Renungan #Gita: Siapkah Kita saat Maut Menjemput? Segera Mulai Perjalanan Batin!

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 9:32

“Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), kaum perempuan; para vaisya atau pengusaha; para sudra atau kaum, golongan pekerja dalam bidang apa saja; bahkan mereka yang berasal dari kelahiran yang dianggap rendah – jika berlindung pada-Ku, maka mencapai tujuan tertinggi.”  Bhagavad Gita 9:33

 

Krsna mendobrak kepercayaan umum di zamannya bahwa hanyalah para Brahmana — para cendekiawan, ahli kitab, dan pendidik – atau, kaum Ksatriya, kesatria, priyayi, abdi-negara saja yang memiliki kesempatan, sarana penunjang, dan lingkungan yang menunjang peningkatan kesadaran mereka.

Peningkatan kesadaran bukanlah monopoli seseorang atau sekelompok orang. Krsna bukan utusan Gusti Pangeran, dalam pengertian sempit. Krsna, dalam keyakinan yang berkembang di wilayah peradaban kita, adalah Avatar atau Batara. Ia adalah Perwujudan Ilahi — kendati demikian, Krsna juga mewakili Anda dan saya. Setiap orang memiliki potensi yang sama, untuk mewujudkan Krsna dalam hidupnya. Krsna, kesadaran Krsna bukanlah monopoli Krsna sendiri atau sekelompok orang yang merasa sebagai pewaris, dan sebagainya.

Kaum perempuan, hingga saat ini pun, sering dianggap kaum lemah sehingga mesti dipimpin, diayomi, diberi kesempatan yang sama, diperjuangkan hak-haknya atas nama emansipasi segala. Bagi Krsna tidak demikian. Ia berdiri sama tinggi dan sama rendahnya dengan siapa saja, entah kaum pria, jender ketiga, atau jender keberapa saja. Ia memiliki potensi diri yang sama. Seorang perempuan juga bisa ‘menjadi’ Krsna.

Demikian pula dengan kelompok pengusaha dan pekerja. Sesungguhnya, Krsna sedang memecuti kita semua, ‘Bangkit, berjuang, jangan bermalas-malasan. ‘

Kita sering mendengar alasan-alasan lemah para pekerja – dari buruh biasa hingga para profesional top, para eksekutif dan petinggi, ‘Kesibukan kami sedemjkian rupa, sehingga tidak tersisa waktu untuk hal-hal lain.’

“Bull…!” Kata orang-orang dalam bahasa asing, yang kiranya kita tahu lanjutannya apa! Kalau di sini ‘…-kucing’ di sana “…-kerbau’! Nonsense.

“Hal-hal lain”, yang dimaksud, tentunya terkait segala sesuatu untuk meningkatkan kesadaran. Kalau urusannya adalah ketemu pacar, maka waktu tidak menjadi soal. Tapi, urusannya meditasi, tidak punya waktu. Aneh kan!

Saat malaikat maut datang untuk menjemput kita; saat Dewa Yama mengetuk pintu rumah kita — coba berusaha untuk menghindarinya untuk satu detik saja. Tidak bisa. Saat itu tidak ada alasan sibuk. Siapkah kita untuk itu? Jika tidak mau menderita saat itu, tidak mau beraduh-aduh, maka  perjalanan batin kita mesti dimulai saat ini juga.

Perjalanan batin tidak beda dari perjalanan hidup. Tidak ada dua jalan yang mesti ditempuh. Perjalanan batin adalah perjalanan hidup biasa sehari-hari, tapi dengan warna batiniah, di mana kemuliaan – bukan kesenangan sesaat – yang menjadi warna hidup.

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna.

Jika sekadar mau senang-senang, hepi-hepi saja, ya, silakan mengejar kenikmatan indra saja. Buatlah indra-indra makin gemuk, hingga berjalan dan bernapas pun menj adi susah. Dan, saat ajal tiba, ‘aduh-aduh’ — bahkan sebelumnya, saat mulai menua pun, aduh-aduh sudah menjadi satu-satunya irama hidup kita, mantra kita.

Irama Aduh atau Irama Puji Syukur – pilihan di tangan kita. Untuk Irama Aduh, kita tidak perlu berbuat apa pun. Di tengah segala harta-benda yang kita miliki, di tengah segala kenikmatan dan kenyamanan yang kita miliki – saat ini pun sudah terdengar. Sesungguhnya satu-satunya irama yang mengiringi hidup kita saat ini adalah Irama Aduh. So, kencangkan tali pinggang, rileks, biarlah pesawat hidup menuju Segi Tiga Bermuda untuk diisap dan dilempar kembali – mati-lahir, mati-Iahir!

Tapi, jika kita ingin mengubah Irama Hidup kita menjadi lrama Puji-Syukur, maka kita mesti menerima undangan Krsna. Pesawat jet-Nya siap mengantar kita ke Alam Ilahi nan indah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s