Renungan #Gita: Persembahkan Helai Daun Kehidupan, Bunga Hati, Buah Perbuatan Dan Air Perasaan Terdalam

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 9:26

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Ritus-ritus, tradisi-tradisi yang mengharuskan kita menghaturkan persembahan ini dan persembahan itu – adalah proyeksi dari pikiran yang kacau. Seolah Tuhan dapat dibeli dengan cara itu.

Di antara kita, ada pula yang berargumentasi bahwa,

“DALAM TRADISI KAMI, ADA TIGA MACAM PERSEMBAHAN, Utama bagi mereka yang mampu; Menengah bagi mereka yang kurang mampu; dan, Nista bagi mereka yang tidak mampu. Jadi tidak ada ada keharusan mesti Utama, sesuai dengan kemampuan masing-masing saja.”

Bertanyalah pada diri-sendiri, “Kata siapa?” bertanyalah, “Apakah kita percaya pada apa yang dikatakan oleh Krsna?” Jika jawaban kita “Tidak”, maka cukup sudah. tidak perlu berargumentasi dan memperpanjang perkara. Tapi, jika jawaban kita “ya”, maka baca ulang ayat ini.berusahalah untuk melihat kebenaran, supaya tidak tertipu oleh “kata si anu”, dari dulu sudah begitu”, atau kalimat-kalimat serupa.

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung –direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

Jangan menyalahartikan ayat ini sebagaai anti ritus – Krsna bukan dan tidak pernah anti-ritus. Ia anti tradsi-tradisi ‘picisan’ yang memberatkan. Silakan mengikuti, memilih, bahkan menciptakan ritus sendiri, sesuai dengan kata hati. Bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang.

Veda dan juga kitab-kitab suci lain, penuh pujiaan. Namun, jika kita mempelajari semuanya itu dengan hati terbuka, sesungguhnya pujian-pujian itu – yang sekarang dikaitkan dengan berbagai ritus – adalah berdiri sendiri.

Kita bisa menggunakan puji-pujian itu untuk mengiringai ritus-ritus yang sudah menjadi tradisi. Bisa juga menggunakannya untuk mengiringi ritus-ritus yang kita buat sendiri sesuai kata hati.

GUNAKAN AKAL SEHAT! Jika akal sehat mengatakan, “mesti mengikuti ritus sesuai dengan pakem” – maka ikutilah. Itulah kebenaran subyektif untuk diri sendiri kita. Barangkali jga uuntuk mayoritas orang. Namun, jika kita berjumpa dengan seorang Ramakrishna yang tidak mengikuti tradisi – maka hendaknya tidak menyalahkan dia. Itu adalah kebenaran dia.

Pemujaan adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi. Dari rumah ke rumah – caranya, mantranya – semua bisa beda. Bahkan, dalam satu keluarga saja, ayah bisa memuja-Nya dalam wujud Ganesa; ibu sebagai Gauri, dan seorang anak sebaggai Sarasvati. Maka dengan sendirinya mantra-mantranya berubah total. Persembahannya pun beda. Bahkan cara bersujud, sikap tangan atau mudra – semuanya beda apalagi, jika di antara anggota keuarga, ada yang beda kepercayaan.

Salahkah mereka? Tidak. Sebaliknya, jika kita masih ingin tetap mengikuti satu cara yang sudah dibakukan oleh “entah siapa” – tapi akaal sehatt kita mengatakan bahwa kita masih harus, tetap mengikutinya – maka kita pun tidak salah.

Di balik semua itu, adalah…..

SEMANGAT PANEMBAHAN YANG PENTING. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting.

Jika kita melakukan suatu ritus sebagai kewajiban saja, ‘karena dari dulu, secara turun-temurun sudah seperti itu,’ atau ‘karena memang dari sononya sudah demikian,’ – maka, menurut saya, pandangan pribadi saya, saat itu, entah sesederhana atau semewah apa pun ritus yang kau lakukan – semangat panembahannya sudah tidak ada.

“Ah tidak, saat saya mengikuti upacara, mendengar mantra-mantra yang dibacakan, dan ketika saya diperciki air suci – bulu roma saya berdiri, saya merinding. Ada semacam energi yang mengetarkan sekujur tubuh saya.”

PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG DIANGGAP SENSASIONAL SEPERTI INI – memang sensasional – sebatas senses atau indra saja. Pengalaman badaniah. Getaran, melihat cahaya, mendengar suara, mencium sesuatu, merasakan sesuatu – semua sensasi ini adalah dari indra. Tidak membuktikan semangat panembahan. Tidak ada kaitannya dengan kasih, dengan cinta, dengan bhakti.

Seorang panembah larut dalam aksi panembahannya. Ia manunggal dengan yang disembah-Nya. Yang muncul adalah kesadaran akan kehadiran-Nya di mana-mana. Yang terlihat adalah wajah-Nya di mana-mana. Panembahan bukanlah sensasi indrawi. Panembahan adalah Ombak Dahsyat Cinta Sejati yang justru menghanyutkan ego, kesadaran jasmani dan indrawi. Kemudian, saat merinding pun, bukan sebatas bulu roma yang berdiri, tetapi Jiwa yang bangkit!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Catatan terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/01/05/renungan-gita-ketidaksempurnaan-semangat-memberi-kepada-orang-lain/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/01/13/renungan-gita-akulah-penulis-akulah-pembaca-akulah-proses-diantaranya-aku-adalah-kau-lampaui-dualitas/

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s