Renungan Masnawi: Musa dan Tukang Sihir Firaun, Bisakah Ilmu Hitam Berperan, tanpa dikehendaki Tuhan?

buku masnawi rumi menari

Jalaluddin Rumi

Kendati tidak sepaham dengan Nabi Musa dan malah ingin bersaing dengan beliau, para ahli ilmu hitam di Mesir tetap saja menghormati Sang Nabi. Mereka mempersilakan Nabi Musa untuk lebih dahulu menunjukkan mukjizat.

Sang Nabi menjawab, “Jangan saya, kalian saja yang  mengawalinya.”

Demikian, semakin bertambah rasa hormat mereka terhadap Sang Nabi, sehingga setelah melihat mukjizat Nabi—mereka bertobat…..

Dimana letak perbedaan antara Nabi Musa dan para ahli ilmu hitam yang mengelilingi Firaun? Mereka menunjukkan mukjizat, Nabi Musa pun menunjukkan mukjizat.

Ilmu Hitam atau Putih—bukankah semuanya berasal dari Tuhan? Mana ada kekuatan yang bisa menandingi Allah? Katakanlah yang “hitam” berasal dari Setan. Bisakah Setan berperan, jika tidak dihendaki oleh Tuhan? Mampukah dia melawan Tuhan? Bisakah dia bersaing dengan Tuhan? Jelas tidak bisa…

Anggap saja “yang putih” dari Tuhan langsung dan “yang hitam” tidak langsung, karena harus melewati Setan. Jika ditarik benang ke belakang, sebelum ada Setan, sebelum ada ilmu hitam dan ilmu putih, siapa Yang Ada? Tuhan, bukan?

Lalu, apa yang membedakan Musa dan para ahli sihir? Para ahli ilmu hitam, para ahli sihir itu arogan, sombong, angkuh. Sedangkan Musa lembut, polos, tulus. Mereka suka pamer; Musa tidak. Mereka menggunakan kekuatan pikiran untuk mengadakan mukjizat. Dan pikiran itulah Setan—energi  sekunder yang sudah terkontaminasi karena interaksi kita dengan dunia luar. Sementara Musa menggunakan rasa, hati—Energi Ilahi yang masih Murni, tidak tercemar.

Rumi menegaskan:

buku masnawi 1 langit biru

Cover Buku Masnawi Satu

Manusia Allah bagaikan mulut. Tugasnya adalah  menyampaikan Pesan Allah. Engkau yang masih harus belajar mendengar, jangan membukamulutmu. Jangan cepat-cepat meniru Manusia Allah.

Seorang bayi yang baru lahir harus belajar mendengar. Setelah mendengar untuk sekian lama, ia baru belajar bicara. Seorang bayi yang tuli, yang tidak bisa mendengar, menjadi bisu. Tidak bisa bicara.

 

Kita belum cukup mendengar, tetapi sudah cepat-cepat ingin bicara. Hasilnya apa? Suara-suara tidak keruan. Berisik, tak berguna!

Tidak mau belajar, tetapi ingin menjadi guru. Tidak mau dituntun, tetapi ingin menjadi penuntun.

Padahal kata Rumi:

 

Adam pun harus belajar—ya, belajar menangis.  Karena itu, ia turun clari ketinggian Taman Firdaus ke dunia fana ini.

Jika kau rnenganggap dirimu sebagai turunan Adam, belajarlah darinya: belajar menangis. Siramilah Taman-Jiwamu dengan air mata…..

Sayang, kau belum bisa menghargai air mata. Kau masih mengejar hal-hal sepele yang tak berguna. Berhenti mengejar semua itu, maka kantongmu akan diisi dengan permata dan mutiara yang tak terhingga nilainya.

 

Kantong kita hanya satu. Dan sementara ini penuh dengan batu kerikil. Ada yang ingin mengisinya dengan berlian, dengan permata dan mutiara—tetapi mana kantongmu? Kamu harus mengosongkannya terlebih dahulu.

Sementara ini yang kita miliki hanyalah batu kerikil, sehingga yang kita bagikan juga kerikil. Mau membagikan berlian dan permata dari mana? Bagaimana bisa membagikan sesuatu yang tidak kita miliki?

Rumi sedang bicara tentang mind,yang berisikan pikiran-pikiran kacau— “batu-batu Kerikil Pikiran” yang justru membebani jiwa.

Pikiranlah yang menjatuhkan kita dari ketinggian Taman Firdaus. Pikiran pula yang “menjauhkan” kita dari Allah Yang Maha Dekat Ada-nya. Pikiran yang sibuk mengejar dunia bayang-bayang. Pikiran yang membuat kita lupa akan Dia Yang Terbayang. Pikiran yang membuat kita mencucurkan air mata untuk hal-hal sepele. Pikiran yang menghalangi pengembangan rasa, sehingga kita tidak pernah merindukan “Sang Maha Pemberi”. Yang kita rindukan hanyalah “pemberian-Nya”.

Dan, untuk itu Rmni memberi peringatan:

 

Jika wajahmu masih murung dan tidak bercahaya, ketahuilah bahwa yang menyusui kamu adalah Setan. Cara kamu mencari uang tidak wajar. Dan makanan yang kau beli dengan uang itu tidak halal.

 

Cara Rumi menafsirkan istilah “halal” dan “haram” akan membingungkan para ahli  agama. Rumi melampaui segala macam tafsiran dogmatis. Bagi seorang Rumi, agama sangat dinamis. Karena itu, perlu didefinisikan ulang dari waktu ke waktu.

Ajaran agama harus bersifat universal, harus relevan dengan segala zaman. Sementara, dogma-dogma yang kita anut sekarang sudah hanyak yang tidak lagi relevan dengan jaman. Lagipula, sudah jelas-jelas tidak bersifat universal.

Bagi seorang Rumi, “halal” dan “haram” tidak sebatas cap di atas bungkus mie instan. Dia akan bertanya, uang yang anda pakai untuk membeli mie itu diperoleh dengan  cara halal atau haram?

Saya pernah kenal dekat seorang pejabat  tinggi. Dia berkelakar, “Uang yang saya pakai untuk belanja keperluan dapur sudah pasti halal. Dari gaji saya, koq.”

“Lalu bagaimana dengan yang lain-lain…?” tanya saya, karena memang sudah  kenal balk.

“Lha ya, tidak ada peraturannya koq. Untuk beli kaca mata Cartier untuk beli ikat pinggang Dunhill, untuk beli jam tangan Piaget, dan untuk beli pulpen Mont Blanc—itu kan tidak dilarang. Bisa-bisa saja pakai uang lain, dong!”

Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Demikianlah cara kita mencari pembenaran. Demilaianlah cara kita memisahkan halal dari haram.

Lalu bagaimana dengan uang yang kita gunakan untuk menguliahkan putra-putri kita di luar negeri? Harus pakai uang apa? Kalau pakai “uang panas”, berarti gelar yang mereka peroleh juga ”haram”. Lalu jabatan tinggi yang mereka duduki berkat gelar itu juga “haram”. Kepemimpinan mereka pun haram. Keputusan-keputusan yang mereka ambil pun haram.

Tolok ukurnya apa? Dengarkan Rumi, “Jika wajahmu masih murung dan tidak bercahaya, ketahuilah bahwa yang menyusui kamu adalah Setan. Cara kamu mencari uang tidak wajar. Dan makanan yang kau beli dengan uang itu tidak halal.”

Dengan menyumbang sekian persen dari uang hasil kompsi dan rampasan anda bisa saja memperoleh “sertifikat halal”, tetapi bagaimana bisa menipu diri sendiri? Bagaimana bisa menenangkan pikiran yang tidak tenang? Bagaimana bisa menenteramkan hati yang  tidak tenteram? Bagaimana bisa menghapuskan tanda-tanda kemurungan dari wajah anda? Bagaimana membuat wajah anda  berkilau, bercahaya?

Rumi melanjutkan:

 

Jika caramu mencari uang ituwajar, jika makanan yang kau beli dari uang itu halal,  maka wajahmu akan berkilau, bercahaya:

Makanan yang halal, dan dibeli dengan uang  halal akan menghasilkan kesadaran kebijakan, kelembutan dan kasih.

Rasa iri, tipu muslihat, ketidaksadaran dan ketidakpedulian—semuanya dihasilkan dari makanan haram yang dibeli dengan uang haram.

 

Kesimpulan Rumi berbeda dari para “ahli” yang mengatakan bahwa kerusuhan dan penjarahan terjadi karena kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial bisa terjadi, tetapi jika kesenjangan sosial menimbulkan rasa iri dalam diri kita, jika kita mulai menjarah dan merampas harta orang, maka terbuktilah bahwa kita masih disusui oleh Setan pikiran. Kita masih merupakan putra-putri  Setan. Masih belum bisa disebut putra-putri Tuhan. Masih belum layak menyebut diri “turunan Adam”.

Makanan adalah benih pikiran. Bila makananmu halal, kamu akan selalu memikirkan Tuhan. Akan selalu berupaya untuk melayani-Nya. Untuk selalu mengabdi kepada-Nya.

 

Ada yang bertanya, “Bagaimana menjaga keseimbangan antara materi dan rohani, sehingga Tuhan pun selalu teringat dan kantong pun selalu terisi?”

Si penanya tidak sadar bahwa pertanyaannya berbau “syirk”. Bagi dia, materi adalah isi  kantong. Dan rohani adalah Tuhan. Dia sudah jelas-jelas “menduakan” Allah. Bagi dia “isi kantong” dan “Tuhan” adalah dua hal yang berbeda, tetapi berdiri bersama. Dan dia ingin memiliki dua-duanya.

Pertanyaan semacam ini muncul karena penglihatan kita tidak jelas, karena pikiran kita tidak jernih. Dan pikiran tidak jernih, karena makanan kita tidak halal.

Kalau makanan kita halal, pertanyaan semacam itu tidak akan pernah muncul. Keseimbangan apa yang hendak kita bicarakan? Bisakah terjadi keseimbangan antara isi kantong dan Allah? Mustahil!

Jika makanan kita halal, kita akan senantiasa mengingat Allah. Tidak akan membicarakan keseimbangan. Tidak akan menduakan-Nya. Apa pun yang kita lakukan semata-mata untuk melayani Dia. Hidup ini menjadi sebuah pengabdian. Jangan memikirkan gaji. Itu urusan Majikan. Bisakah kita bersikap demikian? Bisakah saya dan anda, dan kita semua, bersikap demikian? Kalau sudah bisa, ucapkan syukur Alhamdulillah… Dan berdoalah agar kesadaran anda tidak merosot, supaya anda selalu bersikap demikian.

Jika belum bisa, ketahuilah bahwa makanan anda belum halal. Cap di atas bungkusan mie tidak mampu “menghalalkan” makanan anda. Amal saleh dan perjalanan suci pun tidak akan mencuci dosa-dosa anda. Bertobatlah, berpalinglah Ke jalan yang benar. Tidak perlu mencuci dosa pakai deterjen. Cukup mengakuinya dan tidak mengulanginya lagi. Dan yang terakhir, ini penting sekali, “tidak mengulanginya lagi”. Hanya mengakuinya saja tidak berguna sama sekali.

Layani suami, isteri dan keluargamu, karena mereka adalah makhluk-makhluk Allah. Bukan karena mereka adalah pasangan-“mu” atau anak-“mu” atau saudara-“mu” atau orangtua-“mu”.

Kembangkan rasa peduli terhadap masyarakat, terhadap lingkungan, terhadap binatang-binatang tak bersalah yang anda sembelih, karena semuanya Ciptaan Allah…

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s