Renungan #Yoga Patanjali: Gen Sayur Mayur, Simpanse dan Manusia Mirip? Kehidupan itu Satu dan Sama?

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Kaivalya Padah (Hanya “Saja”-lah!)

“Setiap makhluk hidup adalah elaborasi atau penjabaran dari sebuah rencana orisinal, rencana awal, yang sama…. Kita semua (segala jenis kehidupan — a.k) juga sangat mirip. Bandingkanlah gen Anda dengan gen orang lain, tingkat kesamaannya rata-rata 99,9 persen….

Perbedaan kecil 0,1 persen adalah yang menyebabkan individualitas kita…

….tetap saja 98,4 persen sama dengan simpanse modern secara genetik… Kita juga sangat dekat dengan buah-buahan dan sayur-mayur.

Hampir setengah dari fungsi kimia yang terjadi dalam buah pisang juga terjadi pada Anda.

Sungguh tidak terelakkan lagi bahwa: Semua kehidupan adalah satu dan sama. Dan, perkiraan saya, pernyataan ini akann terbukti benar untuk selamanya.”

Bill Bryson

(A Short History of Nearly Everything, 2003)

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jangankan dari sudut pandang Jiwa, dari sudut materi murni pun sudah terbukti bahwa sesungguhnya kita Satu. Demikian pula alam-benda ini, satu adanya. Apa yang terjadi di belahan dunia mana pun, berdampak terhadap seluruh dunia. Kadang dampaknya tidak terdeteksi, tidak terasa, tidak diketahui—kadang terasa. Bagaimanapun—terdeteksi atau terasa, maupun tidak—dampak itu selalu ada.

 

PERTAMA KALI DUNIA MODERN “MERASAKAN” KESATUAN ITU ketika Krakatau meletus pada 1883. Diperkirakan bahwa letusan itu bukanlah pertama kalinya.

Bahkan meletusnya Gunung Tambora berdampak lebih dahsyat lagi. Namun karena waktu itu jaringan informasi belum cukup rnemadai, adanya dampak terhadap seluruh dunia tidak diketahui. Kemudian, sepefli pepatah dalam bahasa Inggris, “Ignorance is bliss”—karena tidak tahu, ya tidak merasa apa-apa. Walau sesungguhnya suhu dunia turun hingga 1 °C secara merata, tapi para ilmuwan tidak mengaitkannya dengan erupsi Tambora.

Lain halnya dengan erupsi Krakatau pada 1883. Saat itu jaringan kabel dalam laut sudah menghubungkan Asia dengan Eropa, Amerika, Australia—hampir seluruh dunia. Kejadian di Selat Sunda menjadi berita dunia dalam hitungan jam. Namun saya bercerila tentang crupsi Krakatau bukanlah itu, lebih dari itu, yaitu tentang…

DAMPAK ERUPSI KRAKATAU TERHADAP DUNIA. Simak beberapa catatan singkat berikut.

–              Suara dari letupan itu dapat terdengar hingga 3.000-an mil dari ternpat kejadian, yakni Krakatau di Selat Sunda.

–              Echo yang tercipta dari letupan dahsyat itu menimbulkan waves, getaran-getaran, yang terasa di seluruh dunia hingga 15 hari setelah kejadian.

–              Tidak hanya itu, apa yang disebut shock-waves, getaran-getaran yang mengguncangkan itu mengelilingi dunia hingga 7 kali!

–              Jutaan ton debu yang “tersimpan sementara” di lapisan udara yang tinggi (upper-air“), menyebar ke seluruh dunia, dan penyebaran itu terjadi selama beberapa tahun.

–              “Gerimis” debu halus tersebut berdampak terhadap manusia, ternak, dan tumbuh-tumbuhan. Bahkan menyebabkan gagalnya panen hingga di belahan Barat dunia.

Dengan segala keterbatasan sains dan teknologi abad itu, para ilmuwan sudah dapat mendeteksi dampak erupsi yang luar biasa.

Bayangkan jika sesuatu seperti itu terjadi pada abad ini. Kita akan mendeteksi banyak dampak lainnya, termasuk pada “mental/emosional” manusia, pada psikisnya. Tidak perlu berada dekat dengan tempat kejadian. Berada di mana pun di dunia ini, kita semua akan terpengaruh oleh kejadian sedahsyat itu.

 

“KESATUAN” KITA ADALAH SUATU KENISCAYAAN. Saya masih ingat, karena “merasa tertindas” selama bertahun-tahun oleh rezim yang “dianggap” menghalalkan segala hal demi “kesatuan”, maka setelah terjadi letupan emosi massa, kata “kesatuan” itu sendiri mulai dibenci.

Aneh-bin-ajaib-bin-toloI-bin-goblok-bin entah apa lagi! “Kesatuan” mau ditolak, mau dibenci, mau dihujat, ya kita sendiri yang rnenerima balik segala cacian, makian, penolakan, kebencian, dan hujatan itu.

Bukan, itu bukan “kesatuan”. Rezim yang berkuasa dan enggan melepaskan kekuasaan senantiasa mengupayakan “keseragaman”. Keseragaman adalah khayalan yang tidak pemah terwujud. Keberagaman adalah keniscayaan, kita tidak bisa diseragamkan. Seperti dampak erupsi Krakatau, tidak bisa diseragamkan—setiap negara “menerima dampak” sekian kilo tidak Iebih, tidak kurang. Tidak mungkin, tidak bisa.

Hal ini penting untuk dipahami sebelum menyelami sutra-sutra dalam bab berikut.

KAIVALYA MENERIMA KEBERAGAMAN DI PERMUKAAN, namun ia tidak berhenti di permukaan. Ia menyisir kedalaman alam-benda—makin didalami, makin halus, makin halus—hingga akhirnya seorang Yogi menemukan bahwa sesungguhnya alam benda pun hanyalah wujud lain dari energi yang sama.

Rumusan Einstein tepat untuk di permukaan, di mana hubungan antara energi dan materi sudah dirumuskannya secara tepat E = mc2.

Namun seperti yang telah kita bahas sebelumnya, ketika kita menemukan the core of matter atau inti materi, kita tidak bisa lagi menggunakan rumusan Einstein. Relativitas pun sirna. Yang ada “hanyalah energi”! Yang ada “hanyalah saja”! Kaivalya, itu saja.“

Bahkan, lagi-lagi seperti yang telah kita bahas, menyebut inti materi sebagai energi pun tidak tepat. Saat itu Materi juga adalah Energi, dan Energi juga adalah Materi. Keadaan ini hanya dapat dirasakan lewat samyama, dalam samadhi.

Mind, manah, gugusan pikiran serta perasaan; intelek; pengetahuan akademis, tiada sesuatu yang dapat menjelaskan keadaan “yang demikian adanya”—keadaan “kaivalya”—, maka kita perlu menerima undangan Patanjali untuk mengalaminya sendiri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Renungan #Yoga Patanjali: Gen Sayur Mayur, Simpanse dan Manusia Mirip? Kehidupan itu Satu dan Sama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s