Renungan Diri: Sujud, Agnihotra, Iman, Penafian Mind guna Menundukkan Keangkuhan Ego

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

Tanya: Tentang neti, neti, neti tadi, Pak, apakah hal itu merupakan upaya untuk membingungkan mind, sehingga yang pegang kendali adalah aatma-chaitanya? Dan, mind hanya menjadi wahana belaka.

 

Jawab: Persis demikian. Salah satu cara untuk menegasikan atau menafikkan mind. Apa yang disebut “iman” dalam beberapa tradisi keagamaan sesungguhnya adalah juga “penafian” mind, kembali ke “khitah asal”. Kembali pada keluguan, kepolosan, dan ketulusan sorang anak kecil. Begitulah menurut tradisi Kristen.

Atau ketika seorang mukmin bersujud dalam setiap salat…. apa yang dia lakukan? Dengan menundukkan kepala, sesungguhnya ia sedang menundukkan egonya.

Dalam tradisi Hindu, mereka mengenal upacara Agnihotri yang biasa diterjemahkan sebagai “persembahan kepada Api”. Sesungguhnya, Agnihotri berarti “Persembahan lewat Api”. Lebih tepat lagi bila diterjemahkan sebagai “Pensucian lewat Api”. Setiap kali “mempersembahkan” sesajian berupa rempah-rempah dan biji-bijian kepada api, umat Hindu mengatakan, “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

Rempah-rempah dan biji-bijian yang mereka persembahkan, mereka bakar, sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebersihan lingkungan. Terlepas dari itu, ucapan mereka sungguh menarik: “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

Melihat seorang Hindu mengambil air Ganga dan mempersembahkannya kembali kepada sungai Ganga, acla yang mengkritik: “Lihat tuh, sungai itulah Tuhan mereka!”

Huahahahahaha……

Ampunilah mereka, Ya Allah, Ya Rabb…, karena mereka belum bisa melihat Wajah-Mu di mana-mana. Mereka hanya melihat aliran sungai. Mereka tidak melihat-Mu yang mengalirkan setiap sungai. Mereka melihat sumur dan mata air, mereka tidak melihat-Mu yang mengisi setiap sumur dan setiap mata air.

Saat mempersembahkan sesuatu “lewat” api atau mempersembahkan air kepada sungai, seorang Hindu tengah mengingatkan dirinya: “Sesungguhnya tak ada yang dapat ‘ku’-berikan kepada-Mu. Semua ini berasal dari-Mu. Dan, kepada-Mu pula kupersembahkan.”

Lebih-lebih lagi, “Apa kekuatanku, sehingga dapat mempersembahkan sesuatu kepada-Mu?’ ‘Kekuatan’ ini pun berasal dari-Mu……”

Berasal dari-Mu, kupersembahkan balik kepada-Mu……

Seorang pencinta Allah menafikan “ego”. Menafikan “mind”. Ini bukan “Aku”, itu pun bukan “Aku”.

“aku” bukan “Aku”.

“aku” hanyalah bayangan.

“aku” tak ada.

Yang Ada hanyalah “Aku”….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga semuanya dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s