, tapi aku bukanlah milikmu. Aku milik kekasihku.

Mulutku memang semanis air anggur, Salomo tetapi—seperti yang dijelaskan oleh penerjemah lain—anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya… it passes by, melewati, bibir mereka yang sedang tidur.

Kamu sedang tidur Salomo. Kamu tidak dapat menikmati anggur yang mengalir dari mulutku, lewat bibirku. Air anggur ini bukan untukmu. Air anggur ini hanyalah untuk mereka yang terjaga.

Air Anggur Surgawi sedang mengalir, senantiasa mengalir dengan tak putus-putusnya. Sayang sekali, mulut kita tertutup rapat. Kita tidak bisa menikmati aliran air anggur itu.

Persis seperti Salomo, kadang kita berada begitu dekat dengan seorang Masiha. Sungai Anggur Surgawi mengalir persis di depan rumah, tetapi kita tidak memanfaatkannya sama sekali. Pintu rumah kita tertutup rapat.

Seorang pejalan menasihati pejalan lain: “Bukalah dirimu terhadap sang guru.” la mendatangi guru dan memuntahkan segala apa yang ada di dalam dirinya. lnilah yang dilakukan oleh Salomo. Ia memuntahkan nafsunya.

Membuka diri terhadap guru, terhadap Masiha, terhadap Si Jelita, berarti membuka diri bagi apa yang hendak disampaikannya. Bukan untuk memuntahkan kotoran kita. Untuk itu, cukup menggunakan kamar mandi di dalam rumah atau selokan di luar rumah.

Sang Masiha berada di depan pintu. Ia mengetuk pintu kita. Sayang kita tidak mendengar ketukannya. Dan, ia pun melewati rumah kita. Kita masih tertidur lelap di dalam rumah. Kita tidak sadar akan kedatangannya. Sayang sekali!

Celakanya, kadang kita sudah membuka pintu baginya, dan mempersilakan dia masuk ke dalam rumah, tapi kemudian kita tertidur lagi. Kita tertidur di depan Sang Masiha. Kita pikir pertemuan itu terjadi di dalam mimpi.

“Aku milik kekasihku, ia menginginkan aku” – Dalam terjemahan lain, “Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju”. Si Jelita tidak hanya yakin akan cintanya, tetapi juga yakin akan cinta sang kekasih terhadapnya.

Saatnya kau menyerah, Salomo. Melepaskan dia; melupakan dia, atau membiarkan dirimu tenggelam di dalam cintanya. Murshid yang telah lenyap dalam Kasih Ilahi berada di depan mata. Biarlah diri kita lenyap di dalamnya dan kita pun akan merasakan kelenyapannya—Kelenyapan Agung!

Sesaat lagi Si Jelita akan bebas, terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan. Sesaat lagi ia akan hadir dalam pesta raya yang digelar oleh kekasihnya. Apa yang masih kau pikirkan, Salomo? Apa yang masih kau tunggu? Biarlah dirimu tenggelam di dalam dirinya.

Salomo menanggapiku, “Aku mencintainya….”

Ya, ya, ya, kau mencintainya dengan penuh nafsu. Kau ingin memilikinya. Itu tidak sama dengan membiarkan dirimu tenggelam di dalamnya. Apa yang kau sebut cinta itu masih nafsumu, nafsu murni; nafsu untuk memiliki.

Apakah kau tidak rnendengar: “Aku milik kekasihku, ia menginginkan aku. Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju”?

Ia mengajakmu untuk menjadi milik Sang Kekasih, untuk “ikut” menjadi milik-Nya. Kau malah ingin memiliki dia.

Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang rnengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Berhati-hatilah… kapal kita berada di tengah laut, wilayah kekuasaan para pembajak laut. Barangkali kita tidak melihat mereka karena mereka selalu bersembunyi di balik ombak. Mereka pintar, licik. Kapan saja rnereka dapat berlaga untuk membajak jiwa kita, untuk merampas kesadaran kita.

Ada yang mengoceh: “Untuk apa bermeditasi, apa gunanya? Nikmati dunia ini. Inilah kenyataan yang paling nyata. Inilah realitas. Meditasi adalah khayalan.”

Ada yang rnerayu, “Mas, kamu masih muda. Nanti kalau sudah berusia, silakan bertapa. Jangan menyia-nyiakan usia mudamu. Meditasi adalah pekerjaan orang tua.”

Ada yang mengintimidasi, “Apa yang kau lakukan itu menjauhkan dirimu dari komunitasmu. Kau akan berdiri sendiri tanpa seorang pun  di sampingmu.”

Ada yang mengancam, “Pilih, aku atau meditasimu.”

Di tengah ocehan, rayuan, intimidasi, dan ancaman itu, suara kecil nurani hampir tidak terdengar: “Kau milik kekasihmu, ia menginginkan kamu, kepunyaan kekasihmu kau…” Hanya beberapa gelintir orang yang masih mendengar suara itu menjadi pemberani. Mereka memperoleh semangat dari pendengarannya. Mereka tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh dunia. Mereka bertindak sesuai dengan kata hati, sesuai dengan suara nurani mereka.

Meditasi bukanlah meninggalkan rumah dan keluarga. Meditasi juga tidak berarti meninggalkan dunia. Meditasi membekali kita dengan semangat dan keberanian untuk menghadapi segala macam tantangan. Kita tetap tinggal di dalam dunia yang sama, di tengah keluarga yang sama, tetapi tidak diperbudak oleh mereka. Seorang istri atau seorang suami tidak dapat menyandera jiwa kita. Orangtua dan saudara tidak boleh merampas hak untuk bertindak sesuai dengan nurani kita. Berilah mereka pengetahuan tentang jatidiri dan kebutuhan rnanusia untuk menemukannya, karena tanpa penemuan itu, rnanusia merasa hampa. Ia merasa tidak berguna. Kemudian, tindakannya pun kacau dan mengacaukan.

Kita menjadi suami dan istri yag lebih baik karena meditasi. Lebih mencintai, lebih bertanggung jawab, karena meditasi membebaskan jiwa, dan hanyalah jiwa bebas, jiwa merdeka yang dapat bertindak secara bebas dan bertanggung jawab.

Kita menjadi manusia yang lebih baik karena meditasi, dan dunia ini sungguh membutuhkan beberapa manusia baik yang rela berkorban demi kebaikan umat manusia, untuk mencegah terjadinya kehancuran total—manusia-manusia baik yang rela mengorbankan kenyarnanann demi kedamaian dunia, manusia-rnanusia baik yang siap berkarya tanpa parnrih, demi kesatuan dan persatuan dunia.

Bila Si Jelita mewakili dunia, jadikanlah dia wahana untuk mengantarmu kepada Sang Gembala, The Eternal Lover—Kekasih Sejati, Abadi. Keinginan kita untuk memiliki Si Jelita, untuk menguasai dunia—keterikatan kita dengan materi—justru menjauhkan diri kita dari The Ultimate Matter, Materi Utama, yaitu Energi itu sendiri.

Keterikatan adalah beban, dan jiwa kita merasakan beban itu. Seorang janda, berusia sudah di atas kepala enam, berterus-terang: “Hidup menjanda lebih nyaman.” Bukan karena suaminya seorang pria yang tidak baik, bukan karena dia jahat, tetapi karena dia sangat terikat dengan keluarga. Ia tidak memberi kebebasan yang dibutuhkan oleh masing-masing anggota keluarga.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s