Renungan #Gita: Gangguan Mental, Bingung atau Munafik?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“Tak seorang pun bisa hidup tanpa berbuat sesuatu. Setiap orang senantiasa terdorong  untuk berbuat berdasarkan sifat dan kodrat alaminya.” Bhagavad Gita 3:5

Badan manusia adalah bagian dari alam semesta, terbuat dari elemen-elemen alami. Lewat badan kita dan badan makhluk-makhluk  lainnya, alam benda hendak mengungkapkan keberadaannya. Maka, tiada kemungkinan bahwa badan yang  terbuat dari materi kebendaan ini bisa duduk diam, tanpa berbuat sesuatu. Kita semua, seolah tidak berdaya untuk senantiasa bekerja, bertindak, berbuat.

APAKAH PARA PERTAPA DI TENGAH HUTAN TIDAK BERBUAT APA-APA? Ketika tidak memetik buah untuk makan pun, jika sepanjang hari dan sepanjang malam ia duduk  dalam posisi bersila “melakoni” meditasi atau laku spiritual lainnya, maka “laku” meditasi itu sendiri, “laku” spiritual itu sendiri sudah merupakan laku, lakon, tindakan, perbuatan.

Duduk diam dan merenung atau berkhayal pun perbuatan. Duduk bengong pun perbuatan. Duduk, tidur, bermalas-malasan – semuanya perbuatan.

Kita tidak bisa tak berbuat. Kita tidak bisa hidup tanpa berbuat sesuatu, tanpa berkarya, tanpa mengerjakan sesuatu.

 

“Seseorang yang duduk diam seolah telah berhasil mengendalikan indranya, padahal berpikir terus tentang kenikmatan indrawi; adalah orang bingung, munafik, dan tengah menipu dirinya sendiri.” Bhagavad Gita 3:6

Inilah ciri-ciri seorang munafik.

Barangkali ia memakai jubah dan mengenakan atribut-atribut lain untuk menunjukkan bila dirinya sudah tidak terikat dengan dunia benda. Barangkali sepanjang hari ia memasang senyum plastik pada bibirnya. Ia bisa membohongi orang lain, tapi bisakah ia membohongi dirinya sendiri? Tidak.

KRSNA MENYEBUT MEREKA VIMUDHATMA – Orang-orang yang bingung. Orang-orang yang menganut paham membingungkan dirinya sendiri.

 

Jika kita bergaul dengan mereka, maka kita akan ikut menjadi bingung. Para teroris yang membunuh atas nama kepercayaan adalah orang-orang yang bingung. Jika diperiksakan kepada seorang psikolog atau psikiater yang kompeten, sesungguhnya mereka sakit. Mereka mengalami gangguan mental dan emosional  yang berat. Sehingga para teroris tidak boleh dipenjarakan. Tidak boleh dicampur dengan narapidana lainnya. Mereka membutuhkan berbagai macam terapi khusus, yang mesti diberikan di rumah sakit, atau setidaknya di Nursing Home, tempat mereka dirawat.

Para teroris, umumnya, percaya bila mereka sedang berbuat sesuatu bagi Tuhan, bagi kepercayaan yang mereka anut. Dalam tahanan pun mereka tidak merasa bersalah. Sementara, pihak yang menahan mereka sudah melaksanakan tugasnya dengan menahan mereka. padahal tidak berguna sama sekali.

Mereka malah dapat mempengaruhi tahanan lainnya dengan ikut membingungkan mereka. para tahanan di penjara cukup vulnerable – rentan – terhadap pengaruh-pengaruh seperti itu.

Jadi seorang teroris yang ditahan itu bisa merekrut beberapa calon teroris selama dalam tahanan. Mereka menganggap diri mereka saleh, pejuang. Tapi apa iya? Dengan membunuh orang lain dan mengacungkan tangan sambil memuji Gusti Pangeran – apakah kita menjadi saleh dan pembela Gusti Pangeran?

Krsna rnengatakan: Tidak.

Ia mengatakan bila dengan cara seperti itu, mereka yang sudah bingung itu menjadi….

MUNAFIK ATAU MITHYACARAH – Berpura-pura. Nah, bingung dan berpura-pura – ini dua sifat, dua ulah yang berbeda. Orang yang bingung, seperti para teroris, membutuhkan pertolongan medis. Perlu diobati entah dengan cara pengobatan mana pun, asal efektif. Pola hidup Yoga dan meditasi adalah cara yang sangat efektif, jika mereka mau menerimanya.

Jadi, dalam keadaan bingung, seseorang seolah tidak cukup berdaya. Tapi seseorang yang berpura-pura, munafik adalah penderita gangguan mental dan emosional yang lebih berat lagi. Ia tidak bingung. Ia berpura-pura. Ia membohongi dirinya sendiri.

Krsna, seolah hendak mengingatkan kita bila….

ORANG-ORANG YANG BINGUNG PUN MEMILIKI NURANI – Mereka pun memiliki hati sanubari yang tidak pernah mati. Suaranya saja makin menipis jika diabaikan terus menerus.

Ada kalanya, seorang teroris yang awalnya bingung pun, mengalami sesuatu sehingga suara hatinya terdengar jelas. Kadang, karena suatu pengalaman yang mengguncangkan, misalnya seorang anak yang ikut terbunuh karena ulalmya, apalagi jika anak itu masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Maka, dalam keadaan shock itu, shock berat itu, ia keluar dari kepompong kebingungan.

Saat itu, jika ia mendapatkan bantuan dari luar, dari lingkungan — maka ia tersadarkan! Ia meninggalkan cara-cara lama. Tapi, jika tidak — dan kemungkinan besar tidak — karena lingkungannya tidak menunjang, maka ia akan melanjutkan profesinya, pemahamannya dengan berpura-pura, secara munafik! Ia tidak bisa lagi memisahkan dilinya dari lingkungan di mana ia berada, sementara sanubari yang sudah terjaga mengusiknya terus. Inilah kemunafikan.

Kembali pada ayat, seseorang yang berpura-pura, memberi kesan kesalehan, padahal pikirannya masih melayang ke mana-mana adalah munafik. Ketika kita memaksa diri untuk berpuasa, sementara pikiran membayangkan makanan melulu, maka kita termasuk golongan orang-orang munafik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s