Renungan Masnawi: Sultan dan Pelayan Wanita, Mengejar Bayang-Bayang Kebahagiaan

buku masnawi rumi-meditatinhg-kit

Jalaluddin Rumi

Seorang Sultan jatuh cinta dengan seorang wanita biasa—seorang pelayan. Dan, ia mamboyongnya ke istana. Disediakan bagi wanita itu segala kemewahan dan kenikmatan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kendati demikian, wanita itu tetap murung. Tampaknya dia tidak menikmati pemberian Sang Sultan, malah jatuh sakit.

Merasa sangat terpukul dengan sikap wanita yang ia cintai, Sang Sultan mengumpulkan para tabib, “Karena wanita ini aku hidup. Tanpa dia, aku pun tidak dapat hidup. Selamatkan nyawanya dan kalian akan kuberi hadiah yang jauh melebihi harapan kalian.”

“Menyelamatkan nyawa—itulah tugas kami. Kami memiliki obat untuk segala macam penyakit.” Para ahli yang arogan lupa bahwa “Yang bisa menyelamatkan” hanyalah Allah. Dialah Penyembuh Sejati. Mereka bahkan lupa mengucapkan “Insya Allah”—Jika Tuhan Menghendaki-Nya. (Tentu saja, yang dimaksudkan adalah ucapan “Insya Allah” yang keluar dari hati yang tulus, karena jika hanya basa-basi atau sekadar kebiasaan, ungkapan itu pun tidak berguna. Kadang-kadang kita mengucapkannya justru untuk menyatakan “Tak janji deh”!)

Para ahli gagal…….

buku masnawi 1 langit biru

Cover buku Masnawi satu

 

Sementara kesehatan wanita itu semakin memburuk. Melihat tidak ada jalan lain, Sang Sultan melangkah menuju masjid: “Ya Allah, Ya Rabb—Engkau Maha Tahu. Engkau mengetahui persis isi hatiku. Kendati demikian, Engkau pula yang berfirman bahwa manusia boleh saja menuangkan isi hatinya……..”

Demikian, sambil menangis ia menuangkan isi hatinya—sampai ketiduran……

Dan ia melihat seorang tua dalam mimpi, “Doamu terkabulkan, wahai Sultan. Orang asing pertama yang mendatangimu besok pagi adalah utusanku. Kekuasaan Allah akan bekerja lewat tangannya. Dan, wanita yang kau cintai itu akan sembuh.”

Esok harinya, Sang Sultan menunggu kedatangan si penyelamat yang dijanjikan. Dan betul, dari kejauhan dia melihat sosok seorang pria berwajah cerah. Sang Sultan bergegas keluar dari istana untuk menemuinya, “Sesungguhnya, Engkaulah yang kutunggu-tunggu selama ini. Engkaulah Kekasihku, bukan wanita itu.”

Sang Sultan baru sadar bahwa selama itu ia hanya mengejar bayang-bayang. Ia memeluk Si Penyelamat, mencium tangannya dan menanyakan kabar tentang kampung halaman serta perjalanannya.

 

Kisah ini indah sekali. Sang Sultan mewakili “manusia” yang sedang mengejar wanita “kebahagiaan”. Dia pikir dapat mendapatkan kebahagiaan dari luar diri. Padahal, yang ada di luar hanya bayang-bayang. Dia sibuk mengejar bayang-bayang, dan tidak pernah berhasil. Bagaimana anda bisa memegang bayangan? Bagaimana bisa memilikinya?

Sampai pada suatu ketika, dia sadar akan ketololan dirinya. “Masjid” yang dia tuju bukan bangunan dari beton dan batu, melainkan “Kekosongan Diri”-nya. Ia meniti jalan ke dalam diri. Ia berdialog dengan Allah, dengan Rabb, yang lebih dekat daripada urat lehernya. Ia mulai berbicara dengan Kesadarannya sendiri.

Orang tua yang dia temui adalah Kesadaran Tinggi dalam dirinya sendiri. Untuk menemui Si Tua dalam dirinya, ia harus “tidur” bagi dunia luar. Mimpi dia indah sekali. Mimpi dia adalah “Mimpi Kesadaran”. Jika anda tidur terhadap “dunia luar”, anda akan terjaga terhadap “dunia dalam” diri sendiri.

Lalu, muncullah Kesadaran Baru — Sang Penyelamat. Pada awalnya, dikira sesuatu yang baru, sesuatu yang asing, padahal tidak demikian. Kesadaran “baru” ini sesungguhnya adalah kesadaran “awal”. Kesadaran yang sudah “lama” terlupakan, dan kini muncul lagi ke permukaan, berkat perjalanan manusia memasuki keheningan dan kekosongan dirinya.

Kampung Halaman Sang Penyelamat tidak lain adalah Kampung Halaman Sang Sultan. Sang Penyelamat adalah Kesadaran diri Sultan sendiri, yang sekarang ia terjemahkan dalam hidup sehari-hari.

Moulana dari Rum, melanjutkan kisahnya……

 

Terlampiaskan sudah kerinduan Sang Sultan. Lalu dia bercerita tentang wanita yang dicintainya. Dan mengajak Sang Penyelamat memasuki istana.

Setelah memeriksa nadi wanita yang terbaring lemah di atas ranjang, Sang Penyelamat mengatakan, “Para tabibmu telah memberikan obat yang salah. Mereka telah mencelakakan wanita ini.”

Kemudian ia minta agar Sultan meninggalkan kamar dan membiarkan mereka berdua. Dan mulailah proses penyembuhan. Sang Penyelamat berhasil membujuk Wanita itu untuk berterus-terang. Ternyata, dia punya seorang kekasih seorang Tukang Emas yang tinggal di Samarkand.

Keluar dari kamar, Sang Penyelamat menyampaikan temuannya kepada Sultan. Hari itu juga Sultan mengirimkan utusannya untuk mengundang Si Tukang Emas.

Diundang oleh Sultan dan diberi janji akan mendapatkan pangkat dan tempat khusus di Kerajaan, Tukang Ernas tergiur. Dia meninggalkan usaha dan keluarganya untuk segera menghadap Sultan.

Dengan hangat, Sang Penyelamat rnenyambut kedatangan Tukang Emas dan mengantarnya ke Balai Pertemuan untuk bertemu dengan Sultan,

“Wahai Sultan yang diberkahi oleh Allah, jadilah jembatan untuk mempertemukan wanita yang kau cintai dengan pria ini, karena dialah kekasihnya.”

Tanpa ragu, Sang Sultan mengikuti petunjuk Sang Penyelamat. Sepasang anak manusia yang  saling mengasihi itu dipertemukan. Selama enam bulan hidup bersama, kesehatan wanita yang  tadinya sudah sekarat itu pulih kembali.

Sementara itu, sesuai dengan rencananya, Sang Penyelamat mempersiapkan racun untuk Si Tukang Emas. Setiap hari diberi sedikit bersama makanan, sehingga ia mulai bersikap aneh dan badannya pun melemah.

Sampai pada suatu ketika, wanita yang tadinya mencintai dia mulai jenuh dan tidak bisa menerima ulahnya lagi. Dan kematiannya disambut dengan napas lega.

Semuanya berjalan lancar. Sesuai dengan rencana Sang Penyelamat. Setelah wanita itu menjanda, Sang Penyelamat mendatangi dia, “Cukup sudah masa berkabungmu. Lupakan masa lalu: Apa gunanya mengenang dia yang sudah meninggal? Terimalah cinta Sri Baginda Sultan. Beliau sangat menyayangimu.”

Demikian, Sang Penyelarnat berhasil mempertemukan Sultan dengan wanita yang dikasihinya

 

Manusia yang tercerahkan akan menyadari  kelemahan dirinya. Kelemahan Sultan apa? Ternyata, “emas” kekuasaan dan kekayaan—itulah kelemahan dia.

Dia mengaitkan “Wanita Kebahagiaan” dan “Emas Kekuasaan dan Kekayaan”. Inilah kekeliruan yang harus diperbaiki, kesalahan yang harus diatasi. Cara yang ditempuh oleh Rumi persis sama seperti cara yang ditempuh oleh para praktisi Tantra di Pegunungan Himalaya. Tantra berarti “metode”, “tareqat”. Cara yang ekstrem, tetapi pasti berhasil.

Cara itu seperti menganjurkan seorang perokok untuk menambah jumlah rokok yang dihisapnya. Hari ini masih 2 pak, mulai besok 4 pak. Esoknya lagi 8 pak, kemudian 16 dan 32. Sampai si perokok menjadi jenuh. Dan asap rokok saja akan membuat dia merasa mual.

Jalan ini pula yang ditempuh oleh “Kesadaran Penyelamat” dalam diri “Manusia Sultan”. Sarnpai dia merasa jenuh dengan takhta dan harta. Dia berhenti mengejar. Alhasil, ia memperoleh “wanita kebahagiaan sejati” yang sesungguhnya berasal dari dalam dirinya sendiri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan Masnawi: Sultan dan Pelayan Wanita, Mengejar Bayang-Bayang Kebahagiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s