Renungan #Yoga Patanjali: “BerKEYAKINAN” Kata Kunci! Sekadar Berkeinginan Berkehendak Tidak Cukup

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

 

“Atau, dengan bermeditasi—memusatkan kesadaran pada apa yang betul-betul dihendaki (dan diyakini).” Yoga Sutra Patanjali I.39

Saya masih ingat betul, sekitar awal tahun 1970-an ketika pertama kali membeli terjemahan sutra-sutra ini dalam bahasa Inggris—sebuah transkreasi indah oleh Shree Purohit Swami, yang sesungguhnya mudah dipahami—, saya tidak selesai membacanya. Baru membaca beberapa halaman, saya meletakkan buku itu, dan meletakkannya selama beberapa tahun.

SAYA BARU BISA MENGAPRESIASI SUTRA-SUTRA ini setelah mengenal Yoga sebagai laku sekitar tahun 1974-75. Saat itu, kebetulan ada seorang Guru yang berkunjung ke Indonesia. Penjelasannya tentang dasar-dasar Yoga sangat jelas, dan tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga mendorong saya untuk mulai melakoni ‘kembali’ Yoga sebagai Laku, latihan, sekaligus gaya hidup.

Setelah itu pula, ketika saya membaca ulang Sutra-Sutra ini, maka semua menjadi terang benderang. Sutra-sutra ini—percaya atau tidak—rasanya terlindungi oleh Jiwa Patanjali. Ya, oleh Jiwa Sang Begawan. Tiada seorang pun yang dapat memahami sutra-sutra ini tanpa melakoni Yoga. Jika ada yang berpretensi memahami sutra-sutra ini tanpa melakoni Yoga, ia hanya menipu diri sendiri. Apalagi jika ia menganggap dirinya sudah rnenguasai Yoga dan bisa menjelaskan kepada orang lain—ia hanyalah membingungkan. Tiada suatu kebaikan yang dapat diperoleh dari orang seperti itu.

Dengan latar belakang dan, tepatnya, ‘dasar keyakinan seperti ini, marilah kita menyelami Sutra ke-39 ini.

“ATAU, DENGAN CARA BERMEDITASI—MEMUSATKAN KESADARAN—PADA ABHIMATA.” Umumnya, abhimata diterjemahkan sebagai ‘apa yang dikehendaki atau diinginkan’. Titik. Tidak tepat. Kata mata tidak hanya merujuk pada apa yang diinginkan, tetapi juga pada apa yang ‘diyakini’.

Sekadar berkeinginan dan berkehendak saja tidak cukup. Apakah kita meyakini dapat meraih apa yang diinginkan? Ini penting.

Dalam salah satu episode Mahabharata, Duryodhana ingin sekali menjadi raja. Keinginannya, kehendaknya kuat sekali. Namun, ia tidak yakin. la sadar bila dari segi kemampuan, sepupunya—Para Pandava—jauh lebih kompeten, lebih mampu. Maka, karena tidak yakin, ia pun mulai menggalang kekuatan dari luar. Ia membeli loyalitas Karna, seorang Satria, yang sesungguhnya adalah saudara kandung—saudara seibu—Pandawa, dengan cara menganugerahinya kekuasaan atas salah satu wilayah dalam kerajaan. Selain itu, ia pun berjanji akan mengangkat

Asvatthama—putra Guru Drona—sebagai menteri. ‘Nanti, jika aku menjadi raja.’ Dengan cara itu, ia hendak mendapatkan dukungan gurunya—Guru Drona, ayah Asvatthama.

Tanggapan Guru, Resi Drona, setelah mendengar pengakuan putranya, sangat tegas, ‘Duryodhana tidak akan menjadi Raja. Kalaupun menjadi raja, ia tak akan bertakhta lama.’

‘Kenapa?’tanya Asvatthama, ‘Apakah Ayah tidak senang kalau saya menjadi menteri?’

Drona menjawab, ‘Bukan karena itu. Alasannya, karena Duryodhana sendiri tidak yakin bila ia akan menjadi raja. Seseorang yang yakin akan menjadi raja, tidak menjual janji, tidak menjual harapan. Seseorang yang yakin, percaya diri—percaya pada kemampuannya sendiri—tidak akan menggalang dukungan dengan cara mengiming-imingi orang dengan janji-janji seperti itu.’

BERARTI “KEYAKINAN” ADALAH KATA-KUNCI. Tanpa keyakinan, keinginan saja, kehendak saja tidak menghasilkan apa-apa.

Apakah kita yakin dapat mencapai Samadhi? Apakah kita yakin bisa meraih keseimbangan diri? Bisa cerah, tercerahkan?

Atau, yakin pada sesuatu apa saja? Tanpa keyakinan, kita boleh membanting tulang dan bekerja keras seperti kerbau—hasilnya sudah pasti tidak seberapa. Itu pun kalau ada hasilnya.

Kenapa demikian?

Karena ‘keyakinan’ ibarat energi, bensin, kekuatan yang tidak hanya mendorong kita untuk bekerja keras, tetapi juga untuk mengembangkan kreativitas, efisiensi, dan sebagainya.

Tanpa aliran energi keyakinan, kendaraan-diri berjalan dengan menggunakan bahan bakar serep. Mau berjalan berapa lama? Habis cadangan, berhenti pula kendaraan.

Keyakinan ibarat aliran bahan bakar, gas, atau listrik tanpa henti, tidak terputuskan. Energi, yang mengalir terus-menerus.

Energi keyakinan inilah yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s