Renungan# Gita: Hubungan Manusia, Dualitas (aku dan kamu) atau Advaita (aku dan kamu itu hakikatnya satu)?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Sapta atau 7 Resi di bawah para Maharesi adalah mewakili 7 jenis genetika awal. Kita sudah membaca perbedaan perangai 3 resi Agastya, Vasishtha dan Bardwaja yang rupanya juga mewakili 3 jenis genetika awal. Silakan baca ulang:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/11/19/renungan-diri-tafsir-berbeda-dari-satu-kitab-sama-berdasar-tabiat-penafsir-perbedaan-agastya-bhardwaja-dan-vasishta/

Bagaimanakah cara kita menghadapi manusia? Secara profesional kita berbicara dengan rekan sekerja dengan pandangan Dualitas, Dvaita dari Resi Sanaka Putra Brahma? Dengan anak kita yang masih kecil kita berhubungan dengan pandangan Visistadvaita dari Resi Sananda Putra Brahma, jadi ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Bila anak kita sudah berkeluarga, ataupun berbicara dengan sesama pejalan spiritual, kita berhubungan dengan pandangan Advaita dari Resi Sanatana Putra Brahma, berbicara dengan diri kita sendiri. Demikiankah? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 10:6 berikut:

 

Ketujuh Resi Agung; empat (maharesi) sebelumnya; dan empat belas Manu atau Leluhur Umat Manusia, semuanya lahir atas kehendak-Ku – dari merekalah umat manusia berkembang-biak di bumi ini.” Bhagavad Gita 10:6

 

Para peneliti modern sudah mulai menemukan bukti-bukti bila asal-usul manusia belum tentu dari sepasang gen yang sejenis atau mirip-mirip di benua Afrika. Pemetaan DNA di wilayah Peradaban Hindia membuktikan bila pengaruh gen asal Afrika terhadap gen mereka yang amat sangat minimal dan hampir tidak berarti. Demikian antara lain hasil penelitian Dr. Luigi Luca Cavalli-Sforza, seorang ahli genetikapopulasi yang boleh dikatakan adalah nama terbesar di bidangnya.

Para Resi zaman dahulu sudah mengatakan demikian. Para Resi yang berjumlah tujuh tersebut adalah Vasistha, Visvamitra, Bharadvaja, Agastya, Vamadeva, Atri, dan Kanva.

Sebelum mereka, ada 4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan penciptaan adalah berbeda. Sananda adalah caraa pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta. Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir, Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya.

Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluarga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatnya dan secara proporsional.

Tidak ada larangan untuk mengangkat seorang pembantu menjadi anak atau ahli waris, jika ia memang layak untuk itu. Jadi, tidak diskriminatif.

Sapta atau 7 Resi di bawah para Maharesi adalah mewakili 7 jenis genetika awal. Di antaranya, kita baru menemukan 2 jenis sebagaimana diisyaratkan oleh Dr. Luigi dan rekan-rekannya. Barangkali lima lainnya sudah punah. Atau, barangkali sisa-sisanya ada di pedalaman mana, sehingga kita belum bisa menemukannya. Kemungkinan terakhir ini tetap ada.

KEEMPAT BELAS MANU adalah 14 ketua suku dan sub-suku awal di seluruh dunia. Kiranya jumlah ini masih bisa diidentifikasi;

  1. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Hindia;
  2. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Cina;
  3. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Mesir;
  4. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Arab pedalaman;
  5. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Yahudi;
  6. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Afrika;
  7. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Maya dan Native Indians lainnya di benua Amerika;
  8. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Yunani, Romawi, dan Eropa.

Lagi-lagi, masih ada 6 suku lainnya, yang barangkali sudah berasimilasi dengan 8 suku serta sub-suku yang tersisa — misalnya suku-suku asli aborigin di Australia, dan lain sebagainya.

Di antara kedelapan suku dan sub-suku yang terdeteksi ini pun, ada yang merupakan hasil asimilasi antara beberapa suku. Misalnya Yunani (Yavani, Jawa) dan Yahudi (Yadava) – dua-duanya berasal dari wilayah Hindia yang kemudian berasimilasi dengan penduduk pribumi/suku aborigin setempat.

Jika ditarik ke belakang, maka sumber dari semuanya adalah kehendak-Nya. Atas kehendak-Nya lah semua terjadi. Suku-suku dan bangsa-bangsa adalah bak bunga-bunga yang beragam dipertemukan di dalam Taman Sari Bumi ini atas kehendak Gusti Pangeran. Ia-lah asal-usul segalanya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s