Renungan Diri: Pikiran Jerih Payah Masa Lalu yang Membentukmu, Kesadaran Upaya Saat Ini yang Mengubahmu

buku bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

“Kenikmatan duniawi saja yang kau kejar sepanjang hidup; di usia senja, penyakit mulai mengganggu; walau tahu yang lahir kelak pasti mati, kau tetap tidak berupaya untuk mengubah sikapmu.” Bhaja Govindam ayat 28 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kita bertemu kembali dengan Shankara, lewat syair ini. Sudah tahu kematian tak terhindari, tapi manusia tetap saja berupaya untuk menghinclarinya. Sudah tahu kenikmatan dunia tak kekal, tetap saja manusia mengejarnya.

What’s wrong with us? Sepertinya kita cepat lupa. Manusia memang pelupa. Kadang hal itu menjadi berkah; kadang serapah. Itu sebab dunia kita selalu membutuhkan seorang Shankara, dan para Shankara lain, untuk mengingatkan kita: Nikmati dunia, tetapi jangan terlalu perrcaya pada kenikmatan. Janganlah kau bersandar pada kenikmatan semu itu, karena dinding kenikmatan bersifat ilusif. Dinding kenikmatan bukan dinding.

Tahu, sudah tahu—kita tahu semua itu. Tapi, lagi-lagi terseret… Kenapa? Karena di dalam kita ada yang bisa diseret—seret… Ada napsu yang kena hawa sedikit gampang berkobar. Kendati demikian, nafsu itu pun alami. Energi napsu sungguh dahsyat. Gunakan untuk mendaki puncak gunung atau menyelami dasar laut. Untuk menjelajahi dunia atau meniti jalan ke dalam diri. Pikiran anda bisa menggunakan energi nafsu untuk membunuh. Kesadaran anda bisa menggunakan energi yang sama untuk memberi kehidupan.

Dan, pikiran tidak perlu diupayakan. Kau lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payahmu di masa lalu. Itu yang membentuk lapisan-lapisan alam bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upayamu saat ini. Pikiran telah membentukmu. Kesadaran dapat mengubahmu.

Pikiran adalah program yang sudah ter-instal dalam dirimu. Ada bagian memori, ada obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya programmu tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kamu dari segala macam program.

Pikiran memperbudak dirimu.

Kesadaran membebaskan dirimu.

Di dalam dirimu sudah ada program seks dan sanggama. Ada pula rekaman ciri-ciri lawan jenis yang kau anggap ideal. Maka begitu ada stimuli dari luar, kau langsung terpicu. Kau tidak bisa lagi menikmati persahabatan dengan lawan jenis. Yang kau pikirkan hanyalah seks.

 

“Kenikmatan duniawi saja yang kau kejar sepanjang hidup; di usia senja, penyakit mulai mengganggu; walau tahu yang lahir kelak pasti mati, kau tetap tidak berupaya untuk mengubah sikapmu.”

Bila kau tidak mengubah sikapmu, tidak berupaya untuk mengubah program dasarmu, program itu pula yang kelak kau bawa ke alam sana, atau ke kelahiran berikutnya. Apa yang aka kau lakukan dengan nafsumu di alam sana? Are you getting my point? Bidadari berdada telanjang yang kau harapkan akan melayanimu di alam sana lahir dari keinginanrnu sendiri. Kemudian, di alam sana bila tidak menemukan bidadari, kau akan bingung sendiri. Kau akan balik ke sini untuk mencarinya… Oh, sudah berapa kali kau melakukan hal yang sama, dan masih tidak sadar juga.

Melihat keadaan kita, Shankara gerah, “Lakukan sesuatu!”

“Tapi nafsuku masih membara. Aku masih memutuhkan kenikmatan,” sahut kita, berkeluh.

Kita masih membutuhkan kenikmatan. Kami masih tertarik dengan dunia ini. Dan para Shankara merenung lama. Hasilnya adalah latihan-latihan seperti yang diberikan di ashram. Pengalaman anda dalam alam meditasi merupakan pengganti bagi kenikmatan duniawi yang selama ini anda kejar. Pada suatu ketika, anda sadar, “Ah, kenikmatan yang kuperoleh di sini jauh melebihi kenikmatan yang dapat kuperoleh dari luar sana.” Dan, anda akan meninggalkan “luar sana” untuk berada “di sini”.

Tetapi, itu baru langkah pertama. Langkah berikutnya, “Apa arti semua kenikmatan ini?  Saat itu anda sudah capek. Ya, capek menikmati lalu jenuh… And then, saat itulah anda tercerahkan. Saat Itu!

Ya, saat itu… Saat ini anda belum capek. Anda masih menikmati perjalanan dengan kapal pesiar ketimbang mendengarkan ocehan seorang Shankara.

“Shankara bisa tunggu,” anda pikir. “Bukankah setiap hari aku sudah mendengar ocehannya. Apa salahnya bepergian dengan kapal pesiar?”

Bepergian dengan kapal pesiar tidak salah. Silahkan. Selama pertanyaan seperti, “Apa salahnya?” masih muncul berarti anda belum capek. Exhaust your first, biarlah dirimu capek dulu. Memang, Shankara bisa tunggu. Kelilingi dulu dunia ini baru bertemu dengan Shankara. Saat ini belum waktunya kau bertemu dengan Shankara.

Adakalanya kau mendatangi Shankara bukan karena sudah capek dengan dunia, tetapi mungkin karena diajak teman; mungkin mengikuti trend. Saat ini yoga, meditasi dan sebagainya memang lagi nge-trend. Atau karena kamu sakit dan mengharapkan penyembuhan dari Shankara. Bila itu sebab kedatanganmu, kau tak akan bertahan lama. Teman yang mengajakmu datang mungkin dropout sendiri. Trend yang sedang kau ikuti rnenjadi basi dalam beberapa hari saja. Seorang Shankara juga tidak pernah mengaku sebagai penyembuh. Berhadapan dengan Shankara, bila kapal pesiar masih terbayang olehmu, cepat-cepatlah tinggalkan pekarangan rumah Sang Murshid. Beri kesempatan kepada mereka yang sudah capek dan jenuh, biar bisa berdekatan dengan Sang Guru.

Ya, biar bisa berdekatan dan berisrirahat sejenak, “Santai, rileks… Tarik napas, buang napas. .. Carilah posisi duduk yang nyaman. . …”

Tapi itu hanya di awal pertemuan. Jangan pikir seorang guru mengurung siswanya. Tidak. Ia pun mengajak keliling para siswanya. Dan, tidak sekadar keliling dunia, tetapi keliling antariksa; keliling semesta.

Bila kau masih ingin keliling dunia, kau belum membutuhkan Shankara. Biro perjalanan biasa pun dapat membantumu. Bila kau ingin keliling antariksa, semesta, hanya seorang Shankara yang dapat melayanimu. Sekian banyak maskapai penerbangan untuk wisdun (wisata dunia), tetapi hanya satu-dua biro saja yang melakukan perjalanan ke luar angkasa. Kemampuan seorang guru tambah bersama kemampuan muridnya. Hari ini baru keliling antariksa; besok entah keliling apa lagi? Ketahuilah, yang disebut semesta itu pun hanyalah sebutir pasir halus di pantai kehidupan.

Tapi, apa yang kau tahu tentang perjalanan bersama Shankara? Saat ini kau masih sibuk berjalan bersama Ahamkara, sama ego-mu.

“Kenikmatan duniawi saja yang kau kejar sepanjang hidup; di usia senja, penyakit mulai mengganggu; walau tahu yang lahir kelak pasti mati, kau tetap tidak berupaya untuk mengubah sikapmu.”

“Upaya apa Shankara? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana mengubah sikap? Aku belum capek, belum jenuh dengan dunia ini, walau kutahu pula kenikmatan yang kuperoleh selama ini semu, tak berarti. Aku belum layak duduk bersamamu, tapi janganlah mengusirku dari pekarangan rumahmu…. Apa yang harus kulakukan Guru?” ada juga murid seperti itu.

Maka Shankara pun tersenyum. Ia memeluknya, “Keyakinanmu akan menyelamatkanmu. Ketahuilah bahwa jiwamu terselamatkan sudah.”

Demi murid-murid seperti itulah seorang Shankara menggelar pesta raya di padepokannya. Ada nyanyian, tarian, macam-macam hiburan. Untuk apa? Agar panca indera kita terlibat semuanya, dan tidak lagi tergoda oleh stimulus-stimulus lain.

Ada yang mengeluh, “Koq pesta melulu?”

Daripada murung melulu! Daripada perang melulu! Dia tidak tahu apa tujuan Sang Guru dengan pesta-pesta itu.

Musik Sang Guru bukanlah musik biasa. Nyanyiannya bukan nyanyian biasa:

Ishaq Ibaadat, Love is my worship,

Cinta itulah Allah……

Cinta s’gala-galanya. Cinta di atas s’galanya….

Doa dan Puja, Aku tak Tahu. ..

Yang Kutahu Hanyalah Cinta…….

Dunia bagimu, Surga bagimu……

Bagiku Hanyalah Cinta……..

Cinta s’gala-galanya. Cinta di atas s’galanya….

 

Ungkapan dalam bahasa Sindhi, ishq ibaadat berarti “cinta adalah doa”, love is my worship. Mana bisa berdoa tanpa cinta. Mereka yang tahu nafsu kita ajak mengenal cinta lebih jauh. Kita ajak mereka menjelajahi alam kasih, di mana yang ada hanyalah Dia, Sang Maha Pengasih. Dan, semua itu kita lakukan lewat musik, lewat tarian, nyanyian dan sandiwara.

Bagai para avataar, hidup ini sekadar leela, permainan, sandiwara. Bagi mereka ibadah ibarat sebuah hiburan. Untuk bermain sandiwara kehidupan, untuk menghibur diri dengan ibadah, the very first step, langkah paling awal ialah melembabkan hatimu. Yang keras tidak bisa bermain. Yang kaku tidak mengenal hiburan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s