Renungan Diri: Keterikatan pada Harta Benda dan Ketertarikan Penuh Nafsu bagi Lawan Jenis

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies). Terjemahan dalam bahasa Inggris dan Sanskerta tidak dikutip.

 

Sara Samuccaya ayat 474

Wahai Maharaja, adalah 3 jenis candu yang  dapat memperbudak

seseorang yang bodoh, tidak berakal sehat: wanita, makan/minum, serta kekuasaan.

Termabukkan olehnya, kesadaran seseorang merosot.

Ia tertidur lelap dalam ketidaksadaran.

Ia bertindak dalam ketidaksadaran, mencelakakan diri, dan mencelakakan orang lain.

Kembali, semuanya tergantung pada diri masing-masing.

Seorang wanita bisa juga dipandang sebagai ibu, saudara, atau anak.

Jika memandangnya sebagai objek seks saja, maka jelas cara pandang kita sudah keliru.

Begitu pula dengan makanan dan minuman —

jika sesuai dengan pola makansehat, maka tidak menjadi soal.

Dan, jika kekuasaan dianggap sebagai amanah, tugas mulia, atau dharma,

Maka menjadi  kesempatan untuk melayani.

 

Sara Samuccaya ayat 475

Keterikatan pada harta benda dan ketertarikan/kerinduan penuh nafsu bagi lawan jenis

adalah ibarat ombak yang tidak dapat dipetakan — tidak dapat diatur naik dan turunnya.

Adakah seorang bijak yang mencari perlindungan di bawah kepala ular berbisa?

Pengertiannya adalah, saat ombak emosi, atau rasa kepemilikan

atau nafsu sedang “naik” — kita merasa berada di atas angin.

Padahal, ornbak yang sedang naik itu bisa turun setiap saat. Pasti turun.

Persis seperti kepala ular kobra, yang kebetulan sedang tegak, tapi tak akan tegak selamanya.

Sewaktu-waktu ia bisa merunduk dan mematok kita.

Sebab itu, hendaknya kita selalu Waspada, eling dan sadar.

 

Sara Samuccaya ayat 476

Nak, terdorong oleh nafsu untuk memiliki lebih banyak lagi,

janganlah mengejar harta-benda secara berlebihan —

janganlah berekspansi terlalu jauh, terlampau luas.

Pada suatu saat nanti, beban badan pun akan terasa sangat berat.

Pengertiannya ialah, menambah kepemilikan,

menambah harta juga berarti menambah keterikatan.

Hal ini berlaku juga dalam relasi, hubungan, segalanya.

Semua itu membuat Jiwa merasa terbebani.

Padahal, sesungguhnya Jiwa menghendaki kebebasan.

Sebab itu, ingatlah kematian; jangankan harta benda, kawan dan kerabat —

badan yang selama ini kita manja dan indra yang kita layani —

semuanya akan terasa berat, dan akhirnya tertinggal juga.

 

Sara Samuccaya ayat 477

Adalah satu hal yang paling membedakan antara kekayaan dan kemelaratan —

satu hal yang paling beda antara si kaya dan si miskin, yaitu si kaya selalu cemas.

Demikianlah adanya; seorang kaya selalu cemas akan kehilangan, kerugian,dan sebagainya

 

Sara Samuccaya ayat 478

Tiada seorang pun penimbun harta yang bebas dari kecemasan

bebas dari kekhawatiran, dan bebas dari persoalan.

Sebab itu, hendaknya seorang bijak berhenti menimbun,

supaya terbebaskan dari segala kecemasan dan kekhawatiran.

Lagi-lagi, maksudnya bukan berarti uang itu jahat, atau

sumber segala kejahatan. Tidak. Uang dibutuhkan.

Tetapi tidak perlu mengejarnya mati-matian, jika sudah berkecukupan

Ada saat untuk mencari harta, ada pula saat untuk menikmatinya.

 

Sara Samuccaya ayat 479

Adalah perasaan seseorang yang menyebabkan pengalaman suka dan duka

Irama yang sama membuat seorang senang;

tetapi orang lain yang tidak menyukainya, tidak senang.

 

Sara Samuccaya ayat 480

(Hendaknya, seseorang yang tidak ingin berkeluarga senantiasa berpikir demikian:

Membina keluarga itu susah; mencari uang untuk membiayai keluarga pun susah.

Hanyalah satu hal yang mudah diperoleh, yaitu berbagai macam kesulitan dan penderitaan

Dengan cara ini, dengan berpikir demikian ia meraih kebebasan (dari segala godaan,

termasuk keinginan untuk berkeluarga, karena terdorong oleh nafsu birahi dan sebagainya)

 

Sara Samuccaya ayat 481

Karenanya, cukup sudah engkau menimbun harta.

Makin banyak lagi akan mernbahayakan.

Perhatikan ulat sutra yang terperangkap, terpenjarakan

di dalam kepompong, yang dibuatnya sendiri.

Pengertiannya, nafsu untuk menimbun lebih banyak adalah belenggu

Dengan melayaninya, kita membelenggu diri sendiri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies).

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s