Renungan Tao: Kasih Memuaskan Semua Pihak, Keadilan Tidak karena Mengikuti Peraturan yang Dibakukan?

buku Tao Teh Ching

Cover Buku Tao Teh Ching

Ia yang penuh dengan belas kasih dapat menyelesaikan segalanya dengan baik. la yang adil tidak selalu demikian. la akan gusar, apabila rakyat tidak mengindahkan perintahnya. Tao Teh Ching Bab 38

Kasih dan Adil merupakan dua sifat yang berbeda. Kasih dapat memuaskan semua pihak. Dengan kasih, Anda dapat menyelesaikan semua masalah, tanpa harus memaksakan kehendak Anda, ataupun memberlakukan peraturan-peraturan yang baku.

Di pihak lain, keadilan tidak dapat memuaskan semua pihak. Peradilan harus mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditentukan. Dan apabila ada yang tidak mengindahkannya harus dihukum.

Renungkan sejenak: Apabila kasih dijadikan dasar untuk penyelesaian masalah-masalah kita, pengadilan sudah tidak akan dibutuhkan lagi. Sibuknya pengadilan, bertumpuknya kasus-kasus yang belum terselesaikan, membuktikan bahwa landasan kasih kita belum kuat.

 

Apabila Tao terabaikan akan muncul Kebajikan. Apabila Kebajikan terabaikan akan muncul Kasih Sayang. Apabila Kasih Sayang terabaikan akan muncul Keadilan. Apabila Keadilan terabaikan akan muncul etika clan moralitas. Tao Teh Ching Bab 38

Mereka yang menempatkan moralitas di atas segalanya akan tersinggung. Menurut Lao Tze, yang paling utama adalah Tao. Mengikuti Tao, berarti bersifatkan Tao—alami. Alam selalu memberi; Anda pun akan selalu memberi. Anda tidak berkepentingan apakah pemberian Anda dihargai atau tidak, apakah pernberian Anda akan membawa hasil atau tidak. Anda akan rnemberi dan mernberi clan memberi.

Apabila sifat utama ini terabaikan muncullah Kebajikan. Berbuat baik, dengan penuh kesadaran berbuat baik, berarti sekarang Anda harus berupaya untuk berbuat baik. Kebajikan tidak lagi timbul dati nurani Anda secara alami. Anda harus rnengembangkannya. Ini pun masih berada pada peringkat kedua.

Apabila Kebajikan pun terabaikan, baru muncul Kasih Sayang. Melakukan sesuatu dengan Kasih, berarti Anda tidak mengharapkan apa pun dari tindakan Anda. Anda memberi karena Anda mengasihi.

Keadilan muncul, apabila Kasih Sayang pun terabaikan. Keadilan akan membuat Anda disegani oleh masyarakat, bukan disayangi. Dengan keadilan akan muncul peraturan-peraturan baku. Fakta-fakta akan lebih banyak diperhatikan. Kebenaran akan semakin jauh. Lihatlah cara kerja pengadilan. Setiap pengadilan membutuhkan bukti-bukri, saksi-saksi. Kesimpulan diambil berdasarkan fakta-fakta yang ada. Apabila terjadi manipulasi dalam penyajian fakta-fakta itu, pengadilan tidak akan berdaya. Seorang pembela yang jitu dapat mempengaruhi jalannya perkara.

Peraturan-peraturan, kode etik, norna-norma sopan santun, moralitas, pendidikan nilai-nilai kemanusiaan, semuanya itu muncul, apabila keadilan pun rnulai sirna. Anda harus membuat undang-undang kerukunan, karena tidak adanya kesadaran. Sekarang kita semua sibuk pada tingkat ini. Bayangkan, untuk menyempurnakan undang-undang saja wakil-wakil kita harus berdiskusi sampai berminggu-minggu. Mereka mengeluarkan biaya tinggi, menginap di hotel—hoteI mewah, memboroskan dana rakyat, yang belum tentu demi sesuatu yang menguntungkan rakyat banyak. Semuanya ini dapat dihindari, apabila kita kembah ke asal. Ikutilah alam ini. Seridaknya jadikan Kasih sebagai landasan, di mana kita berpijak. Masalah Anda akan terselesaikan.

 

Etika dan moralitas itu muncul, ketika terjadi kemerosotan ketulusan dan kepolosan. Demikian terjadilah kekacauan. Tao Teh Ching Bab 38

Kepolosan dan ketulusan merupakan sifat alami. Seorang anak kecil masih polos, masih tulus. Masyarakat, orangtua dan sistem pendidikan kita yang membuatnya menjadi cerdik dan licik.

Baru-baru ini saya berhadapan dengan suatu situasi yang sangat mengenaskan. Seorang anak yang berusia tujuh tahun harus membagi hidupnya antara dua orangtua yang telah berpisah. Setiap tiga-empat hari, ia harus pindah rumah. Ibunya seorang aktivis lingkungan hidup. Ia bersikeras bahwa anaknya harus menjadi “anak lingkungan”. Penggunaan shampo, sabun mandi tidak diperkenankan. Obat-obatan dihindari. Segala sesuatu yang menurut sang ibu “tidak alami” dibuang jauh-jauh.

Anak yang sama, apabila berada di rumah sang ayah, diberi obat untuk batuknya yang sudah membandel. Ia diperbolehkan mandi dengan sabun dan shampo. Ia boieh berbuat apa saja yang tidak diperkenankan di rumah ibu. Apa yang terjadi? Anak ini menjadi dewasa lebih cepat. Ia menjadi cerdik dan iicik. Setiap kali sebelum pindah ke rumah sang ayah, ia akan mandi dengan sabun, supaya sang ayah tidak mencium bau badannya. Ia sudah pintar menggunakan topeng. Di rumah ibu, ia lain—di rumah ayah, ia lain.

Anak seperti ini tidak akan pernah tumbuh normal. Ia tidak akan menjadi “anak lingkungan”. Ia justru akan membahayakan lingkungan. Sejak kecil ia telah dididik untuk menggunakan topeng. Dan siapa yang bersalah? Kedua orang-tuanya! Ego mereka masing-masing yang berbicara.

Yang aneh, kedua orangtua ini menganggap diri mereka spiritual, sadar. Aneh bin ajaib! Inikah kesadaran? Sewaktu saya menegur sang ibu, ia dengan gampang mengatakan bahwa nanti anak ini akan diberi terapi, sehingga dapat mengeluarkan apa saja yang terpendam. Inikah budaya kita? Membuat scseorang sakit, lantas mengobatinya? Terapi apa pun tidak akan berhasil. Anak ini sudah terlanjur menjadi korban ego orangtuanya sendiri. Watak dia sudah terbentuk. Ia akan tumbuh tidak waras. Orangtuanya boleh merayakan keberhasilan mereka. Memang anak itu menjadi pintar di sekolah, tetapi pada saat yang bersamaan ia juga menjadi licik.

Etika, moralitas, peraturan-peraturan dan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan-semuanya ibarat terapi yang Anda berikan kepada mereka yang telah menjadi korban ego Anda sendiri. Sadarlah!

 

Para cendekiawan yang membanggakan diri mereka, sebenarnya terperangkap dalam kebodohan mereka sendiri. Tao Teh Ching Bab 38

Persis seperti dalam kejadian di atas: Orangtua anak itu boleh saja menganggap diri rnereka pintar, tetapi sebenarnya mereka bodoh. Mereka tidak sadar, mereka egois. Semoga suara saya yang keras dan kasar ini terdengar oleh mereka dan mulai mawas diri.

 

la yang bijak akan memperhatikan kesederhanaan dasar, bukan kemewahan pada permukaan. Tao Teh Ching Bab 38

Apabila salah satu dari kedua orangtua. Itu sadar, hidup anak ini masih dapat diubah. Kepintaran di sekolah, loncat kelas dan lain sebagainya, merupakan kemewahan pada permukaan. jangan puas dengan apa yang ada pada permukaan. Biarkan anak ini tumbuh tanpa menggunakan topeng. Apa yang Anda sebut “alami” sama sekali tidak alami. Pemahaman Anda masih kacau. Bagaimana Anda dapat mengurus lingkungan luas, apabila lingkungan rumah yang sempit saja belum terurus? Saya mencintai Anda. Itulah sebabnya, saya harus menggunakan kata-kara yang provokatif. Saya mencincai anak Anda. Itulah sebabnya saya harus bersuara begitu keras.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s