Renungan Diri: Jangan Menyalahartikan Viveka sebagai Analytical Mind!

buku hypnotherapy

Cover buku Neospiritual Hypnotherapy

 

Dengan Mengembangkan Viveka…

Kita dapat memilah mana yang bersifat memuliakan atau shreya dan mana yang sekadar menyenangkan atau preya. Memori-memori yang tidak memuliakan akan terlepas dengan sendirinya. semuanya akan secara otomatis keluar dari sistem kita.

Begitu pula dengan kebiasaan-kebiasaan tak berguna, seperti merokok, akan terlepas dengan sendirinya.

Dengan berkembangnya viveka, kita tidak perlu mengurusi setiap kebiasaan buruk secara terpisah, satu per satu. Semuanya akan terurusi sekaligus.

 

Jangan Menyalahartikan Viveka sebagai Analytical Mind!

Karena viveka bukanlah mind. Viveka adalah keadaan no-mind rnenuju bodhichitta.

Istilah analytical mind yang banyak digunakan dalam ilmu psikologi masih merupakan bagian dari 3 lapisan awal mind, di mana gelombang otak masih terdeteksi sebagai beta, alpha, atau theta.

Analytical mind bekerja dengan menggunakan memori balk/buruk yang mengambang di permukaan mind. Memori baik/buruk ini sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman mutakhir, kondisi sosial, pendidikan, dan hukum setempat.

Misalnya, analytical mind seorang warga masyarakat tertentu bisa saja membenarkan perkawinan antara seorang gadis yang baru puber dengan seorang pria yang jauh lebih tua. Namun, analytical mind seorang manusia Indonesia “secara umum”, tidak dapat membenarkan hal tersebut;

Viveka akan menimbang setiap kasus dengan menggunakan tirnbangan shreya-preya. Tidak sekadar menyikapinya, tetapi merenungkannya terlebih dahulu, “Kenapa orang tua itu mesti mangawini seorang gadis yang baru puber?”

Barangkali dijawab, “Karena, gadis itu yatim piatu. Dengan mengawininya, ia hendak memberi perlindungan kepada gadis itu.”

Viveka akan menyimpulkan, “Bila urusannya itu, maka ia tidak perlu mengawini gadis yang jauh lebih muda darinya. Angkat saja dia sebagai anak atau sebagai cucu.”

Viveka tidak hanya menolak preya atau kesenangan sesaat, tapi juga menawarkan solusi shreya yang sebelumnya tidak terpikirkan.

 

Mind Non-Meditatif dapat Mengelabui

“Ambil saja dompet yang jatuh itu, toh tidak ada yang melihat. Kamu tidak mencurinya. Kamu hanya memungut sesuatu yang jatuh. Kamu juga tidak tahu siapa pemilik dompet itu. Apakah kau mesti memasang iklan untuk rnencari tahu dompet itu milik siapa? Atau, apakah kamu mesti  menitipkannya di kepolisian. Bagaimana kalau diterima oknum yang tidak jujur? Bisa-bisa malah  ditilep.”

Seperti itulah dalil-dalil mind yang tidak meditatif. Ia sangat pintar, cerdas, bahkan boleh dibilang cerdik. Maka, ia mampu menipu kita untuk memercayai bahwa viveka kita sudah berkembang.

Viveka tidak akan berdalil demikian. Viveka menempatkan kita pada posisi orang yang kehilangan dompet itu. Apa yang kita harapkan dari orang yang menemukannya? Itu pula yang akan kita lakukan.

 

Viveka Tidak Berdalil

Karena, ia tahu apa yang mesti dilakukannya. Ia tidak bermain-main dengan kata dan bahasa. Ia tidak mencari pembenaran karena ia memahami apa yang menjadi tuntutan kebenaran.

Tapi ada kalanya, atau barangkali setelah membaca rulisan ini, mind kita berusaha untuk menipu kita: “Oke, saya berhenti berdalil. Saya sudah bukan mind lagi. Saya sudah mencapai tingkat no-mind. Saya adalah viveka dalam perjalanan menuju bodhichitta.”

Berkembangnya viveka memang menghentikan segala macam dalil, bahkan mengakhiri segala pertanyaan, tapi bukan dengan cara demikian. Viveka tidak pernah mengatakan, “Oke, saya berhenti berdalil. Oke, saya sudah mati, sudah bukan mind lagi. Saya adalah viveka.”

Dalil-dalil di atas sudah cukup umuk membuktikan bahwa mind belum mati. Ia masih eksis dan viveka belum berkembang.

Seorang yang menyatakan dirinya tidak angkuh sesungguhnya telah membuktikan keangkuhan dirinya. Peng-aku-annya itu sudah cukup bukti akan keangkuhan dan ke-aku-annya.

Viveka yang sudah berkembang tidak pernah bergembar-gembor tentang dirinya. Ia menyadari keadaannya sebagai masa transisi dalam perjalanan jiwa rnenuju bodhichitta. Ia sadar bahwa dirinya pun tidak kekal. Keberadaannya hanyalah selama mind dengan seluruh fakultasnya belum terserap oleh bodhicitta.

 

Viveka Bersifat Sangat Cair

Persis seperti sungai yang sedang mengalir. Setiap saat adalah saat yang baru bagi dirinya. Setiap saat ia mesti menentukan antara preya dan shreya berdasarkan keadaan saat itu. Ia tidak lagi bersandar pada memori-memori lama tentang baik dan buruk.

Karena itu, seorang yang ber-viveka tidak dapat diramalkan. Ia sendiri tidak dapat meramalkan tindakannya dalam keadaan tertentu. Seorang ahli sehebat apa pun tidak dapat memahami pola pikir dan sikap seorang Buddha atau seorang Kristus.

Bagaimana membenarkan amarah Yesus ketika ia menendang keluar para pedagang yang berdagang di pelataran luar Bait Allah?  Saya berusaha menjelaskan alasannya dalam buku Christ of Kashmiris (diterbitkan oleh AK Global Cooperation) dan A New Christ (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama). Alasan itu menyalahi peraturan komunikasi, apalagi yang saat ini diakui dan dipakai.

Pola neuro-linguist (NLP) mereka senantiasa berubah. Pola tersebut tidak mengikuti peraturan-peraturan baku yang berlaku bagi kita yang masih non-meditatif.

Seorang Buddha tidak bisa direduksi menjadi pola yang baku dan mati. Seorang Buddha adalah organisme yang paling hidup. Ia selalu berubah, selalu berkembang, selalu maju. Ia tidak pernah statis. Ia berekspansi bersama semesta. Ia telah menyatu dengan alam semesta.

Karena itu, adalah tidak mungkin bagi kita “mengikuti” Buddha dan memasuki alam meditasi dengan caranya. Ia pun tidak mengharapkan kita menjadi pengikutnya. Karena ia tahu bahwa setiap orang mesti jalan sendiri. Seorang Buddha tidak meninggalkan jejak, persis seperti burung-burung yang terbang di langit bebas. Mereka tidak meninggalkan jejak.

Seorang Buddha meninggalkan pesan, pesan hidup, pesan yang bergema sepanjang masa, “Aku telah terjaga. Kau pun bisa terjaga. Tidak ada yang membedakan diriku dari dirimu. Apa yang kuraih, kau pun dapat meraihnya.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s