Renungan H Inayat Khan: Menghadapi Maut Kedudukan dan Ketenaran Tidak Membantu

buku sehat seimbang sufi

Cover Buku Hidup Sehat Seimbang Cara Sufi

Ajmer adalah salah satu dari sekian banyak kota kuno di India di mana nampaknya sejak berabad-abad tidak terjadi perubahan apa pun. Lorong-lorong sempit yang menjadi ciri khas kota-kota kuno di India memberi kesan seolah-olah Sang Kala tidak bergerak sama sekali. Seolah-olah waktu itu berhenti.

Saya perah tinggal di kota Ajmer selama hampir setahun. Yang membuat kota Ajmer terkenal adalah makam Moinuddin Chishti, seorang master sufi dari tarekat Chistiyah. Waktu itu saya baru saja berpisah dari guru saya Shekh Baba di Lucknow. Perpisahan itu sangat terasa, sepertinya menusuk-nusuk jiwa saya. Dalam keadaan itu, sering sekali saya mendatangi Dargah, makam Chishti. Duduk di sana selama beberapa menit saja, saya akan merasa tenang, tenteram. Terus terang, selama di Ajmer, saya tidak bertemu dengan seorang Master. Yang menjadi Master saya selama berbulan-bulan adalah Makam Chishti.

Rupanya Hazrat Inayat Khan juga pernah mengunjungi makam Chishti dan punya pengalaman yang sangat unik:

Sewaktu mengunjungi makam Chishti di Ajmer, Beliau merasakan ketenteraman dan ketenangan yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Jangankan seorang Hazrat Inayat Khan, siapa pun yang mengunjungi tempat itu selalu merasakan hal yang sama. Ramainya pengunjung yang datang berjubel-jubel, seolah-olah tidak pernah berhasil menembus keheningan tempat itu.

Malam itu, setelah melaksanakan shalat Tahajud, sembahyang tengah malam, tiba-tiba:

Hazrat Inayat Khan mendengar suara seorang fakir, seorang darvish, seorang sufi sedang membangunkan mereka yang sedang tidur: “Bangunlah manusia, bangunlah…. Maut dapat merenggut nyawamu kapan saja… jangan menyia-nyiakan waktumu. . . Bebanmu begitu berat, perjalananmu masih jauh. Bangunlah temanku, kawanku, sahabatku bangunlah…. Malam telah berlalu, matahari pun akan segera terbit, bangunlah, bangunlah…

Saya teringat kembali lagu favorit Ibu saya. Setiap pagi—saya ulangi—setiap pagi, Ibu menyanyikan lagu itu. Lagu yang dinyanyikannya dalam bahasa Sindhi itu, maknanya mirip sekali. Semasa hidupnya, hampir setiap hari saya mendengarkan lagu yang sama. Hampir lima belas tahun setelah Ibu meninggal, hari ini pun saya masih bisa mendengarkan gaung suara Ibu. Setiap pagi, saya masih mendengar suaranya:

“Bangunlah sahabatku, kawanku, bangunlah….

Bangunlah, dan ucapkan nama Allah…..

Siapkan dirimu untuk perjalanan yang masih jauh,

Bangunlah sababatku, kawanku, bangunlah….

 

Janganlah kau mempercayai nafasmu itu….

Sekarang masih bernafas,

sesaat lagi mungkin sudah tidak lagi….

Kapan maut merenggut nyawamu,

siapa yang dapat meramalkan?

Berhadapan dengan maut,

Para satria, para pahlawan pun tak berdaya….

Janganlah menunda perjalananmu,

siapkan dirimu….

Bangunlah sahabatku, kawanku, bangunlah…”

 

Hazrat Inayat Khan mungkin mendengarkan nyanyian yang hampir sama:

Beliau terharu. Dan airmata pun mulai mengalir, membasahi pipi Beliau. Masih duduk di atas sajadah, dengan tasbih di tangannya, malam itu Hazrat Inayat Khan menyadari, berapa tak berartinya keahlian manusia, kedudukan serta ketenarannya. Semuanya tidak membantu keselamatan diri manusia.

Malam itu, Hazrat Inayat Khan memperoleh pendalaman baru. Beliau menyadari bahwa dunia ini bukanlah panggung sandiwara yang dipersiapkan untuk menghibur manusia. Bukan pula pasar raya untuk melayani keinginan-keinginannya. Dunia ini bagaikan sekolah—di mana setiap jiwa harus tekun mempelajari mata-pelajarannya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s