Renungan Diri: Berpegang pada Yama, Disiplin Pengendalian Diri dan Niyama, Pedoman Hidup Berkesadaran

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

 

|| 2 ||

yamāṁśca niyamāṁścaiva yadā rakṣennu paṇditaḥ

teṣāṁ saṁrakṣitenaiva buddhirasya na cālyate

 

One must always adhere to Yama or the Disciplinary Codes,

and Niyama, the Rightful Course of Actions in order to check one’s buddhi or purified mind

(the Intelligent Body or Domain of our being).

Following are the Yama, the Disciplinary Codes.

By doing so, the Paṇḍit, the Wise, the Truly Learned Knowledgable

keep it – keep his buddhi – ever unwavered.

 

Seseorang harus senantiasa berpegang pada Yama, Disiplin atau Pengendalian Diri.

dan Niyama, Pedoman Perilaku untuk Hidup Berkesadaran

untuk senantiasa menjaga buddhi atau mind yang telah dimurnikan

(Badan, Wujud, atau Fakultas Inteligensia dalam diri kita).

Berikut adalah Yama, Pedoman Disiplin atau Pengendalian Diri.

 

Dengan demikian, seorang Pandit, seorang Bijak, Ia yang Berpengetahuan Sejati

senantiasa menjaga buddhi-nya, supaya tak tergoyahkan.

Vrati Sasana ayat 2 dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

AYAT INI JELAS BERBICARA, tentang siapa yang dapat mernperoleh manfaat paling besar dari karya ini – yaitu para bijak, mereka yang berpengetahuan sejati, para Pandit. Inilah orang-orang yang telah melewati tahapan pemurnian mind lewat berbagai cara.

Mereka adalah para meditator.

Mereka adalah orang-orang yang telah mengintip kesejatian di balik kebendaan. Mereka tahu  apa yang langgeng dan apa yang tidak langgeng; apa yang sejati, dan apa yang merupakan bayangan.

 

MEREKA TIDAK HARUS BERADA DALAM HUTAN, berrneditasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tidak. Mereka bukanlah para pengecut yang melarikan diri dari kehidupan. Mereka bisa saja berada dalam hutan, dan juga berada di tengah keramaian Manhattan, Moscow, atau Mumbai. Mereka bisa berprofesi apa saja. Mereka tidak perlu menjadi petapa berjubah dari tradisi atau kepercayaan tertentu. Mereka bisa siapa saja, termasuk Anda dan saya……

 

JADI, JIKA KITA – ANDA DAN SAYA — TELAH MENGEMBANGKAN BUDDHI — dalam kata lain, kita telah memurnikan mind dan mengembangkan fakultas untuk memilah, dan secara arif menentukan tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka rangkuman ini bisa sangat bermanfaat.

Jika kita belum mencapai keadaan tersebut; jika kita belum cukup mengembangkan buddhi kita, kemampuan memilah, kemampuan untuk membedakan antara sreya dan preya – antara kemuliaan yang membebaskan, dan indrawi yang mengikat — maka, mungkin kita harus mengulang kembali pelajaran kita sebelumnya.

 

KEMBALILAH PADA MEDITASI, meditasi sebagai sebuah teknik. Marilah kita tidak berbicara dulu tentang meditasi sebagai gaya hidup meditatif 24 jam sehari dan 7 hari seminggu Jangan dulu. Meditasi harus dianggap sebagai sebuah teknik — dan, untuk tujuan tersebut kita dapat memilih teknik manapun, selama teknik tersebut terkait dengan Meditasi-Sejati dan bukan sekadar teknik yang banyak ditawarkan, dijual di pasar bebas yang hanya menggunakan label meditasi semata.

Teknik-teknik meditasi tidak terbatas pada yang terkait dengan memperhatikan atau mengatur napas. Teknik-teknik tersebut memang sangat dianjurkan, dan menurut saya adalah teknik tertinggi. Namun, jika seseorang tidak bisa langsung mempraktekkan teknik-teknik tersebut, mungkin dlbutuhkan beberapa teknik pendahuluan sebagai sarana pembersihan untuk membebaskan diri dari beban mental emosional berlebih, sebelum kita melanjutkan Perjalanan ke Dalam Diri dengan lebih rileks dan ringan.

 

KARENA ALASAN INILAH, di bagian akhir dari buku ini, kami menyarankan satu paket meditasi yang terdiri dari 4 teknik, yang telah membantu banyak orang dalam sadhana — laku spiritual mereka. Sesungguhnya, semua teknik tersebut, setiap teknik pembersihan tersebut akhirnya akan menuntun kita mengalami meditasi.

Kembali pada ayat…..

YAMA DAN NIYAMA sering disalahtafsirkan sebagai “Larangan dan Anjuran”. Bukan, bukan itu artinya. Yama dan Niyama bukanlah peraturan legal atau peraturan berdasarkan kepercayaan tertentu yang bersifat mengikat. Seluruh poin, seluruh anjuran yang diberikan dalam semua model Yama dan Niyama yang dikenal, didasarkan pada pilihan pribadi seseorang, seseorang secara sukarela menaatinya. Ini adalah urusan pilihan pribadi. Tidak ada imbalan surga atau hukuman neraka.

Satu hal lagi yang perlu dikatakan terkait dengan model Yama dan Niyama. Ya Yama dan Niyama adalah model. Jadi, kita bisa saja menemukan perbedaan disiplin dalam model yang diberikan di sini dengan, misalnya, model yang dlberikan oleh Resi, Bhagavan Patanjali dalam magnum opus-nya, Yoga Sutra.

PERBEDAAN-PERBEDAAN TERSEBUT ADALAH UNTUK DIAPRESIASI sebagaimana adanya berbagai model ilmiah yang menjelaskan asal-usul semesta yang diciptakan oleh para ilmuwan modern. Model-model ini diperlukan untuk menuntun kita pada Kebenaran. Dengan mengikuti salah satu model, sesungguhnya kita mempersiapkan lahan, sebelum membangun bangunan kesadaran di atasnya.

 

Model yang diberikan di sini, harus saya katakan, adalah sama relevannya dengan yang diciptakan oleh Patanjali, atau model manapun yang diciptakan oleh para resi dan bijak dari semua tradisi. Kita harus memilih model yang paling cocok, tidak hanya sesuai dengan kebutuhan kita, yang awalnya mungkin tidak kita sadari, tetapi juga dengan kemampuan kita untuk mengikutinya, untuk menaatinya. Karena, kita harus selalu ingat bahwa, model-model tersebut adalah untuk diikuti secara sukarela. Sehingga, kesiapan kita, komitmen-diri kita, sumpah pribadi kita dengan penuh kesadaran — adalah hal yang sangat penting dan kritis dalam hal ini.

Dalam kata lain, ikutilah Model Pilihanmu sendiri. Dan berikut adalah salah satu pilihan yang dapat kita, Anda dan saya, pertimbangkan.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan Diri: Berpegang pada Yama, Disiplin Pengendalian Diri dan Niyama, Pedoman Hidup Berkesadaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s