Renungan Diri: Orang yang Sejak Lahir Berhati Keras, Struktur Otak Bagian Empati Tidak Berkembang?

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Kekuatan Sara Samuccaya adalah keindahan dan kesederhanaannya. Kebenaran selalu terbukti lebih sederhana dari yang dipikirkan. Menyimak kejahatan yang merajalela dari yang “kakap” secara kasat mata sampai yang “teri” di lorong-lorong gelap di negeri kita saat ini, dan bahkan terdesaknya mereka “yang mulia”, Sara Samuccaya sudah menjelaskan dengan gamblang. Simak ajaran luhur yang relevan bahkan sampai masa depan.

 

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies). Terjemahan dalam bahasa Inggris dan Sanskerta tidak dikutip.

Sara Samuccaya ayat 341

Kendati sudah menebang batang pohon Nimba (atau Mimba),

dan menyirami sisa akarnya dengan madu dan mentega;

diolesi minyak wangi dan diberi sesajian berupa kalung bunga-bunga pilihan;

apa pun yang dilakukan — pohon yang tumbuh lagi tetaplah pahit.

(Para neuroscientist kontemporer akan membenarkan hal ini,

orang-orang penuh kekerasan memang “dari sononya” sudah demikian.

Struktur otak mereka menunjukkan kurang berkembangnya

bagian-bagian yang membuat seseorang berempati dan penuh welas-asih.)

 

Sara Samuccaya ayat 342

Dengan menimba ilmu, mendalami susastra — mempelajari kitab-kitab suci —

mereka yang berjiwa mulia makin menjadi rendah-hati.

Namun, mereka yang berkesadaran rendah, justru, menjadi sombong, angkuh.

Mereka termabukkan oleh pengetahuan yang rnereka peroleh.

Persis seperti cahaya matahari membantu sepasang mata manusia

mampu melihat pemandangan dengan jelas.

Namun, burung hantu justru terbutakan oleh cahaya yang sama.

 

Sara Samuccaya ayat 343

Ilmu pengetahuan, Harta-kekayaan, dan Kelahiran dalam keluarga terpandang —

ketiga hal ini makin memabukkan orang-orang yang bersifat angkuh.

Namun, mereka yang berbudi baik, berjiwa mulia,

malah menjadi makin rendah hati, dan makin lembut, karena ketiga hal yang sama

 

Sara Samuccaya ayat 344

Bagaimana dan untuk apa membandingkan hati yang keras

dengan besi yang relatif jauh lebih lembut?

Jika dipanaskan, besi masih bisa dibentuk, bahkan bisa dicairkan

Namun, hati yang keras tidak bisa diapa-apakan. Ia tetap keras.

 

Sara Samuccaya ayat 345

Sungguh sangat menakjubkan kecerdikan dan kelicikan mereka yang berhati keras

dalam hal menyembunyikan segala perbuatan mereka, segala kekerasan yang rnereka lakukan

Persis seperti api dalam sekam, api tak berasap dari jemari yang terbakar.

 

Sara Samuccaya ayat 346

Sungguh sangat memilukan dan menakjubkan pula keadaan dunia yang bolak-balik ini;

di mana seseorang yang bersifat mulia sering dipermalukan,

sementara mereka yang bersifat jahat justru menyaksikan dan bersuka-cita.

 

Sara Samuccaya ayat 347

Seseorang bersifat jahat senantiasa memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain,

walau sekecil biji sawi.

Sementara itu, kesalahan dirinya — walau sebesar vilva atau buah maja yang pahit —

tidak diperhatikannya sama sekali.

 

Sara Samuccaya ayat 348

Sebagaimana menghormati para tua atau yang dipertuakan

menyenangkan, membahagiakan orang-orang yang berjiwa mulia —

pun demikian, memfitnah, mencaci-maki serta menghujat mereka yang berjiwa mulia

sangat rnenyenangkan, membahagiakan, mernuaskan orang-orang yang berslfat Jahat.

 

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies).

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Bila kita sadar bahwa di dalam diri kita pun ada sifat bawaan jahat, bagaimana mengubah sifat tersebut menjadi mulia?

 

Silakan simak penjelasan Patanjali pada Tautan terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/11/24/renungan-yoga-patanjali-sifat-bawaan-kita-saat-ini-diperoleh-dari-kehidupan-masa-lalu/

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan Diri: Orang yang Sejak Lahir Berhati Keras, Struktur Otak Bagian Empati Tidak Berkembang?

  1. Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:

    Sara Samuccaya ayat 347

    Seseorang bersifat jahat senantiasa memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain,

    walau sekecil biji sawi.

    Sementara itu, kesalahan dirinya — walau sebesar vilva atau buah maja yang pahit —

    tidak diperhatikannya sama sekali.

    Sara Samuccaya ayat 348

    Sebagaimana menghormati para tua atau yang dipertuakan

    menyenangkan, membahagiakan orang-orang yang berjiwa mulia —

    pun demikian, memfitnah, mencaci-maki serta menghujat mereka yang berjiwa mulia

    sangat rnenyenangkan, membahagiakan, mernuaskan orang-orang yang berslfat Jahat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s