Renungan Diri: Guru, Sudah Lelah Saya Melawan Kelemahan Diri Tanpa Tuntunan-Mu

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies), Bab Sevaka Dharma. Terjemahan dalam bahasa Sunda dan Inggris tidak dikutip.

 

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

 

Sevaka Dharma 63

“Nya puhun betan kumaha / awaking ayeuna ini / Warah aing sasakali / aing ku Dewatakaki /

(Murid yang penuh semangat itu melanjutkan.)

Yang Mulia, mohon petunjukmu agar aku dapat bertindak secara tepat. Mohon bimbinganmu O Dewata, Deva, Hyang Tercerahkan.

 

Sevaka Dharma 64

“Bagairnana aku dapat mengatasi mala, kotoran yang disebabkan oleh moha, keterikatan (pada hal-hal duniawi)? Bagaimana aku dapat melampaui Dasakalesa, Dasaklesa atau Sepuluh Penderitaan yang muncul dari penyalahgunaan pancaindra dan indra-indra persepsiku (- mata, telinga, hidung, mulut, kulit; dan penglihatan, pendengaran, penciuman, makan/ucapan, dan sensasi sentuhan)? Bagaimana aku menghindari kebiasaan menuduh/menyalahkan orang lain, dan juga iri dan dengki? Bagaimana aku melampaui Pancagati, penderitaan yang disebabkan oleh Lima Kondisi Kehidupan (- lahir sebagai manusia; sebagai makhluk surgawi, dewata atau deva; sebagai preta atau roh gentayangan; sebagai hewan; dan, segala bentuk penderitaan lain akibat sakit, kecelakaan dan sebagainya)?

 

Sevaka Dharma 65

“Mohon tuntunlah aku bagaimana caranya menghadapi godaan terhadap hal-hal yang tidak dewatakaki, daivi atau tidak tepat, tidak luhur? Mohon lindungi aku dalam pelukanmu. Biarkan aku mengikuti ke mana pun engkau pergi.

 

Sevaka Dharma 66

“Jangan tinggalkan diriku, aku akan selalu membutuhkan perhatian dan arahanmu pada jalan (kehidupan) ini.

 

Sevaka Dharma 67

“Yang Mulia, bagaimana aku melakoni hidupku tanpamu?

 

Sevaka Dharma 68

“Aku bisa tersesat oleh kekuatan ketamakan yang ada di mana-mana. Tanpa mengikutimu, aku tak melihat apa pun kecuali bahaya dan rintangan di jalanku.

 

Sevaka Dharma 69

“(Tanpa bimbinganmu, Yang Mulia), sumur (kehidupan) mengering. Banyak sekali mala atau kotoran yang terakumulasi di kolam ini, di danau (badan dan pikiran) ini, yang bahkan curahan hujan deras pun tak dapat membersihkannya.

 

Sevaka Dharma 70

“Yang Mulia, aku harus mengikuti ke mana pun engkau pergi. Aku rela bekerja keras dan membiarkan panas matahari (kesadaran dan kebajikan) membakar habis semua kotoranku (kekuranganku). Bimbinganmu adalah berkah bagiku.

 

Sevaka Dharma 71

“Yang Mulia, lelah sudah diri ini (melawan kelemahan diri tanpa tuntunan yang tepat) aku telah melihat dan mengalami banyak penderitaan.”

 

Sevaka Dharma 72

Setelah rncndengar perkataan dari murid bersemangat dan tulus itu, Pandita, sang Bijak berkata:

“Anakku, sebelum berkomitmen pada diri sendiri terhadap apa pun, pahamilah kebenaran dari jalan ini.

 

Sevaka Dharma 73

“Mengikuti jalan para suci, tidak menjamin bahwa tiada lagi kecemasan atau kekhawatiran. Dengan mengikutinya, tidak berarti tidak ada lagi tantangan-tantangan yang harus dihadapi.

 

Sevaka Dharma 74

“Kau mungkin tak dapat melalui berbagai kesulitan. Kau mungkin tak dapat rnenahan panas yang terik. Kau mungkin tak dapat menahan dingin. Jalan ini penuh dengan kesulitan. Banyak halangan, banyak rintangan.

 

Sevaka Dharma 75

“Banyak tingkatan harus didaki. Pada setiap tikungan, ada sebuah pintu, sebuah gerbang percobaan yang mesti dilalui. Sepanjang jalan, banyak sekali tantangan-tantangan berat yang harus dihadapi dan diatasi. Tanpa keyakinan mutlak dan keberanian yang luar biasa, tak mungkin untuk melanjutkan perjalanan ini (— pertimbangkan baik-baik sebelum menapakkan kaki di jalan ini, jika belum siap), mungkin lebih baik memutuskan untuk berbalik langkah.

 

Sevaka Dharma 76

“Tanpa komitmen penuh, keyakinan yang utuh; tanpa keberanian dan kekuatan yang luar biasa dan tanpa kesiapan menghadapi segala tantangan, kesulitan dan bahkan kegagalan, jalan ini sungguh sangat sulit untuk dilalui. Karena tantangan-tantangan di jalan ini adalah sungguh luar biasa dan tak tertandingi. Sebab itu, seseorang haruss selalu sadar dan mempertimbangkannya.

 

Sevaka Dharma 77

“Seseorang harus mengetahui cara untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut dan mengatasi kekuatan-kekuatan tidak bersahabat dalam perj alanan — bukan hanya mengikuti jalan ini karena keingintahuan (dan tanpa persiapan).”

 

Sevaka Dharma 78

“Jampi-jampi dan mantra tidak akan membantu; senjata serta perlengkapan lainnya tidak pula dapat menolong. Ada kekuatan tak bersahabat yang menentang dari arah kiri; menunggu pada setiap tikungan; dan menjaga pada setiap gerbang ( —setiap kenaikan tingkat di jalan ini)”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

 

Dalam FB:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s