Renungan #Yoga Patanjali: Retret, Mempelajari Kitab Suci untuk Mengenal Diri dan Berserah Diri

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

“Tapah, bertapa atau mendisiplinkan diri; Svadhyaya, mempelajari kitab-kitab suci, atau mempelajari Sifat Diri yang Sejati; dan Isvara Pranindhana,Penyerahan diri pada Isvara, Ilahi Hyang Menerangi Sanubari setiap makhluk—inilah Kriya Yoga, Yoga atau Disiplin dalam Laku atau Perbuatan.” Yoga Sutra Patanjali II.1

Paramhansa Yogananda rnenggunakan istilah Kriya Yoga untuk latihan pernapasan tertentu. Boleh-boleh saja, sah-sah saja karena melatih diri juga merupakan kriya, laku, perbuatan. Asal, kita tidak lupa bahwa latihan saja tanpa memahami falsafah di baliknya, tanpa memahami tujuannya, pada suatu ketika akan menjadi mekanis—atau membosankan dan terlepaskan dengan sendiri.

SEBALIKNYA,MEMPELAJARI FILSAFAT SAJA—tanpa menerapkan dasar-dasar yang dipelajari itu dalam keseharian hidup—, membuat Jiwa kering, haus. Hidup kita menjadi sangat datar, hambar.

Yoga atau Disiplin ini adalah untuk dilakoni—di ‘kriya’kan. Tanpa laku, tiada manfaatnya. Dalam hal ini, Patanjali menjelaskan tiga laku utama:

TAPAH, BIASA DITERJEMAHKAN SEBAGAI ‘TAPA’ dalam konteks ‘bertapa’. betul, istilah ‘tapa’ dalam bahasa kita berasal dari tapah, namun pengertiannya bukanlah sekadar menjauhkan diri dari keramaian dunia, dan menyepi di hutan—lalu duduk manis bersila, memejamkan mata, dan tidak bergerak selama berjam-jam.

Jika kita bin melakukan hal itu, monggo, mangga…tidak ada salahnya juga. Asal tidak melakukan hal tersebut sebagai pelarian, untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Tidak, itu bukan tapa lagi.

MAKNA HARFIAH KATA TAPAH adalah ‘Memanaskan’. Jadi ber-tapah adalah pemanasan-diri. Makna ini perlu selalu diingat.

Renungkan,

Tapah bukanlah tujuan. Tapah adalah Pemanasan-Diri, warming-up, Laku-Awal untuk mempersiapkan diri.

Sebab itu, para Sophy atau Sufi mewajibkan setiap pemula, setiap novice untuk menyepi selama 40 hari. Setelah masa tersebut berakhir, barulah mereka diberikan pelajaran, dipandu. Masa Sepi atau Pemanasan-Diri itu penting untuk menguatkan niat dan tekad para pemula. Jika tidak mampu, silakan meninggalkan padepokan.

Tradisi mistisisme Kristiani mengenal berbagai macam retret. Dari yang singkat selama beberapa hari, hingga yang bersifat sepanjang usia, seperti yang dilakukan oleh para petapa Trappists.

Demikian, sesungguhnya Tapah dikenal dalam semua tradisi, semua ajaran Spiritual. Tujuannya pun sama, yaitu untuk pemanasan diri, untuk persiapan supaya seorang sadhaka, seorang seeker atau aspirant, seorang pelaku spiritual bisa ‘tahan banting’. Tanpa ‘pertahanan diri’ prima seperti itu, sadhana is simply not possible. Seseorang tak akan mampu melanjutkan disiplin diri hingga mencapai tujuan akhirnya, yaitu samadhi, pencerahan.

KEDUA, SVADHYAYA, yaitu mempelajari kitab-kitab suci atau Mempelajari Diri, mempelajari hakikat diri, mencari tahu ‘siapakah sesungguhnya aku?’

Svadhyaya tidak bertujuan membuat kita menjadi kutu buku. Tidak. Mempelajari kitab pun bukan untuk memperoleh gelar Ahli Kitab. tapi semata-mata untuk mengenal-diri, untuk menemukan diri yang sejati.

Selama ini apa yang terjadi?

Setiap buku, setiap kitab yang kita baca mengisi mind atau gugusan pikiran dan perasaan dengan berbagai informasi tambahan. Itu saja. Dengan demikian, mind atau gugusan pikiran makin gemuk, makin tebal—dan barangkali makin lemah, makin sakit.

Orang gemuk bukanlah orang yang sehat.

Kegemukan bukanlah pertanda kesehatan. Demikian pula dengan mind. Mind yang tebal, gemuk, dan tampak kuat, justru sangat lemah. Ia sangat bergantung pada informasi-informasi yang  diperolehnya dari luar. Mind sepeni itu menjadi intelektual, cendekiawan—dengan catatan “berdasarkan informasi luaran”. Mind yang gemuk, intelek yang terasa cemerlang, adalah sekadar “kesan” kesehatan. Bukan betul-betul sehat.

Svadhyaya tidak bertujuan menggemukkan mind atau intelek. Apa sebenarnya intelek itu? Intelek adalah mind plus, mind+. Itu saja. Mind tetaplah mind, cuma ditambah dengan berbagai informasi. Intelek bukanlah sesuatu yang luar biasa.

UNTUK MENJADI INTELEKTUAL, sekarang sangatlah mudah. Tinggal nongkrong di depan monitor komputer, berguru pada Romo Google dan menambah jumlah downloaded files. Baca files itu, sekali pun cukup, dan Anda siap untuk mendapatkan peringkat sebagai intelektual.

Untuk menjadi cendekiawan, adalah gelar yang dibutuhkan. Tidak ada syarat lain melebihi itu. Untuk memperoleh gelar, pengetahuan pinjaman dari buku, dari web, dari pihak ketiga mana pun sudah cukup. Tidak perlu meniti jalan ke dalarn diri untuk mencari tahu “sesungguhnya aku siapa?”

Svadhyaya berarti mencari jawaban untuk hal-hal, pertanyaan-pertanyaan yang sangat esensial. “Dari manakah asalku? Dari sini, setelah masa kehidupan ini, aku ke mana? Untuk apa pula keberadaanku di dunia ini?”

Yoga menuntut agar kita tidak puas dengan jawaban-jawaban yang kita peroleh dari buku—buku apa pun juga. Kita mesti “tahu sendiri” jawaban-jawabannya. Bukan berdasarkan pengetahuan pinjaman atau pihak ketiga—seotentik apa pun, seterpercaya apa pun sumber itu. Tidak, Yoga tidak puas dengan jawaban-jawaban seperti itu.

Sutra—sutra, rumusan-rumusan dari Patanjali ini merupakan sarana untuk menggali-diri dan menemukan jawaban-jawaban tersebut dari dalam diri sendiri!

Patanjali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tidak. Patanjali menunjukkan jalan, memberikan cara—beberapa cara, tinggal kita pilih mana yang lebih cocok untuk diri kita—kemudian kita mesti melakoni, mempraktikkan cara tersebut untuk menemukan jawaban.

 

TERAKHIR, KETIGA ISVARA PRANIDHANA, yaitu Penyerahan diri pada Isvara, Ia Hyang Menerangi Setiap Sanubari, Ia Hyang Bersemayam di dalam diri setiap makhluk.

Isvara tidak sama dengan Tuhan Hyang Berada di Lapisan Langit Tertinggi. Tidak sama dengan Tuhan Hyang Mahatinggi, Maha-abstrak, dan Mahajauh—sehingga, Tak Terjangkau.

Isvara adalah “Kesadaran tentang Ada-Nya Tuhan di dalam Diri kita sendiri”—di dalam diri saya dan diri Anda. Pranidhana atau Penyerahan Diri pada Isvara berarti Berserah Diri pada Diri-Sejati, Menyerahkan Ego dan segala Identitas-Diri palsu lainnya—mempersembahkannya di atas mezbah, di atas altar Jati Diri. Menyembelih kepala kehewanian di dalarn diri kita sendiri, menyembelih hewan-ego di dalam diri dan mempersembahkannya di atas meja persembahan sebagai sesajian.

Hewan-Ego di dalam diri kita laksana ular berkepala seribu, beranak-pinak. Dari keinginan dan kebiasaan-kebiasaan yang umumnya dianggap harmless—tidak berbahaya—hingga keserakahan, kecemburuan. Kekerasan, dan lainnya. Semua itu tanpa kecuali mesti dipenggal, disembelih—dan dipersembahkan kepada Isvara Jati –Diri.

“INILAH KRIYA Y0GA”—seperti telah kita sebut sebelumnya, Paramhansa Yogananda (baca juga Otobiografi Seorang Yogi yang diterjemahkan dan diulas oleh penulis — Ed.) memopulerkan salah satu latihan pernapasan, ditambah dengan beberapa mudra, beberapa sikap atau gerakan penunjang lain, dan menyebutnya Kriya Yoga. Bisa, karena Kriya berarti “karya”—sesuatu yang mesti dikerjakan, dilakukan, dilakoni. Dari pemahaman generik seerti itu betul…tidak salah. Namun, bukan latihan itu saja yang bisa disebut Kriya Yoga. Latihan apa saja bisa disebut Kriya Yoga.

Terlebih lagi jika kita memahami maksud Patanjali, Kriya Yoga tidak menyangkut latihan saja, tetapi menyangkut gaya hidu, sikap hidup, attitude. Ini penting. Segala macam latihan dimaksudkan untuk membawa perubahan dalam sikap hidup. Tanpa tujuan itu, apa guna latihan? Untuk apa?

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s