Renungan #Yoga Patanjali: Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

“Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramatma, Sang Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.27

Om atau Aum—A, U, dan M—adalah Sabda Awal. Bukan Suara Awal, kita tidak tahu suara awal itu seperti apa. Kita. Bahkan tidak pernah mendengar Suara Awal itu. Sebab dengan Suara Awal itulah terjadinya Ciptaan. Barangkali hingga saat ini pun masih beresonansi pada frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. Bisa merusak gendang telinga kita, atau tidak terdengar sama sekali. Jadi, bukan Suara Awal, tapi Sabda Awal.

PEMAHAMAN INI SEKALIGUS MENGOREKSI pemahaman saya sebelumnya, saat saya masih menyamakan suara dengan sabda. Suara, kita tidak tahu. Namun, Sabda sebagai ungkapan Suara Awal itu, dapat diketahui. Dapat didengar dan dapat diucapkan.

Sabda Awal atau tepatnya Ungkapan Awal dari Suara Awal itulah Om atau Aum.

Lalu kenapa “atau”?

Kenapa tidak ada kepastian? Ada, ada kepastian. Dari sudut semesta, ada kepastian. Namun, dari sudut pendengaran kita tak ada kepastian.

Sering sekali saya mendengar orang-orang yang selalu mengucapkan Se sebagai She, dan sebaliknya She sebagai Se. Misalnya, “misal”-nya disebut “mishal”-nya. Bukan, bukan karena tidak bisa rnengucapkan se; karena Show dibalikin pula sehingga terdengar Sow. Ini contoh yang nyata, cukup jelas. Ada juga  perbedaan-perbedaan yang tidak cukup nyata, tidak cukup jelas. Satu kata yang sama terucap oleh saya bisa sedikit beda ketika terucap oleh Anda.

SABDA AWAL, OM ATAU AUM awalnya “terdengar”—tidak tertulis, belum tertulis. Adalah menakjubkan bahwa hingga sekarang pun, para saintis mengatakan bila suara desis yang terdengar dari matahari “mirip” sekali dengan sabda Aum atau Om.

Ketika suara yang terdengar hendak ditulis, disabdakan, maka tidak bisa persis seperti apa yang terdengar karenanketerbatasan. Kosa-Sabda kita. Ditambah lagi, terbatasnya kemampuan kita untuk mendengar suara-suara “antara gelombang sekian hingga gelombang sekian saja”—antara 20 Hz sampai 20.000 Hz.

Jika kita bisa mendengar semua suara dari gelombang terpendek hingga tertinggi atau terlebar, sudah pastilah kita menjadi gila karena tidak bisa tahan terhadap bisingnya semua suara-suara itu.

Kemampuan kita untuk mendengarkan suara dalam setiap range, akan membuat kita mendengar suara yang dikeluarkan oleh setiap semut, setiap lalat, setiap nyamuk, bahkan setiap bakteri, dan setiap virus. Bisa jadi gila!

Keterbatasan kita, dalam hal ini, adalah berkah—sehingga kita masih tetap waras, tetap mampu mempertahankan kewarasan kita.

MASIH BANYAK VARIAN OM ATAU AUM—Alm, Aom, Ang, Aung, Ahung, dan sebagainya. Setiap di antaranya adalah valid. Semua kembali pada pendengaran kita. Namun, jika kita menggunakan “Desis Matahari” sebagai tolok ukur, Suara Om atau Aum itulah yang “terdekat”. Dalam hal ini, konteks ini, penggunaan “desis matahari” sebagai tolok ukur adalah karena matahari adalah Sumber Energi Kehidupan paling penting bagi kita semua, bagi planet bumi yang kita huni.

Kembali pada Om atau Aum. Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa.

Kenapa bisa yakin sedemikian rupa?

Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00—O7.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Sedikit tambahan, berikut adalah kutipan dari salah satu buku kita terdahulu, yaitu Gayatri Shadana – Cinta  yang Mencerahkan: “Untuk mengakses semesla Anda tiduk perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka. Tidak, tidak perlu semua itu. Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan #Yoga Patanjali: Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya

  1. Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    “Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramatma, Sang Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.27
    Om atau Aum—A, U, dan M—adalah Sabda Awal. Bukan Suara Awal, kita tidak tahu suara awal itu seperti apa. Kita. Bahkan tidak pernah mendengar Suara Awal itu. Sebab dengan Suara Awal itulah terjadinya Ciptaan. Barangkali hingga saat ini pun masih beresonansi pada frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. Bisa merusak gendang telinga kita, atau tidak terdengar sama sekali. Jadi, bukan Suara Awal, tapi Sabda Awal.
    PEMAHAMAN INI SEKALIGUS MENGOREKSI pemahaman saya sebelumnya, saat saya masih menyamakan suara dengan sabda. Suara, kita tidak tahu. Namun, Sabda sebagai ungkapan Suara Awal itu, dapat diketahui. Dapat didengar dan dapat diucapkan.
    Sabda Awal atau tepatnya Ungkapan Awal dari Suara Awal itulah Om atau Aum.
    Lalu kenapa “atau”?
    Kenapa tidak ada kepastian? Ada, ada kepastian. Dari sudut semesta, ada kepastian. Namun, dari sudut pendengaran kita tak ada kepastian.
    Sering sekali saya mendengar orang-orang yang selalu mengucapkan Se sebagai She, dan sebaliknya She sebagai Se. Misalnya, “misal”-nya disebut “mishal”-nya. Bukan, bukan karena tidak bisa rnengucapkan se; karena Show dibalikin pula sehingga terdengar Sow. Ini contoh yang nyata, cukup jelas. Ada juga perbedaan-perbedaan yang tidak cukup nyata, tidak cukup jelas. Satu kata yang sama terucap oleh saya bisa sedikit beda ketika terucap oleh Anda.
    SABDA AWAL, OM ATAU AUM awalnya “terdengar”—tidak tertulis, belum tertulis. Adalah menakjubkan bahwa hingga sekarang pun, para saintis mengatakan bila suara desis yang terdengar dari matahari “mirip” sekali dengan sabda Aum atau Om.
    Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
    …………………..
    Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00—O7.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.
    “Untuk mengakses semesla Anda tiduk perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka?
    Tidak, tidak perlu semua itu?
    Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda?”
    Silakan simak penjelasan lengkap tentang Sabda Awal Om pada Tautan di bawah ini:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s