Renungan Diri: Saat Dipanggil Menghadap-Nya, Jangan Memalukan Gurumu, Jaga Nama Baik Mursyidmu

buku tantra yoga

Cover Buku Tantra Yoga

Shah Abdul Latief menulis ratusan syair tentang yoga dan para yogi. Tentang pengalamannya hidup bersama para yogi. Terjemahan dalam bahasa Inggris yang diterbitkan di Pakistan berupaya untuk mengaburkan makna Sang Mursyid. Untung saya bisa mcmbaca karya Shah dalam bahasa aslinya, bahasa Sindhi, bahasa ibu saya.

Dengarkan:

Catatan: dikutip hanya terjemahannya saja dan kutipan dalam bahasa Inggris tidak dikutip (pengkutip).

 

Bila engkau ingin menjadi seorang Yogi, jagalah mulutmu tertutup rapat.

Kuncilah mulutmu, sehingga tertutup terus.

Giwang di telingamu sangat berat, toh tidak menyusahkan kamu.

 

Giwang di telinga bukan sekadar perhiasan. Tetapi untuk mengingatkan kita supaya daun telinga terbuka lebar, mau menerima masukan dari mana saja, dari siapa saja. Dan bila tidak dibutuhkan, masukan itu harus masuk lewat satu telinga, keluar lewat telinga lain.

Shah mengajak kita untuk menggiwangi mulut. Ya, bukan hanya telinga. Tetapi mulut pun harus digiwangi. Biar tertutup rapat, tidak terbuka sepanjang hari. Bicara seperlunya. Jangan terlalu banyak bicara. Terlalu banyak bicara selalu menimbulkan masalah.

Seorang Master Sufi lain, dari Sindh juga – Saaiin Kalandhar — mengatakan,

 

Mata, telinga dan bibirmu harus tertutup rapat.

Dan setelah itu, bila masih tidak bisa melihat Tuhan, ketawailah diriku.

 

Melihat hal-hal yang tidak perlu dilihat, mendengarkan sesuatu yang tidak perlu didengarkan, mengucapkan kata-kata yang tidak perlu diucapkan adalah memboroskan energi kita. Kesadaran kita mengalir ke luar terus. Lalu bagaimana bisa menemukan Tuhan di dalam diri?

Logika Saaiin Kalandhar sederhana sekali. Allah Maha Hadir. Ada di mana-mana. Bila kita tidak merasakan Kehadiran-Nya di dalam diri, itu karena kesalahan kita sendiri. Kesadaran kita terus menerus mengalir ke luar, tidak pernah mengalir ke dalam. Lalu bagaimana bisa merasakan Kehadiran-Nya di dalam diri?

 

Melanjutkan syair Shah Abdul latief:

 

Jangan memakai katun, pakailah baju yang terbuat dari kulit.

 

Berarti apa? Mulai besok Anda harus memakai baju dari kulit. Pakaian dalam dari kulit. Pakaian luar dari kulit. Topi dan jaket dari kulit…… Yang jelas anda sudah tidak bisa belanja di Tanah Abang dan Mangga Dua. Mau beli baju, harus ke Plaza dan Mall. Tidak demikian maksud Shah.

Di Zaman Shah, kulit jauh lebih murah daripada katun. Bahkan tidak diperjualbelikan. Banyak kulit yang dibuang begitu saja. Siapa yang mau pakai kulit hewan? Anda tinggal rnemungutnya dari tong sampah. Dikeringkan, dijahit clan jadilah sebuah baju.

Maksud Shah, hiduplah dalam kesederhanaan. Sekarang, hidup sederhana ya berarti justru menggunakan bahan katun. Bahan yang mudah diperoleh. Tidak ada sutera di Indonesia, ya jangan pakai sutera. Untuk apa mengimpornya dari luar negeri?

 

Tidak cocok bila engkau menggunakan alas kaki……..

 

Takut kena duri? Takut kepanasan? Berarti engkau belum mencapai keseimbangan diri. Berarti engkau belum bisa melampaui dualitas sakit-sehat dan panas-dingin. Berarti, engkau belum kenal yoga dam belum pantas disebut seorang Yogi.

Lagi-lagi, jangan terperangkap dalam permainan kata. Biia kesadaran yoga bisa dicapai dengan menanggalkan alas kaki, maka hewan-hewan di hutan bisa disebut Yogi. Maksud Shah, hendaknya para praktisi yoga berupaya untuk melampaui dualitas suka-duka, panas-dingin, dan sebagainya.

 

Lakukan semua ini sehingga Allah tidak menyalahkan kamu.

 

Dalam bahasa Sindhi, kata-kata yang digunakan untuk ”…… so that Allah will have nothing against you” sungguh indah. Rabba Wattu Gilaahu Na Thiye. Untuk memahami kata-kata ini, kita harus memahami budaya Sindh. Apa pun agama yang dianut oleh seorang Sindhi, ada tradisi, adat-istiadat kuno yang masih mereka pegang teguh. Misalnya menyangkut perkawinan. Setelah akad nikah, seorang anak perempuan akan meninggalkan rumah orangtua. Dia akan memuiai hidup baru bersama suami dan keluarganya. Saat itu, orangtua perempuan akan berpesan: “Nak, jagalah nama baik orangtuamu. Sahuran Wattu Gilaahu Na Thiye — Jangan sampai keluarga suamimu menyalahkan kami, pendidikan apa yang telah kami berikan kepadamu.”

Kata-kata singkat dalam bahasa Sindhi ini sarat dengan maknai Dua baris untuk menerjemahkan 5 kata.

Apa maksud Shah? Dengan mulut digiwangi atau tidak, engkau tetap saja bertemu dengan Tuhan. Dia tidak pilih kasih. Setiap orang juga diterimanya. Dia tidak hanya mengurusi mereka yang “bergiwang”. Yang tidak “bergiwang” pun diurusi-Nya.

Dia tidak hanya mengurusi mereka yang kita anggap “baik”. Penjahat pun diurusi-Nya. Bukankah Dia Maha Memaafkan? Adakah kejahatan yang tidak dapat diampuni oleh-Nya?

Dia tidak hanya mengurusi Surga, Neraka pun ada di bawah Kekuasaan-Nya. Dia adalah Tuhan, Gusti, Allah, Penguasa Alam Semesta. Tidak ada sesuatu di luar Kekuasaan-Nya.

Akan tetapi, bila engkau menghadapi-Nya dengan jiwa yang masih kotor, dengan batin yang belum bersih, maka engkau akan memalukan mursyidmu, gurumu. Pendidikan apa yang engkau peroleh selama ini? Pelajaran apa yang engkau dapatkan selama berada di dunia?

Bila engkau menghadapi-Nya dalam keadaan masih terikat dengan dunia, apa kata orang? Sahabatku, temanku — jangan mempermalukan aku!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan Diri: Saat Dipanggil Menghadap-Nya, Jangan Memalukan Gurumu, Jaga Nama Baik Mursyidmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s