Renungan Diri: Kesempurnaan Adalah Ketika Pria Menemukan Keperempuanan di Dalam Dirinya

buku kidung agung

Cover Buku Kidung Agung

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak, dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya… lingkaran setan kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan.

Salomo masih merayu Si Jelita dari Syulam…..

Raja Salomo:

  1. O, gadis yang anggun, manis benar kakimu dengan sandal itu. Lengkung pahamu seperti perhiasan, karya seorang seniman.
  2. Pusarrnuseperti cawan bulat yang tak pernah kekurangan anggur campur. Perutmu bagaikan timbunan gandum, dikelilingi bunga-bunga bakung.
  3. Buah dadamu laksana dua anak rusa, kijang kembar dua.
  4. Lehermu seperti menara gading. Matamu bagaikan kolam-kolam di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim. Hidungmu seperti menara di Gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.
  5. Kepalamu bagaikan bukit Karmel; rambutmu yang dikepang seperti lembayung, memesonakan bahkan seorang raja.
  6. Sungguh cantik jelita engkau, yang tercinta di antara yang disenangi.
  7. Tubuhmu seanggun pohon kurma, buah dadamu gugusan buahnya.
  8. Ingin aku memanjat pohon kurma itu, dan memperoleh buah-buahnya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan buah anggur, napasmu seharum buah apel,
  9. mulutmu semanis air anggur!

Kidung Agung  Bagian VII, dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Barangkali si gembala pun pernah merayunya dengan menggunakan bahasa yang mirip, dengan menggunakan peribahasa yang hampir sama. Tapi, lain gembala, lain raja. Lain pujian kekasihnya itu; lain rayuan Salomo yang ingin memilikinya.

Seorang wanita tahu persis apakah orang yang memujinya hanya ingin memiliki badannya atau mencintai jiwanya. Ia hampir tidak pernah salah. Si Jelita pun memahami betul bahwa pujian dan rayuan Salomo hanyalah untuk memilikinya.

Perhatikan bahasa Salomo. Baca ulang pujiannya: manis benar kakimu…… pahamu seperti perhiasan…….pusarmuseperti cawan……perutmu bagaikan timbunan gandum…….buah dadamu laksana dua anak rusa…….lehermu seperti menara gading…… matamu bagaikan kolam-kolam……hidungmu seperti menara…….kepalamu bagaikan bukit…….rambutmu yang dikepang seperti lembayung…….mulutmu semanis air anggur!

Kemudian, di bagian akhir pujiannya, Salomo tidak dapat menyembunyikan hasratnya, nafsunya terhadap buah dada Si Jelita: “Tubuhmu seanggun pohon kurma, buah dadamu gugusan buahnya. Ingin aku memanjat pohon kurma itu dan memperoleh buah-buahnya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan buah anggur, napasmu seharum buah apel.”

Salomo “mencintai” gadis dari Syulam itu “karena” tubuhnya yang molek, yang disebutnya “seanggun pohon kurma”.

Bagi mereka yang tinggal di tengah padang pasir, pohon kurma memang indah. Bagi Sufi Kabir yang tinggal di tepi sungai, pohon kurma sangat tidak menawan. “Apa gunanya menjadi tinggi seperti pohon kurma,” ia bertanya, “buahmu tidak terjangkau, para musafir pun tidak dapat berteduh di bawahmu.”

Solomo berada di tengah padang pasir. Kegersangan ada di mana-mana, dan pohon kurma adalah sumber energi utama, karbohidrat murni. Sebaliknya, Kabir berada di tepi sungai.Tanah di sekitarnya sangat subur; pepohonan ada di mana-mana. la dapat memilih buah apa saja, dan bisa berteduh di bawah pohon yang mana saja.

Salomo membutuhkan energi bagi badannya; pohon kurma akan cukup baginya. Kabir tidak membutuhkan apa yang dibutuhkan oleh Salomo. la sudah cukup enerjik. la sedang mencari sesuatu yang lain. Pohon kurma tidak berguna baginya.

Salomo berada di tengah kegersangan jiwa. Ia tinggal dalam kegersangan itu. Ia belum menemukan mata air kehidupan. Ia masih haus. Sementara itu, Kabir sedang menari dan menyanyi di tengah pasar kehidupan. Ia sedang merayakan hidup. Ia telah menemukan mata air kehidupan. Ia sudah puas.

Salomo belum menemukan cinta. Si Jelita dari Syulam sudah menemukannya. Karena itu, walau bahasanya sama, keduanya tidak nyambung. Khususnya Salomo tidak dapat memahami kegilaan jelita itu, “Bila perasaannya terhadap gembala yang tidak berguna itu ‘cinta’, memangnya perasaanku apa?”

Konon Salomo menulis 1005 lagu. Dari 1005 lagu itu, hanya satu ini yang dimasukkan  ke dalam Alkitab. Kenapa? Karena, lagu ini membingungkan. Dalarn lagu ini “kebingungan” Salomo dapat dirasakan. Maka, para biarawan yang mengedit Alkitab pun ikut menjadi bingung. Mereka dapat merasakan bahwa lagu ini bukanlah lagu biasa. Ada yang tidak biasa dengan lagu ini. Ada yang Iuar biasa, maka lagu ini dijadikan bagian dari Alkitab.

Lagu-Iagu Salomo yang lain tidak membingungkan. Para editor sepakat bahwa semuanya tentang cinta manusiawi, erotis, dan vulgar, sehingga tidak perlu dimasukkan dalam Alkitab. Tapi, lagu yang satu ini, walau tentang cinta manusiawi, erotis dan masih tetap vulgar, tidak sama dengan lagu-lagu lain. Lewat lagu yang satu ini, Salomo mengakui kelemahannya. Ia belum bisa mengatasinya, tetapi sudah menyadarinya.

Salomo sungguh membingungkan para biarawan dan teolog dalam setiap masa. Inilah satu-satunya lagu, satu-satunya buku dalam Alkitab yang tidak menyebut “Tuhan”. Tidak sekalipun. Seolah Salomo tidak berkepentingan dengan Tuhan.

Seorang biarawan pernah bercerita, “Dulu, bila membaca Kidung Agung, saya harus sembunyi-sembunyi, mengunci diri di dalam kamar supaya tidak ada yang tahu.”Sang Romo berterus-terang, “Persis seperti anak muda zaman sekarang membaca majalah Playboy atau Penthouse.”

Ia pun bingung, “Kenapa pujian terhadap payudara wanita bisa menyusup ke dalam Alkitab!” Para penafsir Alkitab merasa malu untuk menafsirkan bait-bait ini.

“Tubuhmu seanggun pohon kurma, buah dadamu gugusan buahnya. Ingin aku memanjat pohon kurma itu dan memperoleh buah-buahnya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan buah anggur, napasmu seharum buah apel” – Perkenalan pertama seorang bayi dengan tubuh manusia adalah lewat payudara ibunya. Air susu yang keluar dari puting payudara rnenghilangkan rasa laparnya. Dan, ia merasa aman.

Bagi seorang bayi, payudara adalah sumber kehidupan. Ketika bayi ini menjadi dewasa dan bila ia seorang perempuan, ia menemukan  sumber kehidupan itu ada di dalam dirinya. Ia menjadi sumber kehidupan.

Celakanya, bila bayi yang menjadi dewasa ini seorang pria, ia merasakan betul perpisahan dari sumber kehidupan itu. Ia rnerasa kehilangan sesuatu yang penting sekali. Dan, ia pun mencari sumber itu dalam sosok perempuan yang lain. Tidak heran, bila seorang pria selalu memerhatikan payudara perempuan. Para  psikolog modern pun mengakui hal ini.

Seorang wanita, perempuan, sempuma adanya. Seorang pria, Ielaki, merasa tidak sempurna, hingga suatu ketika ia menemukan sumber kehidupan di dalam dirinya. Ia menemukan ke-“perempuan”-an di dalam dirinya.

Centini, kitab kuno yang kita warisi dari leluhur kita, mengatakan yang sama: Kesempurnaan adalah ketika pria menemukan wanita di dalam dirinya.

Kesempumaan bukanlah suatu benda. Kesempurnaan adalah perasaan – rasa. Bila kita merasa sempurna, sempurnalah kita. Bila kita merasa tidak sempurna, tidak sempurnalah kita.

Si Jelita dari Syulam merasakan kesempurnaan di dalam dirinya. Ia telah menemukan Kasih. Gembala di luar hanyalah proyeksi atau bayangan dari apa yang ada di dalam dirinya.

Salomo merasa tidak sempurna. la masih merasa hampa, kosong. Ia belum menemukan cinta di dalam dirinya, belum menemukan kasih. La masih mencari kesempurnaan. Celakanya ia mencari kesempurnaan dalam tubuh manusia yang tidak sarnpuma. Maka, pencariannya tidak menghasilkan apa-apa. Pencariannya berakhir dengan rasa kecewa yang lebih dalam lagi. Ia betul-betul frustrasi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s