Renungan Diri: Tuhan Hanya Ada di Tempat Ibadah dan Tidak Ada di Toilet? Mind yang Bilang Demikian?

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

 

Tanya: Saya jadi semakin bimbang, Pak. Kalau kesadaran kita anggap sebagai substansi pikiran, apakah “Sang Aku ” itu menyertai kesadaran. Kalau kesadaran kita bmzda pada tiga cbakra di bawah, apakah “Sang Aku “juga berada  di sana? Mengapa “Sang Aku “tidak mengingatkan kesadaran yang ada di bawah itu?

 

Jawab: Dibilang menyertai juga tidak, dibilang tidak menyertai juga tidak. Ambil contoh udara. Udara ada di mana-mana. Di toilet ada, di tempat ibadah pun ada. Udara yang sama! Apakah udara “menyertai” saya ketika ke toilet? Apakah udara “menyertai” saya ketika ke tempat ibadah?

Badan saya baru mau ke toilet, baru mau ke tempat ibadah, tetapi udara sudah berada sebelumnya.

ltu sebabnya, para resi menyimpulkan “Sarvam Khalvidam Brahma”. Segala sesuatu ini Tuhan. Tuhan meliputi segala-galanya. Para nabi pun melihat Wajah-Nya di mana-mana.

Renungkan…….

Apakah udara “tercemar” karena keberadaannya di toilet? Apakah udara “tersucikan” karena kcberadaanya di tempat ibadah? Bau tak sedap dan wewangian dupa “tercium” oleh manusia. Kemudian, dia pula menyimpulkan: “Ah, udara di sini kotor. Oh, udara di sana bersih.”

Padahal, bau tak sedap itu berasal dari kotoran kita sendiri. Wewangian pun berasal dari dupa yang anda bakar. Udara hanya “mengantarkan” apa yang berasal dari diri kita, apa yang terjadi karena kita.

Dalam hal ini, “kita” adalah mind, karena kita masih berada pada kesadaran mind. Entah itu subconscious mind yang masih “kotor”, sudah “bersih” ataupun superconscious mind yang dianggap “jauh lebih bersih”. Mind kita pula yang sedang bermain jungkat-jungkit antara lapisan-lapisan kesadaran rendah atau chakra-chakra bawah dan lapisan-lapisan kcsadaran tinggi atau chakra-chakra atas.

Kemudian, keberadaan mind pada lapisan-lapisan tersebut menciptakan Maayaa, Hijab, ilusi, dan memberi kesan “seolah-olah” Sang Aku tertutup. Ada lapisan debu yang menghalangi pandangan kita, sehingga tidak bisa bercermin diri dengan jelas.

Bau tak sedap dan wewangian dupa membebani udara, sehingga ada kesan “udara kotor” dan “udara bersih”. Padahal, sesungguhnya udara tidak pernah kotor. Tldak bisa dikatakan bersih pula. Udara adalah udara. Jangan berharap, dia akan menyadarkan kita: “He, aku Iagi kotor nih…. Hindarilah aku…….”

Dia tidak pernah merasakan dirinya kotor. Bagaimana bisa menyadarkan kita? Bagaimana bisa memberi peringatan agar kita menghindarinya?

“Sang Aku” yang dibicarakan oleh Shankara berada di mana-mana and yet melampaui segala-galanya. Untuk menghindari bau tak sedap, silakan menggunakan viveka.

Shankara membedakan viveka dari Sang Aku. Hal ini sudah kita bahas sebelumnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies).

 

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s