Renungan Diri: Melepaskan Diri dari Belenggu Ketakutan Kolektif akibat Teror Masa Lalu

buku kearifan mistisisme

Cover buku Kearifan Mistisisme

Kita sudah memperoleh pemahaman baru tentang pengaruh teror massa. Sebuah teror yang dialami sekelompok orang di masa lalu menjadi teror dalam batin yang menghantui masyarakat luas sampai kini, yang sama sekali tidak mengalami teror tersebut. Silakan baca ulang:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/12/09/renungan-diri-intimidasi-membuat-ratio-kolektif-kita-tidak-rational-sadarlah-bangkitlah/

 

Meme dan Mistisisme

Meme: an element of a culture or system of behavior passed from one Individual to another by imitation or other non-genetic means. Oxford Definition

Meme, menurut Kamus Besar Oxford, adalah sebuah pola perilaku non-genetik yang diteruskan dari satu individu kepada individu lain lewat proses imitation—tiru-meniru.

Monyet-monyet di dalam eksperimen sebelumnya adalah korban meme. Rasa takut mereka adalah non-genetik. Tidak ada monyet yang takut memanjat. Mereka “dibuat” takut.

Dengan menakut-nakuti seekor, dua ekor monyet, para ilmuwan berhasil meneror setiap monyet di dalam kandang itu. Selanjutnya, para ilmuwan tersebut tidak perlu berbuat apa-apa lagi.

Roda Teror Berjalan Sendiri. Setiap penghuni baru terintimidasi, walaupun tidak ada yang menerornya. Para penghuni baru dalam kandang itu tidak pernah mengalami guyuran air dingin. Tidak ada yang meneror mereka, tapi mereka tetap “ketularan” teror dari penghuni lama.

Jika Anda bertanya kepada monyet-monyet itu, “Mengapa kalian takut memanjat dan mengambil pisang di atas?”

“Tidak tahu, dulu memang sudah begitu. Tidak ada yang boleh memanjat,” kiranya demikian jawaban mereka seandainya mereka bisa menjawab.

Demikian pula rasa takut kita terhadap berbagai hal yang sangat esensial bagi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Sama sekali tidak beralasan, tapi kita tetap takut. Kita dibuat takut, seolah disuntik dengan virus rasa takut. Inilah fenomena “meme”.

 

Meme adalah Antimistisisme. Meme adalah antikebebasan dan antikemerdekaan. Meme adalah rumusan untuk memperbudak, menguasai, dan menginjak-injak harkat dan martabat manusia. Meme adalah antikemanusiaan.

Ketika menghadapi fenomena meme ini, kita mesti selalu ingat pada apa yang dianjurkan oleh Professor Howard Zinn, seorang sejarawan, akademisi, dan aktivis sosial, yaitu untuk tidak mengikuti kehendak mereka yang ingin memperbudak atau menguasai kita. Ketika masyarakat menolak kehendak jahat seperti itu, ia menunjukkan kematangannya scbagai demokrat sejati.

 

“Without civil disobedience democracy does not exist.”

 

Mereka yang ingin melestarikan kekuasaan yang zalim menciptakan momok sekitar istilah civil disobedience, yang kemudian mereka terjemahkan sebagai “pembangkangan”.

 

Civil Disobedience bukan Pembangkangan. Civil Disobedience berarti “menolak peraturan-peraturan yang dibuat untuk merampas kemerdekaan rakyat; tidak taat pada kemauan segelintir elite yang ingin berkuasa untuk selamanya dengan menyebarkan teror; dan tidak membiarkan para pejabat korup seenaknya memelintir hukum dan menginjak-injak kemanusiaan demi kepentingan diri atau kelompoknya.

Menerjemahkan civil disobedience sebagai pembangkangan adalah upaya “teror”, persis seperti yang dilakukan para ilmuwan terhadap monyet-monyet dalam eksperimen mereka.

Mahatma Gandhi menggunakan senjata yang sama, civil disobedience, untuk melawan kezaliman kaum penjajah.

 

Civil Disobedience Hendaknya Diartikan sebagai Non-Complience to a Corrupt System—tidak tunduk, tidak menyerah, tidak menerima sistem yang korup.

Seorang mistik mengikuti Kehendak Gusti Allah. Karena itu, buku ini bermaksud untuk membuka telinga batin kita supaya dapat mendengar suara-Nya. Buku ini bermaksud untuk membuka mata batin kita supaya kita dapat melihat wajah-Nya di Barat, di Timur, di Utara, di Selatan, dan di mana-mana. Buku ini bermaksud untuk meningkatkan kepekaan diri supaya kita dapat merasakan kehadiran-Nya.

Untuk semua itu, sangat penting bahwa kita terbebaskan dari pengaruh meme, tidak menjadi monyet. Bahkan, kita mesti membiarkan monyet konyol di dalam diri kita mati supaya kita bangkit sebagai manusia.

Meme memperkosa kemanusiaan diri Anda. Meme menghaIangi kebangkitan Jiwa mistik di dalam diri Anda. Mengapa? Karena, meme adalah suatu keadaan ketika Anda tidak pernah mendapatkan guyuran DMT.

 

Meme Melemahkan dan Membelenggu Jiwa dengan benda dan kebendaan supaya Jiwa dapat diperbudak oleh siapa saja yang menguasai benda dan kebendaaan.

Bagaimana membebaskan diri dari pengaruh meme? Niat yang kuat untuk memanjat dan mengambil pisang; tidak mengikuti monyet-monyet lain; dan mengatakan tidak terhadap kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengendurkan semangat Anda.

Bangkitlah! Hadapi monyet pengecut di dalam diri Anda. Berilah dia pilihan sebagaimana dikatakan oleh Mahatma Gandhi: “Do or Die!”—berkarya, berjuang demi kebenaran, demi kemerdekaan atau gugur dalam upaya mulia tersebut.

Untuk apa hidup sebagai monyet pengecut? Jika ia tidak bisa dibujuk untuk menjadi pemberani, maka biarlah ia mati. Hidup sebagai monyet pengecut adalah penghinaan terhadap kemanusiaan diri Anda.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s