Renungan Diri: Tiada Hubungan Abadi dengan Siapapun? Dengan Badan Sendiri pun Tidak Abadi?

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies), Bab Sara Samuccaya. Terjemahan dalam bahasa Sunda dan Inggris tidak dikutip.

 

Sara Samuccaya ayat 492

Matapitrsahasrani putradarasatani ca

yuge yuge vyatitani kasya te kasya vi vayam

 

Thousands of mothers and fathers, hundreds of children and wives

have passed away in the ages gone by.

Who do they belong to now, and who do we belong to?

 

Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya,

berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita;

demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan.

Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa?

Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik siapa?

Untuk direnungkan: kita menangisi duka perpisahan yang terjadi dalam satu masa kehidupan,

Masa kini saja. Padahal, entah berapa banyak kelahiran dan kematian yang telah kita lalui.

 

Sara Samuccaya ayat 493

Tiada hubungan abadi dengan siapapun juga.

Hubungan dengan badan sendiri pun tidak abadi, suatu ketika Jiwa mesti meninggalkannya

Apalagi dengan orang ataupun sesuatu yang lain!

 

Sara Samuccaya ayat 494

Segala sesuatu yang kau peroleh adalah bersumber dari yang tak terlihat

Dan akan kembali ke sumber yang sama, tak terlihat.

Tiada sesuatu atau seorang pun yang menjadi milikmu.

Demikian pula engkau bukanlah milik mereka.

Lalu untuk apa rnerintih, untuk siapa menangis?

 

Sara Samuccaya ayat 495

 

Dengan menyadari bahwa “harta benda, pendamping, anak, orangtua –

semuanya adalah untuk sesaat saja. Tiada hubungan maupun kepemilikan yang langgeng” –

engkau dapat mengatasi, atau setidaknya secara bertahap, mengurangi duka-deritamu

 

Sara Samuccaya ayat 496

(Kehilangan seseorang atau sesuatu yang kita senangi atau sukai — sudah menimbulkan duka.

Apalagi,) mengenang mereka yang sudah meninggal, sesuatu yang sudah hilang, atau

mengingat pengalaman-pengalaman masa Ialu — hanyalah menambah duka-derita kita.

Sebab itu, sadarilah ketidaklanggengan segala sesuatu di alam benda ini.

 

Sara Samuccaya ayat 497

Dengan tidak mengenang masa lalu, mereka yang telah meninggal, dan

atu yang telah hilang — seseorang dapat mengurangi duka-deritanya, bahkan rnelampauinya

Dengan selalu mengenang, duka yang dirasakan malah makin dalam.

 

Sara Samuccaya ayat 498

Ada kalanya harta benda meninggalkan manusia;

ada kalanya manusia meninggalkan segala harta di alam benda ini.

Tiada seorang pun yang dapat mengubah atau memperbaiki keadaan ini.

Dengan menyadari kebenaran ini, hendaknya seseorang tidak memuja materi.

 

Sara Samuccaya ayat 499

Sejak awal, hendaknya setiap orang membiasakan diri untuk berpikir demikian –

aku dan segala sesuatu yang “disebut” milikku, semuanya tidak kekal,tidak abadi

Pengertiannya, hanyalah kesadaran seperti ini yang dapat mengakhiri duka-derita manusia.

 

Sara Samuccaya ayat 500

Kesadaran akan ketidakkekalan dunia benda rnembuat seseorang

tidak beraduh-aduh ketika kalung bunga yang mengalunginya menjadi layu.

Sebaliknya, berkesadaran keliru bila alam benda ini langgeng,

pecahnya wadah yang terbuat dari tanah liat pun mernbuatnya menderita.

Peribahasa dalam sloka ini: Kalung bunga adalah ketenaran, kedudukan, kekuasaan

Dan, wadah dari tanah liat adalah badan manusia.

Dengan menganggap semua itu tidak kekal, kita terbebaskan dari segala duka-derita.

 

Sara Samuccaya ayat 501

Jika seseorang menyebabkan terjadinya kebakaran, kemudian dirinya sendiri terlilit oleh api –

maka sungguh tidak bijak bila ia mengeluh kepanasan atau terbakar.

Api yang dimaksud ialah, api keterikatan, keserakahan, amarah, rasa dengki, iri, dan sebagainya.

Selama masih melayani “sumber-surnber” api tersebut, seseorang tidak bisa tidak terbakar.

Keluh-kesahnya tidak berguna. Sebab itu, para bijak senantiasa berupaya memadamkan api nafsu.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan Diri: Tiada Hubungan Abadi dengan Siapapun? Dengan Badan Sendiri pun Tidak Abadi?

  1. Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya, berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita; demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan. Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa? Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik siapa?
    Untuk direnungkan: kita menangisi duka perpisahan yang terjadi dalam satu masa kehidupan, Masa kini saja. Padahal, entah berapa banyak kelahiran dan kematian yang telah kita lalui.
    Tiada hubungan abadi dengan siapapun juga. Hubungan dengan badan sendiri pun tidak abadi, suatu ketika Jiwa mesti meninggalkannya, Apalagi dengan orang ataupun sesuatu yang lain!
    Segala sesuatu yang kau peroleh adalah bersumber dari yang tak terlihat. Dan akan kembali ke sumber yang sama, tak terlihat. Tiada sesuatu atau seorang pun yang menjadi milikmu. Demikian pula engkau bukanlah milik mereka. Lalu untuk apa rnerintih, untuk siapa menangis?
    Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)
    ………………….
    “Harta benda, pendamping, anak, orangtua – semuanya adalah untuk sesaat saja?”
    “Tiada hubungan maupun kepemilikan yang langgeng”?
    Kita dapat mengatasi?
    atau setidaknya secara bertahap?
    Dan itu akan mengurangi duka-derita kita?
    Silakan simak sloka 492-501 dari Sara Samuccaya pada Tautan di bawah ini:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s