Renungan Diri: Yesus dibatui, Muhammad dipaksa Hijrah, Krishna dihujat, juga Musa, Mengapa?

buku kidung agung

Cover Buku Kidung Agung

Raja Salomo:      Menarilah, hai gadis Syulam, berputar-putarlah, supaya kami kagumi. Kidung Agung Bagian VI.13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Si Jelita menyadari ketaksadaran dirinya. Raja Salomo masih tetap tidak sadar.

Seorang guru datang untuk menyadarkan kita. Kita malah berharap dia bertindak sesuai dengan kesadaran kita. Karena itu, di setiap zaman, seoang Yesus sudah pasti dibatui. Seorang Muhammad sudah pasti dipaksa untuk hijrah, Seorang Krishna dihujat, dan seorang Musa tidak dipercayai oleh gerornbolan orang yang hendak dibebaskannya dari perbudakan. Sungguh sangat ironis, tetapi memang inilah yang selalu terjadi.

 

Raja Salomo:      “Menarilah, hai gadis Syulam, berputar-putarlah, supaya kami kagumi.”—Dunia mengajak kita untuk menari sesuai dengan keinginannya, dan inilah yang kita lakukan selama ini. We are dancing to it’s tune, it’s rythm. Kita menari bagi dunia sesuai dengan corak warna lagu dan irama yang diinginkannya.

Sang Guru mengajak kita untuk menari bersama semesta; sementara kita mengajaknya untuk menari bersama kita. Ya, ia sedang menari; kita pun sedang menari. Tapi, lain tariannya, lain tarian kita. Tarian kita kacau dan rnengacaukan. Tarian dia harmonis dan mengharmoniskan.

Dalam terjemahan lain, kata “menari” diganti dcngan “kembalilah” –Turn Around! Dunia memanggilmu dari belakang, “Kembalilah, di depan ada jurang!” Padahal ia sedang berhalusinasi. Ia tidak tahu-menahu tentang apa yang ada di depan. la membohongi kita. Janganlah tergoda untuk menoleh ke belakang. Tidak ada sesuatu yang baru di belakang. Kita sudah melewati semua pengalarnan itu. Teruskan perjalanan, ever forward, onward…. Raihlah apa yang telah menjadi takdir…. Ya, takdir setiap makhluk—Kesempurnaan Diri!

Dalam terjernahan lain, ayat ini masih berlanjut dengan jawaban Si Jelita, yang sekaligus merupakan pertanyaan kepada Raja Salomo:

 

Si Jelita:                “Mengapa kamu senang melihat gadis Syulam itu seperti melihat tarian-tarian perang?”

Si Jelita pun dapat membaca perasaan Raja  Salomo terhadapnya… perasaan yang barangkali tidak dipahaminya pula. Cinta seorang Salomo bukanlah cinta yang lembut, tapi keras, sekeras wataknya. Cinta seorang Salorno alot, sealot pikirannya. Cinta seorang Salomo kasar, sekasar laga para prajurit di medan perang. Cinta seorang Salomo masih berada pada tataran terendah—tataran nafsu!

Nafsu Salomo membingungkan Si Jelita, sebagaimana cintanya membingungkan Salomo. Kedua tokoh kita sama-sama bingung, Walau yang membingungkan mereka tidaklah sama.Yang satu bingung melihat nafsu; yang lain bingung karena tidak memahami cinta.

Sangat banyak lapisan nafsu di dalam diri kita; tak terhitung jumlahnya. Sang Murshid menunjukkan lapisan-lapisan itu kepada kita dan bertanya: “Mengapa Kamu bernafsu?”

Kita berang. Apa maksudnyal Dia pikir dia tidak bernafsu? Aku melihatnya makan, minum, tidur dan bersenggama seperti diriku. Berani-beraninya dia memberi label nafsu pada apa yang kulakukan, dan label cinta pada apa yang dilakukannya sendiri! Apa maksudmu wahai perempuan dari Syulam? Apakah kau tidak merindukan kekasihmu, gcmbala jorok dari desa itu! Lalu, apa salahnya bila aku merindukan dirimu?

Kau bercumbuan dengan orang biasa. Kau sedang bermain dalam lumpur, dengan lumpur, Aku malah ingin mengangkat derajatmu, maka aku memboyongmu ke istana. Kau tidak berterima kasih, malah menolak kemurahan-hatiku? Tak seorang pun menghargai kecantikanmu di desa itu. Aku menghargai kecantikanmu. Aku kasihan, ya, kasihan melihat keadaanmu. Aku prihatin.

“Jangan Salomo, janganlah kau menipu diri sendiri. Kau memboyongku ke lstana bukan karena kasihan, tetapi karena keinginanmu untuk memilikiku! Lagi pula, kasihan bukanlah  kasih. Untuk mengasihani seseorang, kau harus menempatkan orang itu di bawahmu. Kasihan adalah aliran yang turun dari atas ke bawah. Kasih adalah aliran yang mengalir rata……. tidak mengenal urusan atas-bawah.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s