Renungan #Vegetarian: Protein Hewani Penyebab Pengerasan Kelenjar Pineal Dan Ketidakpekaan Diri?

buku kearifan mistisisme

Cover Buku Kearifan Mistisisme

“Ketika saya menemukan bahwa DMT menentukan kemanusiaan dalam diri manusia maka saya pun menemukan penawar bagi sifat-sifat hewani.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Penemuan sahabat kita ini penting sekali: DMT sebagai “penawar” bagi sifat—sifat hewani. Sebagian pemikir modern berpendapat bahwa manusia mesti dibiarkan hidup secara alami, “seperti Ieluhurnya, seperti manusia gua zaman dahulu. Makanan mereka adalah yang paling cocok bagi manusia.”

Kemudian, para pemikir modern yang berpendapat demikian menciptakan dua aliran yang saat ini sedang populer:

 

Pertama: Aliran Konsumen Raw Food

Alias sayuran mentah. Tidak perlu kaget, di kepulauan Nusantara sebagian masakan kita memang raw, hanya diseduh misalnya karedok, lalapan, gado—gado, dan sebagainya.

Berbeda dengan penganut modern aliran raw food, kita tidak setiap hari makan gado-gado, karedok, atau sekadar lalapan. Ada juga sayur yang ditumis, dioseng-oseng, dan sebagainya.

Kita tidak seperti para penganut modern aliran raw food yang menganggap segala sesuatu yang dimasak adalah junk food.

 

Kedua: Aliran Caveman atau Paleolithic Diet

Penganut aliran ini berpendapat bahwa menu utama kita semestinya daging—daging segala macam hewan termasuk ayam, ikan, dan sebagainya.

Dalil caveman atau manusia gua: yang menjadi menu utama leluhur kita adalah menu yang terbaik bagi kita.

Tampak berbeda, tapi sesungguhnya penganut kedua aliran tersebut sama—sama ingin memutar balik jarum jam evolusi. Dua-duanya tidak sepenuhnya memahami peran kelenjar pineal dan DMT yang membedakan kita dari leluhur kita dan membedakan spesies kita dari spesies lainnya.

Jika pilihannya antara kedua diet di atas, maka jelas raw food diet lebih sehat, tetapi tidak perlu fanatik. Seperti yang telah kita bahas dalam buku Sanyas Dharma, kebanyakan sayuran mentah akan menambah unsur angin di dalam diri Anda. Dalam bahasa Ayurveda, ilmu kehidupan dan medis kuno disebut vatta, yang bisa mernpengaruhi karakter Anda dan membuat Anda seorang pemimpi yang sibuk bermimpi.Tidak satu pun impian itu menjadi kenyataan.

 

Diet Vegetarian Moderat adalah yang terbaik bagi “kesehatan” kelenjar pineal. Hindari daging, segala macam daging, termasuk daging ayam dan ikan. Jangan langsung menghentikan telur ayam, biarlah badan menyesuaikan diri dengan perubahan diet. Kemudian, dalam waktu enam bulan secara berangsur berhentilah mengonsumsi telur. Tentunya masih ada pengganti protein nabati. Soal gizi, Anda mesti berhati-hati. Jika tidak yakin, Iebih baik berkonsultasi dengan seorang dokter ahli gizi.

Pengaruh diet terhad kelenjar pineal sungguh sangat besar dan penting. Ini tidak dapat diabaikan. Khususnya terhadap “kesehatan” kelenjar itu sendiri.

 

Protein yang Berlebihan, khususnya “protein hewani”, mengeraskan kelenjar pineal. Ia menjadi tidak elastis. Kelenjar pineal yang mengeras seperti itu dapat dilihat dalam beberapa jenis amphibia, antara lain kodok. Benjolan keras di dahinya adalah kelenjar pineal yang “masih keras”, belum elastis.

Dengan kelenjar pineal sekeras itu, seekor kodok tidak memiliki insight atau intuisi. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Seperti dalam eksperimen psikologi yang sangat popular: ketika seekor kodok yang masih hidup dimasukkan kedalam panci berisi air dan dimasak secara perlahan—peningkatan suhunya diatur—maka ia tidak merasakan bahwa dirinya sedang direbus dan sesaat lagi akan mati. Ia memiliki kesempatan untuk melompat keluar dari panci itu. Tidak ada yang melarang atau menghadangnya. Tetapi, ia tidak melakukannya. Mengapa? Karena ia tidak memiliki intuisi, kelenjar pinealnya keras. Ia tidak merasakan “apa yang sedang terjadi  pada dirinya”.

 

Sebaliknya, ia memiliki insting yang cukup tinggi. Ia bisa merasakan keberadaan seekor nyamuk “di sekitarnya”. “Wah, lunch time!”

Konsumsi Protein Hewani membuat kelenjar pineal kita sekeras kelenjar kodok. Kita menjadi tidak peka terhadap apa yang sedang terjadi pada dan di dalam “diri” kita. Kesadaran kita mengalir keluar.

Marilah kita berhenti “berpikir positif” bahwa dengan kelenjar pineal yang keras kita masih bisa menemukan jatidiri.

Tidak, tidak bisa.

Diet vegetarian adalah syarat utama bagi setiap pelaku spiritual. Sesungguhnya, protein nabati dari biji-bijian, kacang-kacangan dan berbagai macam lentils atau dal (semacam kacang-kacangan yang adalah makanan pokok di India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, bahkan beberapa negara di Timur Tengah), dan sebagainya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan protein. Selain itu, protein nabati juga ramah terhadap kelenjar pineal.

Kelenjar pineal rnemiliki intelegensia untuk menolak suplai protein nabati jika memang sudah cukup dan melebihi kebutuhannyai Maka tidak terjadi penimbunan protein yang dapat mengeraskannya.

Tidak demikian dengan protein hewani, yang menumpulkan kelenjar pineal, sehingga ia tidak dapat menolaknya. Maka, terjadilah pengerasan yang sangat tidak menguntungkan bagi perkernbangan spiritual dan peningkatan kesadaran diri.

Berita Baiknya…..

Kawan kita menjelaskan, “Sekeras apapun kelenjar pineal karena timbunan protein hewani, hanya dibutuhkan diet vegetarian selama 21 hari untuk memulai proses pelunakannya. Setelah 21 hari, proses alami pelunakan akan berjalan terus, asal yang bersangkutan tidak merubah diet dan tetap vegetarian.

“Memang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan elasitasnya. Tetapi, mesti tetap bersyukur, karena kelenjar pineal jarang mengalami kegagalan total hingga tidak berfungsi lagi.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

3 thoughts on “Renungan #Vegetarian: Protein Hewani Penyebab Pengerasan Kelenjar Pineal Dan Ketidakpekaan Diri?

  1. Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Diet vegetarian adalah syarat utama bagi setiap pelaku spiritual. Sesungguhnya, protein nabati dari biji-bijian, kacang-kacangan dan berbagai macam lentils atau dal (semacam kacang-kacangan yang adalah makanan pokok di India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, bahkan beberapa negara di Timur Tengah), dan sebagainya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan protein. Selain itu, protein nabati juga ramah terhadap kelenjar pineal.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s