Renungan #Gita: Menganggap Sama Suka dan Duka Tidak Berarti Kezaliman Dibiarkan Menindas Kita

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“Berada dalam Kesadaran Jiwa, seseorang menganggap sama duka dan suka; ia menilai sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia; tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, ia memandang sama pujian dan celaan.” Bhagavad Gita 14:24

 

Banyak yang menyalahgunakan ayat-ayat seperti ini untuk bertindak semau mereka terhadap orang-orang yang dianggap berkesadaran Jiwa. Mudah sekali bagi hakim-hakim dunia untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para Socrates, karena mereka pun tahu para Socrates akan menerima kematian, sebagaimana menerima kehidupan. Yang mereka tidak sadari ialah bahwa penerimaan para Socrates terhadap hukuman mereka, tidak membebaskan mereka dari konsekuensi perbuatan konyol mereka.

 

ADA YANG PERNAH MENGKRITIK GANDHI – “Jika dia betul seorang Mahatma dan berjiwa besar, maka untuk apa mengajak bangsa India untuk memerdekakan diri dari penjajahan Inggris? Bukankah seorang bijak semestinya menganggap sama kebebasan dan penjajahan sebagaimana iamenganggap sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia?”

Dalam penilaian para penilai duniawi, yang belum tercerahkan pun, “penjajahan adalah ibarat segumpal tanah atau batu” dan kebebasan adalah “logam mulia”. Namun, mereka ingin memaksa Gandhi unruk menerima segumpal tanah atau batu sebagaimana ia menerima logam mulia. Kenapa? Kenapa mesti memaksakan penilaian mereka pada Gandhi?

Seseorang berkesadaran Jiwa memang memandang sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia — namun tidak berarti tanah akan dijadikan perhiasan, batu disimpan di berangkas, dan logam mulia diletakkan di pinggir jalan.

 

KESADARAN JIWA TIDAK MENGUBAH FUNGI BENDA-BENDA DI DUNIA – Ketika Krsna mengatakan bahwa bagi seseorang berkesadaran Jiwa, semuanya itu adalah sama; atau lebih tepatnya, “dipandang sama”, Ia tidak mengisyaratkan bahwa seseorang yang telah berkesadaran demikian akan “mengacaukan tatanan inasyarakat dengan memutar balik fungsi setiap benda yang ada di alam benda.”

Segumpal tanah adalah segumpal tanah; pun dennikian batu adalah batu; dan logam mulia adalah logam mulia. Mereka yang berkesadaran Jiwa, tidak terikat pada sesuatu. Namun ketidakterikatannya itu tidak berarti ia akan membenarkan “batu berkuasa” dan “logam mulia dijajah”.

Segumpal tanah dan batu adalah ibarat penjajahan. Bukan si penjajah, tetapi tindakan menjajah. Dan logam mulia adalah kemerdekaan, kebebasan.

Sebab itu, walau Gandhi menganggap sama semuanya, tetap juga ia berseru “Do or die! Lakukan sesuatu demi kemerdekaan, berjuanglah untuk meraih kemerdekaan atau matilah, gugurlah dalam perjuangan!”

 

AYAT-AYAT SEPERTI INI MESTI DIARIFI, dipahami secara bijak. Menganggap sama duka dan suka tidak berarti kita memiliki otoritas untuk menindas dan menyebabkan duka pada seorang Socrates atau Gandhi, kemudian mengharapkan mereka yang telah ditindas itu untuk menerima tindakan kita yang biadab.

Menganggap sama segala sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak berarti menyebabkan penderitaan umum sebagaimana yang dilakukan oleh para diktator dan penguasa zalim, yang selalu mengharapkan rakyat rela menderita demi “kebijakan-kebijakan”nya. Walau, kebijakan-kebijakan itu mengkhianati undang-undang negara, nilai-nilai luhur kemanusiaan, hukum alam, dan Ketuhanan yang Maha Esa, yang selalu digunakan sebagai slogan.

 

MENGANGGAP SAMA PUIIAN DAN CELAAN tidak memberi kita hak untuk mencela siapa saja, untuk membunuh Gandhi, menembaki Martin Luther King, Jr., atau memenjarakan Mandela.

Tidak, tidak demikian maksud Krsna.

“Menganggap sama” adalah semangat Jiwa, Kesadaran Jiwa. Semangat ini bukanlah sebuah konsep yang bisa seenaknya dipakai dan disalahgunakan oleh mereka yang belum berkesadaran Jiwa.

Dan, para bijak yang telah berkesadaran demikian pun, hendaknya tidak menyalahartikan bila “semangat Jiwa” dapat mengubah “nilai pasar”, dalam arti kata “tata-krama dunia benda”, sifat kebendaan, dan lain sebagainya.

 

SEORANG BIJAK TIDAK TERTARIK DENGAN KEKUASAAN – Tetapi ia pun tidak duduk diam ketika menyaksikan kezaliman merajalela dan kemanusiaan serta nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan sebagainya terinjak-injak di bawah kaki mereka yang berkewajiban untuk menegakkan nilai-nilai tersebut.

Krsna sedang mempersiapkan Manusia Baru — Arjuna — seorang Kesatria Berkesadaran Jiwa, yang tetap berkarya di tengah masyarakat dunia, di tengah pasar alam benda.

Tugas Krsna memang berat — sangat berat.

Bagi seorang berkesadaran Jiwa, meninggalkan keramaian dunia untuk menyepi di tengah hutan – adalah  hal yang mudah. Sebaliknya juga, jika seorang sepenuhnya berkesadaran dunia benda, berkarya di tengah pasar dunia — sama mudahnya.

‘Adalah sebuah tantangan berat untuk berkarya di tengah hiruk pikuknya dunia benda, dan mempertahankan Kesadaran Jiwa. Inilah “agenda” Krsna bagi Arjuna, bagi kita semua!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s