Renungan Diri: Segala Dosa-Kekhilafan Bermula dari Keserakahan

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies). Terjemahan dalam bahasa Inggris dan Sanskerta tidak dikutip.

 

Sara Samuccaya ayat 464:

Keserakahan ibarat ikan hiu atau buaya berbadan besar.

Pengertiannya, keserakahan dapat menelan segala kebaikan dalam diri seseorang

Dari keserakahan muncul dosa-kekhilafan,

seperti perbuatan yang melanggar kebajikan atau dharma.

Dari dosa-kekhilafan timbul adharma, kebatilan.

Demikian, itulah yang menyebabkan duka dan penderitaan.

 

Sara Samuccaya ayat 465

Wahai Narottama, yang terbaik antara manusia —

ketahuilah bahwa segala dosa-kekhilafan bermula dari keserakahan.

Seorang serakah tidak segan berbuat jahat, Walau berpendidikan tinggi dan terpelajar.

Berarti, pendidikan dan penguasaan ilmu saja tidak menjamin karakter.

 

Sara Samuccaya ayat 466

Ketidakpuasan adalah penderitaan. Keserakahan membingungkan,

mencelakakan indra, dan membuat manusia kehilangan akal-sehat,

kemampuan untuk memilah antara tindakan yang tepat dan tidak tepat.

Keadaannya persis seperti orang yang berpendidikan, berpengetahuan,

namun lupa segala apa yang pernah dipelajarinya karena tidak pernah mempraktekannya.

 

Sara Samuccaya ayat 467

Seseorang mesti bersusah payah untuk mencari uang, mengumpulkan harta;

kemudian bersusah payah untuk menjaganya. Kehilangan uang membuatnya susah

Pengeluaran berlebihan atau penghamburan juga menyusahkannya.

Sungguh dalam segala hal, setiap tahap – uang menyebabkan kesusahan.

 

Sara Samuccaya ayat 468

Saat memiliki banyak harta, seseorang menjadi sombong, menjadi angkuh

Saat harta berkurang, saat merugi — ia menderita.

Untuk meraihnya pun, ia mesti bersusah payah.

Lalu, adakah pengalaman bahagia murni tanpa penderitaan,

yang dapat diperoleh dari harta benda?

 

Sara Samuccaya ayat 469

Para hartawan selalu khawatir; selalu takut dengan pemerintah

(yang dirasakannya dapat merampas hasil kerja kerasnya

lewat berbagai peraturan perpajakan yang tidak dipahaminya untuk apa);

air (banjir yang dapat menyebabkan kerusakan dan kehilangan);

api (dapat membakar segala apa yang dimilikinya); maling; bahkan

ia pun menaruh rasa takut terhadap para kerabat (yang selalu mengharapkan bantuannya).

Keadaannya adalah sama seperti rasa takut makhluk hidup terhadap kematian.

 

Sara Samuccaya ayat 470

Seorang hartawan ibarat daging yang menjadi incaran siapa saja

Burung pemakan bangkai di langit; hewan buas di darat;

dan ikan besar di laut/sungai — semua mengincar dirinya.

Pengertiannya, seorang hartawan yang tidak berbagi – malah akan dirampas.

Namun, jika ia berbagi berkah, maka tiada lagi yang menaruh rasa iri

atau cemburu terhadapnya dan tak akan pernah berpikir untuk merampasnya.

 

Sara Samuccaya ayat 471

Untuk apa memikirkan harta benda melulu, jika seseorang sadar bahwa

segala apa yang telah dikumpulkannya akan tertinggal di alam benda ini.

Hidup pun berakhir dengan kematian; dan pertemuan berakhir dengan perpisahan

Pengertiannya, untuk apa “mengejar”?

Uang dibutuhkan untuk hidup dan menikmati hidup, bukan untuk diperbudak,

Sayang sekali, banyak orang diperbudak oleh harta.

 

Sara Samuccaya ayat 472

Demi uang, demi harta — ada yang sudi berperang, bahkan nyawa pun dipertaruhkannya.

Ada pula yang sudi berhamba — dalam pengertian, sudi menjilat demi uang.

 

Sara Samuccaya ayat 473

Adakah manfaat dari kekuasaan yang diperoleh secara tidak wajar,

dengan mengabaikan segala nilai luhur.

Kekuasaan palsu seperti itu hanyalah menyebabkan penderitaan,

walau seseorang tampaknya sejahtera.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies).

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s