Renungan #Yoga Patanjali: Membatasi Pikiran, Agar Beban Pikiran Tidak Terlalu Berat!

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Saya masih ingat pesan Bapak Anand Krishna sekitar sembilan-sepuluh tahun yang lalu: “Ada buku-buku yang hanya perlu ditelan, ada yang dibaca sekali, scanning sreeeeet, cukup dan dan ada buku yang perlu dicerna diulang-ulang agar meresap ke dalam diri. Usia kami berdua sudah 60-an, tubuh sudah mulai rapuh, untuk apa membaca banyak buku tentang makhluk angkasa luar? Kematian sudah mendekat, maka hanya buku-buku yang berkaitan dengan kematian dan kesadaran yang perlu didalami. Pergaulan juga sudah dikurangi, teman-teman dan keluarga di luar kota sudah jarang copy darat. Hanya teman-teman facebook, twitter, teman-teman dunia maya yang masih terkait dengan pengembangan kesadaran masih dijaga silaturahmi, lewat “dumay” tentunya. Mestinya juga teman-teman Ashram terkait pemberdayaan diri yang masih terhubung.

Intinya mengurangi fokus pikiran, menyederhanakan pandangan…….. Dan, penjelasan Patanjali pada ayat berikut begitu mengena!

 

“Membatasi citta, benih pikiran dan perasaan pada suatu wilayah (mental) yang terbatas—itulah Dharana atau Kontemplasi.” Yoga Sutra Patanjali ayat III.1 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kembali pada analogi yang digunakan oleh Master, yaitu tentang seribu koin yang masing-masing bemilai 1 rupee. Mungkin kita Indonesia-kan saja—katakan 1.000 koin seribuan. Masing-masing koin bernilai 1.000 rupiah. Berarti, kita memiliki uang 1 juta rupiah dalam bentuk 1.000 koin.

NAH, SEKARANG KITA MAU MERINGANKAN BEBAN KITA SEBATAS APA? Atau, malah mau menambah beban karena kita suka “yang berat-berat”? Karena kita tidak suka sesuatu yang ringan – “rasanya tidak berbobot”?

Mau kita apa?

Menukarnya dengan koin 500-an supaya beban kita bertambah dan kita bisa pamer, “Aku memiliki 2.000 koin! Dulu cuma 1.000 koin. Aku sudah berhasil, sukses. Sekarang punya tambahan 1.000 koin!” Itukah kemauan kita?

Atau, mau menukarnya dengan 20 lembar uang kertas masing-masing senilai 50.000 rupiah? Sehingga beban kita menjadi cukup nyaman, hanya sebatas 20 Iembar uang kertas. Mau lebih nyaman lagi? Bagaimana kalau ditukarkan dengan uang kertas 100.000-an? Kita tinggal mengantongi 10 lembar.

DEMIKIAN PULA DENGAN PEMBATASAN “WILAYAH” MENTAL UNTUK KONTEMPLASI. Kita sendiri mesti menentukan batasnya.

Mau merenungkan urusan perbintangan? Perang bintang? Urusan dunia? Pertarungan politik di negeri kita? Atau merenungkan urusan tetangga? Urusan keluarga?

Atau, melakukan kontemplasi pada “diri sendiri”, sebab segala urusan lain—dari perbintangan hingga urusan tetanggadan keluarga—, semua menjadi berarti, memiliki arti karena keterkaitannya dengan kita, dengan “diri” kita.

Seseorang yang berkontemplasi pada urusan dunia, urusan Galaksi Bimasakti, galaksi-galaksi lain, atau bahkan semesta, melakukan hal itu karena ia “merasa” bahwa apa pun yang terjadi di luar “sana“dapat memengaruhi dirinya”. Atau, sebaliknya karena ia, “dirinya”, tertarik dengan segala urusan di luar sana.

Patanjali tidak mengharuskan kita berkontemplasi pada apa dan siapa. Ia hanya menjelaskan definisi kontemplasi atau dharana: “Membatasi wilayah gerak bagi citta, bagi benih pikiran dan perasaan —itulah dharana itulah kontemplasi.” Selanjutnya, terserah kita. mau membatasinya sebatas apa—sesuka-suka kita sendiri. Mau menambah beban, mengurangi, atau meminimalkan hingga seminim mungkin —yakni berkontemplasi pada diri sendiri, “Aku siapa?”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s