Renungan Diri: Kebanyakan Orang Hidup Tanpa Kesadaran Akan Jati Diri? Mengapa?

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

 

Tanya: Kalau “Sang Aku”tidak melakukan apa-apa, lantas energi apa yang menggerakkan badan untuk melakukan sesuatu?

Jawab: Pertemuan antara mind, energi, dan elemen-elemen alami menciptakan dan menggerakkan badan. Kurang satu pun unsur elemen alami badan tak ada. Kurang mind, badan tak ada. Kurang energi, badan tak ada.

Selain unsur-unsur utama tadi, sebenarnya masih banyak unsur sekunder lainnya. Kekurangan-kekurangan unsur sekunder itu menyebabkan penyakit, ketidakserasian, dan ketidaknyamanan.

Ketika seorang manusia mati, apa yang terjadi? Badan masih ada, utuh lagi. Energi pun masih…. Buktinya, dalam alam kubur pun, rambut dan kuku kadang-kadang masih bisa tumbuh. Yang kurang hanya satu, mind. Ada yang menyebutnya ego, soul—no problem.

Mind inilah yang menggerakkan badan manusia. Tentu dengan bantuan sekian banyak fakultas di bawah naungannya. Ditambah kerja sama dengan sekian banyak lembaga lain seperti elemen-elemen alami dan sebagainya.

Tanpa Atma-Bodha, tanpa Kesadaran akan Jati Dirinya, tanpa menyadari Keberadaan Sang Aku Yang Sejati, seseorang masih bisa hidup. Buktinya, ya, kita-kita ini. Badan masih bisa digerakkan, masih bisa menjadi konglomerat dan menteri. Masih bisa mengejar kursi parlemen. Mau apa juga bisa.

Tanpa Atma-Bodha, kita tak akan peduli kalau tindakan kita menyusahkan orang lain: “Itu kan bukan mauku. Kalau ada yang merasa susah, masa aku harus bertanggung jawab? Kalau seorang pejabat tinggi punya kekayaan puluhan dan ratusan miliar, itu kan bukan urusan ye… Ah, kalian iri.”

Tanpa Atma-Bodha, kita masih bisa hidup “normal”. Setidaknya “normal” di mata orang banyak, karena kebanyakan orang memang hidup tanpa Atma Bodha—tanpa kesadaran “Sang Aku”

 

Tanya: Tapi, Pak, mengapa waktu “aku”dengan “A”besar ataupun “a” kecil masuk ke badan, ia tidak memberi tahu kita supaya menjadi “baik”? Mengapa ia harus dipengaruhi oleh mind? Kalau dalam analogi listrik yang memasuki kipas angin rusak, mengapa listrik tidak bisa mengatakan pada kipas angin supaya tidak rusak?

 

Jawab: Precisely karena itu, karena listrik tidak punya urusan dengan kipas angin. Listrik tidak berurusan dengan apa-apa. Yang mengalirkan listrik ke dalam kipas angin adalah mind manusia. Dalam hal ini mind si pembuat kipas angin. Listrik sebagai “lembaga yang berdaulat” tidak berkurang atau bertambah karena “asosiasi”-nya dengan kipas angin. Asosiasi itu pun bukan karena dia, Tetapi karena mind manusia.

Bila kipas angin rusak, yang memperbaiki haruslah kita pula. Lagi-lagi, untuk itu Shankara menggunakan lembaga Viveka.

Listrik ini tidak punya urusan dengan kipas angin, sebetulnya. Sama seperti jika kita meletakkan gelas kosong, udara sama sekali tidak punya urusan dengan gelas itu sebetulnya. Tapi, karena ada kekosongan, dia masuk ke situ. Dia tidak punya pilihan — sarva viapi dalam bahasa Sanskerta. Dia ada di mana-mana, all pervading. Begitu tercipta kekosongan, ia akan masuk. Ia tidak pilih kasih. Betul-betul permainan gila. Itu yang disebut lila. Jadi, janganlah terlalu serius. Berkali-kali saya harus kembali mengingatkan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

 

Dalam FB:

Ketika seorang manusia mati, apa yang terjadi? Badan masih ada, utuh lagi. Energi pun masih…. Buktinya, dalam alam kubur pun, rambut dan kuku kadang-kadang masih bisa tumbuh. Yang kurang hanya satu, mind. Ada yang menyebutnya ego, soul—no problem.

Mind inilah yang menggerakkan badan manusia. Tentu dengan bantuan sekian banyak fakultas di bawah naungannya. Ditambah kerja sama dengan sekian banyak lembaga lain seperti elemen-elemen alami dan sebagainya.

Tanpa Atma-Bodha, tanpa Kesadaran akan Jati Dirinya, tanpa menyadari Keberadaan Sang Aku Yang Sejati, seseorang masih bisa hidup. Buktinya, ya, kita-kita ini. Badan masih bisa digerakkan, masih bisa menjadi konglomerat dan menteri. Masih bisa mengejar kursi parlemen. Mau apa juga bisa.

Tanpa Atma-Bodha, kita tak akan peduli kalau tindakan kita menyusahkan orang lain: “Itu kan bukan mauku. Kalau ada yang merasa susah, masa aku harus bertanggung jawab? Kalau seorang pejabat tinggi punya kekayaan puluhan dan ratusan miliar, itu kan bukan urusan ye… Ah, kalian iri.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………….

Tanpa Atma-Bodha, kita masih bisa hidup “normal”?

Setidaknya “normal” di mata orang banyak, karena kebanyakan orang memang hidup tanpa Atma Bodha—tanpa kesadaran “Sang Aku”?

Mengapa waktu “aku”dengan “A”besar ataupun “a” kecil masuk ke badan, ia tidak memberi tahu kita supaya menjadi “baik”?

Mengapa ia harus dipengaruhi oleh mind?

Silakan simak penjelasan lengkap pada Tautan di bawah ini:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s