Renungan #Gita: Kita Masih Terjebak di Tengah Benda-Benda Duniawi yang Menyamankan Indra dan Nikmat Badan?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“Malam bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari jati-dirinya, adalah saat di mana para bijak yang sadar akan jati-dirinya berada dalam keadaan jaga. Dan, siang bagi makhluk-makhluk yang menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.” Bhagavad Gita 2:69

 

Di sini ada yang tersurat, ada juga yang tersirat. Memang, mereka yang sedang menempuh perjalanan menuju pencerahan, kesadaran, dan pengendalian diri akan lebih senang berada dalam keadaan jaga pada malam hari, sewaktu dunia luar sedang dalam keadaan tidur. Ia dapat mempraktekkan latihan-latihan meditasi dan laku spiritual tanpa diganggu.

TETAPI, SEBENARNYA ADA ARTI LAIN… Hal-hal yang bersifatkan duniawi dan sementara, yang membuat mata mereka yang belum sadar menjadi silau, tidak dapat mengganggu seseorang yang telah mencapai kesadaran. Ia menikmati semuanya, namun tidak terikat pada sesuatu apa pun. Tidak ada lagi yang dapat menggodanya. Ia bebas dari segala-galanya.

 

Seorang bijak terjaga terhadap segala sesuatu yang menunjang evolusi-diri. Sebaliknya, mereka yang tidak bijak tertidur lelap terhadapnya.

Bayangkan, di antara 200-an juta penduduk Indonesia, atau di antara 6 milyar lebih penduduk dunia, adakah 1 persen saja yang betul-betul menempuh perjalanan spiritual? Jangan menghitung jumlah “praktisi yoga” yang berlatih untuk kesehatan badan, kecantikan atau ketenangan semu yang bersifat sesaat saja.

 

PERHATIKAN JUML AH FOOD COURTS, Mall, dan tempat-tempat hiburan lainnya, yang kian bertambah, jauh melebihi proporsi pertumbuhan penduduk.

Kesadaran umum memang masih terjebak dan terperangkap di tengah benda-benda duniawi yang menyamankan bagi indra. Nikmat bagi badan.

Bicaralah tentang kesadaran diri dengan mereka. Dan, mereka akan menertawakan Anda. Bicaralah tentang restoran terbaru di ujung langit, dan mereka langsung memasang kuping – all ears – menjadi tertarik!

Inilah makna tersirat di balik malam bagi mereka yang tidak sadar, adalah siang bagi mereka yang sadar; dan siang bagi mereka yang tidak sadar, adalah malam bagi mereka yang sadar.

 

TAPI, BERHATI-HATILAH! JANGAN MENGIBULI DIRI….. seorang meditator yang sudah terbiasa bergadang sepanjang malam melakukan pekerjaan kantornya – merasa dirinya sudah menjadi Yogi?

Jangan membohongi diri! Meditasi mengantar kita pada kesadaran diri. keadaan meditatif 24/7 adalah kesadaran. Sebagai meditator dalam pengertian praktisi, pelaku latihan  meditasi, kita tidak serta-merta menjadi meditatif.

Untuk menjadi meditatif, untuk hidup berkesadaran, mesti mengendalikan indra, mawas diri, dan sebagainya. Itu pertama.

Kedua, bergadang sepanjang malam untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, yang semestinya dikerjakan di siang hari – bukanlah yang dimaksud oleh Krsna.

Sepanjang malam bekerja, kemudian selalu telat bangun pagi – jangankan untuk hidup meditatif berkesadaraan, kebiasaan itu tidaklah baik untuk kesehatan fisik kita sendiri.

Janganlah meyalahpahami, menyalahartikan nasihat Krsna. Jangan pula mencari pembenaran atas kebiasaan-kebiasaan yang tidak menunjang spiritualitas.

BANGUN PAGI SEBELUM TERBITNYA MATAHARI adalah mutlak bagi seorang meditator, praktisi meditasi. Pun, bagi setiap orang yang sedang melakukan Yoga atau latihan spiritual lainnya.

Itulah sebab setiap kepercayaan menganjurkan doa-subuh, pagi. Prātahkāla, Prabhāt – waktu subuh adalah waktu yang mencerahkan.

Sinar matahari pagi menyehatkan tubuh, sangat penting bagi otak. Jika malam sebelumnya Anda terganggu oleh mimpi-mimpi buruk, serangkaian mimpi buruk – nah, cobalah bangun sebelum jam 6 pagi. Kalau bisa antara jam 5 dan 5.30 pagi, keluarlah dari rumah untuk jalan pagi. Dalam 10 menit pertama, seluruh pikiran, pengaruh negatif dari mimpi buruk akan sirna. Lenyap, tanpa bekas. Cobalah!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s