Renungan #Yoga Patanjali: Ketidaktahuan, Ke-‘aku ‘-an, Ke-‘suka’-an, Penyebab Penderitaan?

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

“Avidya atau Kebodohan, Ketidaktahuan; Asmita atau Ke-‘aku ‘-an; Raga atau Ketertarikan, Ke-‘suka’-an; Dvesa atau Ketaktertarikan, Ke-‘taksuka’-an, Kebencian; dan Abhinivesa atau Keinginan untuk Mempertahankan suatu Keadaan, termasuk kehidupan itu sendiri—semua ini adalah penyebab Klesa atau penderitaan.” Yoga Sutra Patanjali II.3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Duka-Derita disebabkan oleh beberapa hal yang disebut dalam sutra ini. Tidak terlalu banyak alasan. Beragam alasan yang terasa tak berujung, tak berpangkal, dan tak terhitung, sesungguhnya merupakan cabang-cabang, ranting-ranting dari beberapa alasan utama ini.

ALASAN PERTAMA AVIDYA, Kebodohan atau Ketidaktahuan. Yang dimaksud adalah ketidaktahuan tentang jati diri kita sebagai Jiwa dan tentang sifat kebendaan yang berubah-ubah terus.

Inilah Dwi-Tunggal sebab utama Avidya atau Ketidaktahuan kita. Dari pasangan inilah Iahir beragam kebodohan lainnya, segala kebodohan lainnya, termasuk yang disebut berikut.

ALASAN KEDUA: ASMITA atau Ke-“aku”-an. Ke-“aku”-an yang dimaksud adalah ke-“aku”-an pseudo atau palsu.

Ketika “Bapak” naik takhta, jadi raja, jadi bos, maka Hola pun “ikut terangkat”. Walau kedudukannya hanyalah di belakang salah satu kaki takhta Bos, tapi lumayan. Bagaimanapun, belakang kaki takhta, bukan kaki biasa. Dan, di dalam istana, bukan di gubuk. Wah, girang bukan main kawan kita!

Tanpa diminta pun, ia bersumpah setia pada tuannya, “Pokoknya, mulai sekarang hidup-matiku bagi Tuanku.” Bos ikut girang. Ia memang butuh beberapa Hola sepeni itu. Dan mulailah ia digemukkan untuk kelak rnenjadi korban!

Akhimya, datang juga hari yang menentukan.

Untuk menyelamatkan Tuan, Hola mesti mengaku menilap sejumlah uang, padahal ia cuma dapat uang receh sedikit. Sebagian besar memang untuk Bos.

Ya nggak apa, pikir Hola, paling di-“proses” sebentar. Bos pasti memanfaatkan koneksinya untuk menyelamatkanku, membebaskanku.

Ternyata tidak. Bahkan, Bos malah menceramahi dia tentang Kewajiban, yang disebutnya “Dharma” seorang Abdi Dalem, “Hola, kamu ini kan seperti Abdi-Dalem. Beruntunglah dirimu, kau ditakdirkan untuk berkorban demi tugasmu yang mulia.” Tugas yang mulia, alias menyelamatkan Bos!

Dalam tahanan, Hola baru tercerahkan, “Tahu begini, lebih baik aku jadi abdi luar saja. Jadi abdi-dalem malah masuk dalam.

HOLA SEMPAT MENGIDENTIFIKASIKAN DIRINYA dengan jabatannya, dengan kedudukamya di belakang salah satu kaki takhta. Posisi itu, kedudukan itu, sempat membuatnya besar kepala. Nah, besar kepala inilah ke-“aku”-an—Asmita.

Percayailah ukuran kepala sendiri.

Itulah fakta, itulah realitas. Jangan biarkan kepala menggelembung hanya karena bisa duduk di bawah kaki takhta.

Bayangkan apa jadinya kalau dapat duduk di atas takhta. Mungkin ukuran kepalanya menjadi lebih besar lagi. Atau, lebih teatnya ukuran kepala tetap sama, hanya nyangka lebih besar. lni adalah delusi, ilusi, aku-ilusif, aku-khayalan. Jika kita memercayai aku-ilusif ini, siap-siaplah untuk menerima akibatnya.Siap-siaplah untuk bergabung dengan Hola!

AKU—GELAR, AKU—TABUNGAN, segala macam aku menggelembung menjadi besar karena keadaan-keadaan tertentu—keadaan-keadaan yang “terasa” menguntungkan,baik—, sudah pasti ciut kembali! Keadaan terus berubah. Sekarang naik, sesaat lagi bisa turun. Sekarang pasang, sebentar lagi surut.

Orang Jawa bilang “Ojo dumeh!”—Jangan Sombong. Jangan berbesar kepala karena keberhasilan materi.

ALASAN KETIGA DAN KEEMPAT: RAGA DAN DVESA atau Suka/Tak-Suka, Tertarik/Tak-Tertarik. Jika tidak dapat apa yang kita sukai—susah. Dapat apa yang kita tidak sukai—susah. Tertarik sama Jeng Joti, dapatnya Holi—susah. Celakanya, kemauan kita tidak selalu terenuhi. Boleh suka/tak-suka, boleh tertarik/tak-tertarik dengan seseorang atau sesuatu—dapatnya belum tentu sesuai dengan yang kita sukai. Alhasil, penderitaan—klesa.

Terakhir:

ALASAN KELIMA: ABHINIVESA ATAU KEINGINAN UNTUK MEMPERTAHANKAN sesuatu—suatu keadaan, suatu pengalaman, hubungan, atau apa saja.

Ingin mempertahankan masa muda—selalu muda, berhenti berusia, berhenti berumur. Berusia 21 tahun selamanya. Apa bisa? Apa mungkin? Kecuali, ya, ada pengecualian yaitu mati, mampus, minggat saat merayakan hari ulang tahun 21. Kemudian, ya, foto yang diambil saat perayaan itu bisa memperlihatkan diri kita berusia 21 tahun untuk selamanya. Setidaknya selama foto itu masih ada, masih ada anggota keluarga, konco, siapa saja yang sudi menyimpan foto itu.

Salah seorang paman saya yang berhasil dalam usahanya, membangun rumah bak istana, besar sekali. Lebih besar daripada kebutuhannya. Harapannya, “Anak saya tiga orang. Rumah ini cukup untuk mereka semua. Setiap anak bisa punya bagian tersendiri.” Setiap “bagian” itu sesungguhnya adalah rumah tersendiri dalam satu kompleks yang sangat luas. Setiap bagian, setiap rumah tersebut terdiri dari setidaknya 4 kamar tidur utama.

Paman saya menyiapkan kompleks perumahan bagi anak dan cucu-cucunya yang kelak akan lahir. Belum lahir.

Sayang, beribu-ribu sayang, jangankan sarnpai generasi cucu, rumah yang superbesar itu hanya bisa bertahan hingga ketiga anaknya menikah. Setiap menantu memiliki angan-angan, imajinasi, harapan, dan ekspektasi sendiri.

Ada yang merasa rumah besar itu kejauhan, tidak praktis. Lebih baik tinggal di apartemen di tengah kota. Ada yang merasa, rumah besar itu boros, “Untuk apa?”

Keutuhan keluarga itu tidak bisa dipertahankan. Tak ada sesuatu apa pun yang dapat dipertahankan. Segala sesuatu dalam kehidupan ini, dalam alam ini, sedang mengalami perubahan. Upaya kita untuk rnempertahankan sesuatu apa pun sudah pasti tidak berhasil. Alhasil, klesa, duka-derita, rasa kecewa—kecele.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s