Renungan Shankara: Jangan Menafikan “aku” Ilusif, Karena yang Berupaya Menafikan itu “aku” Juga

buku atma bodha adisankaracharya

Adi Shankara

Kasunyatan—Kcheningan, Kehampaan Abadi—melampaui aku-ilusif, melampaui pikiran, melampaui mind, ego. . ..

Bagaimana menjelaskan pelampauan itu? Taruhlah, keadaan itu memang tidak dapat dijelaskan. But, “it” has to be named, harus diberi nama. Terpaksa. Bila tidak, bagaimana memisahkannya dari mind? Maka para pujangga menyebutnya nirvaana—ketiadaan, seperti “ketiadaan cahaya” ketika pelita dipadamkan.

Ke mana perginya cahaya?

Dari mana datangnya cahaya?

Kehadiran pelita, sumbu dan minyak tidak serta-merta menghadirkan cahaya. Dibutuhkan pula seorang penyala, seseorang yang menyalakan pelita itu. Kemudian, pelita itu bisa dibiarkan menyala terus hingga padam sendiri, karena habisnya minyak. Padam, karena hangusnya sumbu. Padam, karena pecahnya pelita. Atau sengaja dipadamkan. Ditiup dan selesai perkara.

Meditasi adalah proses “peniupan”, kematian bagi identitas palsu, ego, mind, dan kebangkitan dalam jati diri, dalam kesadaran diri.

Nirvaana bukanlah sekadar pengalaman, tetapi pengalaman terakhir. “Terakhir” bila kita mengukurnya dengan kehidupan. “Terakhir” bagi identitas palsu, ego, mind.

Nirvaana bukanlah sesuatu untuk diagung-agungkan, tetapi untuk dialami. Bukan sesuatu untuk diperdebatkan, tetapi dirasakan.

Di zamannya, Shankara melihat para pelaku agama mengagung-agungkan Nirvaana dan berhenti pada tahap itu. Konsep Nirvaana hanya dipahami secara intelektual.

Kemudian, ramai-ramai mereka menafikan “aku”, menolak ”aku”, padahal yang tengah mengagungkan Nirvaana itu pun “aku”. Yang sedang menafikan aku pun “aku”. Yang menolak aku pun “aku”.

Kemudian, yang sedang mati-matian mempertahankan konsep dan pemahaman tentang Nirvaana itu pun “aku”. Yang sedang berdebat dan berdiskusi pun “aku”.

Itu sebabnya, Shankara tidak menolak “aku”. Penolakan “aku” sungguh Tak berarti, karena penolakan itu sendiri sudah membuktikan adanya “aku”—“Aku” yang sedang menolak.

Shankara “memanfaatkan aku”, memanfaatkannya sebagai alat tajam untuk mengeluarkan duri “aku ilusif” dari kakinya. Kemudian, baik alat maupun duri itu pun dibuangnya.

Membaca Shankara tidak cukup. Shankara harus ditemui. Dan, sering-sering ditemui, didekati, disapa, disalami. Kaki dia sudah tidak berdarah. Tak ada lagi duri yang menusuk kakinya. Lihat, lihat, kakimu masih berdarah. Masih ada duri yang menusuk kakimu.

Shankara adalah masa depanmu. Engkau adalah masa lalu Shankara. Ia telah berhasil membebaskan diri dari tusukan duri aku ilusif. Ia bisa. Engkau pun bisa.

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Menolak adanya duri tak akan membantu. Memang betul, duri itu ilusif, dan sesungguhnya tidak ada, tetapi keberadaannya sebagai “ilusi” harus diterima. Kemudian penerimaan itu sendiri menjadi pelampauan. Menerima ilusi sebagai ilusi berarti melampaui kesadaran ilusif. Are you getting me? Bila tidak, pejamkan mata dan renungkan kata-kata tadi….. Menerima ilusi sebagai ilusi berarti melampaui kcesadaran ilusif.

Shankara menemukan konscp dan pengonsepan di mana-mana. Shoonyataa, Kasunyatan pun telah menjadi sebuah konsep. Padahal, Siddhartha—Sang Buddha—mengajak manusia untuk “mengalami”-nya. Pengetahuan tentang Shoonyataa tidak berarti banyak, sebagaimana pengetahuan tentang makanan tak akan mengcnyangkan perut anda. Kecuali, anda sudah terbiasa makan angin. Ya, makan angin pengetahuan, dan tidak bisa membedakan rasa kembung dari rasa kenyang; tidak bisa membedakan penyakit dan rasa sakit dari kesehatan. Karena sudah lama menderita, orang bisa lupa kesehatan itu apa.

Banner utk di web

Mulailah latihan meditasi, jangan hanya membaca buku saja!

 

Shankara menghadapi orang-orang seperti itu. Mereka sudah lupa arti kesehatan. Maka, ia harus mengingatkan mereka, “He, kamu sakit.”

Para penderita pun pada awalnya menolak dia: “Sakit? Kamu yang sakit, Shankara. Lihat, kami kelompok mayoritas. Kamu saja yang bcrdiri sendiri. Dasar makhluk aneh. Urusi dirimu sendiri Shankara ….”

Shankara tidak marah. Ia malah mcrayu mereka: “Lihat, lihat, aku bahagia. Bahagiakah engkau?”

“Ya, aku bahagia.”

“Kenapa?”

“!?!”

“Ya, kenapa bahagia?”

“Karena, serba kecukupan; punya tabungan; punya kedudukan; punya nama. Justru kamu yang tidak memiliki apa-apa.”

“Dan, tetap saja aku bahagia. Tidak memiliki apa-apa, tapi bahagia. Bagaimana dengan kamu? Dapatkah kamu mempertahankan kebahagian tanpa harta, takhta, dan nama yang kau miliki saat ini?”

Mereka mulai memahami maksud Shankara: bahwasanya kebahagiaan mereka semu, dangkal, tak berarti. Kebahagiaan mereka sangat tergantung pada tabungan, kekayaan, harta, pada kekuasaan, takhta, pada ketenaran, nama. Hari ini ada, maka mereka bahagia. Bila besok tak ada lagi, kebahagiaan pun akan hilang, lenyap, sirna.

Maka, mereka mendekati Shankara: “Apa rahasia kebahagiaanmu? Apa yang membuatmu bahagia?”

“Tak ada rahasia. Kebahagiaanku muncul dari kesadaran diri, bahwa ‘aku’ tak tergantung pada apa dan siapa untuk merasakan kebahagiaan itu.”

Di antara mereka, ada yang berteriak histeris: “Tetapi, aku yang kau sebut itu tidak ada.”

“Bagaimana dengan aku-mu? ‘Aku’-mu yang sedang berteriak histeris saat ini?”

Peneriak pun membisu, diam. Mau bilang apa?

“Sudahlah, berhenti berteori, kawan….”

Dan Shankara mulai menyanyi, menari:

 

Govindam Bhaja Mooda-Mate, Sampraapte Sannihite Kaale, Nahi Nahi Rakshati, Dukrin Karane…..

Punaraapi jananam, Punaraapi Maranam, Punaraapi janani Jathare Shayanam

Govindam Bhaja Manda-Mate…….

 

“Engkau yang masih hidup dalam konsep dan pengonsepan, sebutlah nama Govinda—Nama Ia yang dapat membebaskan kamu dari kesadaran rendah. Tak ada jalan lain, kawan. Tak ada jalan lain.

“Bila tidak kau lakukan hal itu, terjebaklah engkau dalam siklus kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan ini. Lagi-lagi mati, lagi-lagi lahir kembali. Lagi-lagi rahim ibu yang engkau cari. Sebutlah nama Govinda—Nama Ia yang dapat membebaskan kamu dari kesadaran rendah.”

 

Shankara sungguh sebuah paradoks. Shankara mewakili kehidupan ini sendiri. Kadang, ia begitu tegas, keras. Dalam hal kesadaran, ia tak berkompromi.

Kadang, ia mengalir bersama sebuah lagu. Ia menari, menyanyi dan hanyut dalam nyanyiannya sendiri, dalam tariannya sendiri.

Shankara bukanlah seorang filsuf, seorang sastrawan atau ulama besar. Ia adalah manusia biasa. Ya, manusia biasa yang berhasil menggapai scsuatu yang luar biasa. Kalau Shankara bisa, anda pun bisa. Untuk itu ada latihan sederhana yang dapat anda temukan di buku ini setelah bagian Tanya-Jawab…….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s