Renungan Masnawi: Mimpi Firaun, Apa Daya Fir’aun jika Tangan Dia Melindungi Musa!

 

buku masnawi musa mimpi firaun

Bayi Musa

Sebelum kelahiran Musa, Fir’aun sudah diberi peringatan lewat mimpi. Bahwasanya kelahiran seorang Nabi Israel akan mengakhiri kekuasaan dan kerajaannya. Para ahli nujum yang diberitahu ihwal mimpi itu meyakinkan Fir’aun, “Jangan Khawatir. Kira bisa rnencegah kelahiran dia.”

Mereka menguasai berbagai cabang ilmu, termasuk ilmu perbintangan. Dan berdasarkan perhitungan, mereka bisa mengetahui persis hari persetubuhan calon orangtua nabi. Persetubuhan yang akan berbuah dan melahirkan Musa.

Maka mereka menasihati Fir’aun agar sepanjang hari itu laki-laki Israel dipisahkan dari wanita, sehingga tidak ada satu pun lelaki yang bertemu dengan wanita dan tidak akan terjadi persetubuhan. Fir’aun rnerasa lega dan rnemberi pengumuman agar pada hari yang diramalkan itu, para lelaki Israel berkumpul di alun-alun.

“Atas jasa-jasa kalian selama ini, Fir’aun ingin memberi hadiah. Pada kesempatan yang sama,kalian juga bisa melihat wajah Fir’aun untuk pertama kalinya.” Demikian bunyi pengumuman.

Sangat menggiurkan. Karena selama itu, budak-budak Israel memang tidak diperkenankan melihat wajah Fir’aun. Setiap kali kereta Fir’aun lewat, mereka harus bersujud.

Pada hari yang ditentukan, mereka semua berkumpul di alun-alun. Tersedia bagi mereka makanan, minuman, dan buah-buah pilihan. Sepanjang hari mereka berpesta-pora. Menjelang senja, datanglah Fir’aun dengan rnembawa hadiah yang dijanjikannya. Betul, para budak-budak itu diperkenankan melihat wajah Fir’aun. Mereka semua senang sekali. Pembagian hadiah baru selesai menjelang malam. Maka diberi pengurnuman lagi, “Karena sudah larut malam, tidurlah kalian di dalam tenda-tenda yang telah disiapkan untuk kalian. Besok baru pulang ke tempat rnasing-masing.”

buku masnawi 3 menggapai

Cover Buku Masnawi Tiga

Di antara orang-orang Israel itu, ada yang bernama Imran. Fir’aun sangat menyayangi dia, sehingga diangkatnya menjadi Bendahara. Kepada dia pun Fir’aun berpesan, “Jangan ke mana-mana. Kamu tahu tentang hari persetubuhan. Maka jangan pulang ke rumah. Jangan melayani istrimu malam ini.”

“Tidak Baginda, tidak. Saya tidak akan pulang ke rumah. Bahkan saya tidak akan meninggalkan pintu kamar Baginda. Saya akan tidur di sini saja“ jawab Imran.

Menjelang subuh, datanglah istri Imran ke istana dan menemukan suaminya berada di depan pintu kamar Fir’aun. Ketika dibangunkan, Imran terkejut, “Kenapa kamu berada di sini?”

“Sepanjang malam aku tidak bisa tidur,” kata sang istri sambil meraba-raba badan Imran. Sentuhan tangan si istri, membangkitkan nafsu birahi di dalam diri Imran, dan terjadilah persetubuhan antara mereka. Di tempat itu juga. Di depan pintu kamar Fir’aun.

Sementara itu, mendengar suara-suara di luar, Fir’aun pun terjaga dan bergegas menuju pintu kamar. Imran mendengar suara kaki Fir’aun dan cepat-cepat menyuruh istrinya pulang ke rumah, “Janganlah cngkau sekali-kali bercerita tentang persetubuhan kita tadi. Kalau sampai ada yang tahu, celakalah kita.”

Fir’aun menegur Imran, “Suara-suara apa tadi?”

“Dari arah alun-alun, Baginda. Mereka masih bersenang-senang,” Imran membohongi Fir’aun.

“Tidak, Imran. Tidak. Aku punya firasat kuat, ada yang tidak bercs. Pergilah ke alun-alun. Lihat, apa yang terjadi,” kata Fir’aun.

Ternyata, di alun-alun pun memang ribut. Para ahli nujum yang bcrkumpul di sana sepanjang rnalam, melihat bintang tertentu di Iangit yang menandai telah tcrjadinya persetubuhan antara sepasang suami-istri yang akan menjadi orangtua Musa. Mereka merasa kecolongan.

Ketika mereka menyampaikan hal itu kepada Imran, dia pun kaget. “Jangan-jangan nabi yang diramalkan akan lahir lewat persetubuhan dengan istriku,” pikir dia. Kemudian untuk menunutupi kekhawatirannya, dia malah memarahi para ahli nujum, “Apa gunanya ilmu kalian, jika tidak bisa melindungi Fir’aun?”

Tidak scorang pun rnenyangka bahwa Imran sedang berpura-pura. Ketika Fir’aun diberitahu, dia pun tidak mengira kalau Imran telah mengkhianati dirinya.

Para ahli nujurn bertemu kembali dan merencanakan sesuatu yang sangat keji. Sepuluh bulan setelah kejadian itu, Fir’aun dinasihati untuk mengumpulkan semua wanita di alun-alun. Mereka harus datang sendiri, tanpa suami mereka. Tetapi memmbawa anak-anak mereka yang baru lahir. Alasannya sama, mereka akan diberi hadiah dan kesempatan untuk melihat wajah Fir’aun.

 

Ada yang menggoda anda, “Ikutilah aku, dan engkau akan memperoleh pencerahan. Engkau akan mengalami ma’rifat, peningkatan kesadaran.” Anda tergoda, dan mendatangi orang itu tanpa pasangan anda. Pasangan di dalam kisah ini mewakili kesadaran anda. Karena bagaimanapun juga, hati kecil anda selalu sadar. Namanya juga hati kecil”, maka suaranya pun kecil. Tetapi, tak hentinya dia menasihati anda, “Janganlah engkau mendengarkan omongan si penipu itu.” Anda tidak menghiraukannya. Dan anda mendatangi para “master” penjual harapan. Lulu, apa yang terjadi?

 

Setelah mereka berkumpul di alun-alun, anak bayi mereka diambil secara paksa dan dibunuh saat itu juga. Alasan mereka kuat, “Demi keselamatan bangsa dan ncgara. Karena di antara anak-anak ini, ada seorang pembunuh. Kelak dia akan membunuh Fir’aun dan menyebabkan terjjadinya kekacauan di negeri ini.”

Hari itu, hanya satu keluarga Israel yang tidak hadir di alun-alun, keluarga Imran. Dan oleh karena itu, bayi mereka selamat.

 

Musa yang masih “bayi” dalam kisah ini ibarat tahap awal kesadaran. Harus dijaga, dirawat, bahkan disembunyikan. Banyak orang akan menggoda anda, “Wah kamu sudala hebat. Berbagi rasa, dong! Hadirilah pertemuan di ‘Alun-alun Dunia’. Banyak orang yang membutuhkan bantuan kamu. Banyak orang yang akan terbantu oleh kesadaran serta pencerahanmu.”

Jangan tergoda. Jangan mendengarkan suara mereka. Bilamana anda sudah betul-betul siap, tidak perlu desakan dari siapa pun juga. Keberadaan akan mendesak anda. Semesta akan mengantar anda ke atas panggung.

Rumi melanjutkan kisahnya:

 

Masih tidak puas dengan pernbunuhan masal itu, Fir’aun menugaskan para bidan untuk memata-matai setiap rumah. Adakah bayi yang lolos dari maut? Ternyata memang ada. Ada seorang bayi yang lolos dari maut, putra Imran. Dan mereka menyampaikan berita itu kepada Fir’aun.

Fir’aun menjadi berang, gusar. Saat itu juga dia mengirimkan beberapa petugas untuk menjemput anak tersebut. Ketika mereka berada di rumah Imran dan hendak mengambil Musa, sang ibu mendengarkan suara, “Lemparkan anakmu ke dalam api. Dia adalah sahabat Allah. Api tidak akan membakar dirinya.”

Sang Ibu percaya penuh pada suara yang didengarnya dan langsung saja melemparkan anak itu ke dalam api. Para petugas sangat bingung, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pulang keistana untuk rnenyampaikan berita tersebut kepada Fir’aun.

Fir’aun bisa bernafas lega. Tetapi tidak untuk waktu lama. Beberapa hari kemudian, ada lagi mata-mata yang menyampaikan kepada dia bahwa, “Putra Imran masih selamat.” Sekali lagi, dia mengirimkan beberapa petugas untuk menjemputnya. Maka terulang lagi kejadian sebelunya. Hanya saja kali itu, Sang Ibu dibisiki untuk membuang Musa ke dalam sungai. Itu pula yang dia lakukan di depan para prajurit, sampai mereka tercengang.

Kisah ini panjang sekali. Intinya adalah bahwa Musa tetap saja selamat. Apa daya tangan seorang Fir’aun, jika Tangan Dia yang Melindungi!

Jangan pula menertawakan Fir’aun. Karena ketidaksadaran Fir’aun ada juga di dalam dirimu. Jangan mencela dia, karena engkau pun tidak kurang kejam dari dia. Dia memiliki kekuasaan sehingga bisa bertindak semena-rnena. Engkau tidak memiliki kekuasaan, sehingga tidak bisa bertindak seperti Fir’aun. Ketidaksadaranmu, kejamanmu tidak terungkapkan—tidak muncul ke permukaan.

Kalau ada yang menunjukkan sifat-sifat Fir’aun yang ada di dalam dirimu, engkau tidak mempercayainya, engkau tersinggung. Kalau ada yang rnenunjukkan sifat-sifat Fir’aun di dalam diri orang lain, engkau mempercayainya.

Engkau lupa, bahwa api ketidaksadaran yang membara di dalarn diri Fir’aun juga membara di dalam dirimu. Fir’aun memiliki cukup bahan bakar, sehingga apinya semakin membesar. Engkau tidak memiliki cukup bahan bakar, sehingga apimu lebih kecil. Beda itu saja.

 

Para sejarawan Timur Tengah mengenang Fir’aun sebagai Penguasa yang Kejam. Sampai-sampai mereka lupa bahwa “Fir’aun” bukanlah nama orang. “Fir’aun” adalah nama jabatan, seperti Raja, Sultan, Kepala Negara. Tidak setiap Fir’aun, tidak setiap Sultan, tidak setiap Raja atau Kepala Negara kejam.

Api ketidaksadaran ada di dalam diri setiap orang, bahkan di dalam diri seorang…. .. pun masih tetap membara. Masih ingat kisah tentang …. .. di dalam Baku Kedua Masnawi, sehingga dia pun ditegur oleh Allah?

Ketidaksadaran berasal dari instink-instink hewani dalam diri rnanusia. Sesungguhnya apa yang disebut “ketidaksadaran” adalah “kesadaran rendah”. Manusia yang disebut “tidak sadar” belum mencapai “kesadaran rnanusiawi”. Dia pun ber-“kesadaran”, tetapi masih berkesadaran hewani. Dia pun memiliki naluri, tetapi belum mampu menyentuh lapisan nurani.

Pergaulan anda, orang-orang di sekitar anda, bahkan keadaan atau kedadukan dapat menjadi bahan bakar. Terlalu banyak uang, kekuasaan tanpa batas, semuanya bisa meniadi bahan bakar. Sehingga api ketidak-sadaran atau api kesadaran hewani semakin membesar.

“Seorang Fir’aun” disebut korup, telah menyelewengkan uang negara, harus dihukum dan diadili. Ah, lelucon! Yang menyebut dia korup, dirinya juga korup. Yang berteriak-teriak agar dia harus diadili belum bercermin diri. Lebih baik kita bercermin diri. Api di dalam diri dulu yang harus kita urusi. Setelah itu, baru mengurusi orang lain.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s