Renungan Diri: Terdengarnya Bisikan dari Dalam Diri Merupakan Tanda Viveka sudah Aktif?

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Tanya: Bagaimana jika menghadapi situasi tertentu di mana ketika kita sedang tidak meniatkan untuk bersadar-sadar atau melakukan perenungan, tiba-tiba ada yang “menginterupsi. Misalnya saat saya mau duduk bermeditasi, saya terganggu oleh sesuatu yang menimbulkan kegundahan dalam diri saya. Tiba-tiba ada suara yang datang, “buang kemarahan itu. “Nah, ini lembaga mana yang sedang bekerja? Yang seperti ini kan tidak pernah kita niatkan. Bukan pula hasil perenungan.

Kemudian, adakah sebuah deskripsi umum untuk “Buddhi”? Dalam bahasa Indonesia, kalau tidak salah, kata ini sudah diadopsi seperti dalam kata “budi pekerti”. Namun, ada pula yang cenderung menyamakannya dengan budaya.

Jawab: Pertama, adanya suara atau bisikan yang menyadarkan kita itu merupakan “hasil dari sering-seringnya berniat untuk menyadarkan diri”.

Misalnya, kita sudah sering meniatkan, bila dalam keadaan marah, kita harus menarik napas panjang dam membuangnya pelan-pelan. Dalam bahasa Bhagavad Gita hal ini discbut Abhyaas, praktek. Nah, pada saat amarah muncul dan diperlukan latihan pernapasan, latihan itu pun muncul sendiri. Seolah-olah ada yang menegur, ada yang memberikan wake-up call: Terjagalah, jangan tidur lagi.

Berarti, Iembaga Viveka di dalam diri sudah aktif. Dan semakin aktif lembaga tersebut, keadaan-keadaan yang tidak sesuai dengan aturan lembaga pun akan berkurang dengan sendiri, sampai pada suatu ketika, lembaga itu pun harus dilampaui.

Tentang pengertian umum Buddhi, dulu saya pernah membicarakannya dengan beberapa pendidik, termasuk almarhum Sudjono Humardani, Ki Suratman dari Taman Siswa dan rekan-rekan lain. Pemahaman Taman Siswa tentang budi pekerti sangat mirip dengan pengertian Buddbi dalam bahasa Sanskerta.

Budi pekerti tidak sama dengan pelajaran moralitas, atau seperangkat hukum dan peraturan do’s and don’t’s, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, yang kemudian dikaitkan dengan hukuman dan imbalan.

Berbudi pekerti berarti “menjadi moral” kesadaran, bukan karena takut dihukum, bukan karena ingin memperoleh imbalan, entah hukuman atau imbalan itu di dunia ini ataupun di dunia sana.

Budi pekerti atau Buddhi bermaksud untuk “memanusiakan manusia”. Untuk mengembangkan “nilai-nilai kemanusiaan” yang sudah ada di dalam dirinya. Suatu proses yang berjalan terus sepanjang hidup.

 

Tanya: Viveka itu akan ke mana penggunaannya?

Jawab: Dalam latihan-latihan meditasi di ashram kita menggunakan viveka untuk satu tujuan yang jelas sekali, yaitu untuk memisahkan mind dari no-mind.

Berada pada lapisan kesadaran yang berbeda, viveka dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda pula. Para Guru dari aliran Radhasoami misalnya punya tujuan lain. Pengikut mereka harus menghindari makanan non-vegetarian. Aliran-aliran lain, seperti Brahma Kumaris, Suma Ching Hai, dan sebagainya juga menganjurkan hal yang sama. Berada pada lapisan kesadaran fisik, hal tersebut memang penting sckali. Apa yang kita makan bisa memicu emosi, bisa menciptakan kegelisahan di mind.

Berada pada lapisan kesadaran energi, viveka bisa digunakan untuk menghindari rokok. Bahkan, menghindari tempat dan lingkungan yang bisa mempengaruhi lapisan energi secara negatif, dalam pengertian tidak menunjang evolusi batin.

Pada lapisan mental dan emosional, viveka digunakan untuk memilah bacaan mana yang baik, mana yang tidak baik, dalam pengertian “tidak berguna”. Serial teve yang kita tonton, berita sepanjang hari yang kita dengarkan misalnya, perlu nggak sih? Pergaulan kita, persahabatan kita menunjang tumbuhnya kasih, kesatuan dan kebersamaan atau justru sebaliknya?

Kemudian, lapisan kesadaran inteligensia. Viveka sudah mulai digunakan untuk menemukan “Sang Aku” yang sejati. Mana “aku badan”, mana “aku energi”, mana “aku pikiran dan rasa”. Mana pula “Aku” sesungguhnya!

Penggunaan viveka berkembang terus. Mengikuti perkembangan batin kita. Sejalan dan seirama dengan peningkatan kesadaran yang terjadi setiap saat.

Terakhir Aanandmaya Kosha. Lagi-lagi, terpaksa saya harus menerjemahkannya sebagai lapisan kesadaran spiritual. Berada pada lapisan tersebut, viveka pun harus dilampaui, sebagaimana kita harus turun dari kendaraan dan memarkirnya di luar, bila sudah sampai di rumah.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s