Renungan Diri: Kematian Bukan Titik Penghabisan Kehidupan? “Nikmatilah Kehidupan”!

buku reinkarnasi-500x500

Cover Buku Reinkarnasi

Kematian bukan titik penghabisan kehidupan

Kita anggap bahwa dengan kematian, hidup akan berakhir. Itu sebabnya kita takut mati. Apa pun yang Anda katakan dalam hati kecil Anda, rasa takut ini ada terus. Bahkan sebenarnya, Anda tidak sepenuhnya percaya pada bentuk-bentuk kehidupan setelah kematian, sebagaimana diuraikan oleh agama-agama Anda.

Kematian bukan titik penghabisan kehidupan manusia. Kematian hanya merupakan titik awal proses daur ulang. Seorang siswa akan pulang ke rumahnya, setelah seharian di sekolah. Begitu pula kita. Setelah belajar di dunia ini, kita pulang ke alam asal kita. Kenapa ada rasa takut? Kita ibarat anak-anak kecil yang dikirim ke asrama sekolah. Untuk membuat kita betah di asrama ini, memori tentang rumah harus dihilang-hilangkan sedikit. Orangtua Anda tidak akan datang rnenemui Anda terlalu sering. Apabila Anda tidak ditinggal sendirian, kapan bisa mandiri? Kapan Anda akan belajar?

Namun seperti anak-anak kecil yang masih TK dan SD, selesai belajar sepanjang  tahun, sewaktu pulang ke rumah pun ada rasa takut. Kita begitu kecil, masih begitu rawan, begitu cepat terkondisi. Bagaimana pulangnya? Naik kereta, lantas siapa yang rnenjemputnya? Seribu satu macam pertanyaan akan menghantui anak kecil yang sedang siap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, setelah setahun penuh beracla di asrama sekolah.

Mereka yang masih berada di TK, di SD dalam “sekolah hidup ini” akan selalu takut mati. Ironisnya, selama ini kita semua hampir tidak pernah naik kelas. Anda seorang menteri, Anda seorang teknokrat, Anda seorang ilmuwan,Anda seorang tokoh masyarakat—atribut-atribut fisik Anda bertambah terus, tetapi tidak ada penambahan apa pun pada tingkat jiwa. Anda masih saja ibarat anak TK. Mau ke sekolah pun susah, harus dibangunkan, dielus-elus, disayangi, dimarahi, ditakut-takuti, dimanja—baru Anda siap ke sekolah. Pulang dari sekolah pun susah, sudah keenakan main sama teman, sudah mulai ketiduran. Mereka yang tidak sadar, akan selalu gelisah.

Kelahiran dan kematian sudah mulai tidak menggelisahkan lagi, apabila kesadaran Anda meningkat. Ibarat siswa sekolah lanjutan, Anda sudah bisa menikmati pelajaran di sekolah, bermain dengan teman, tetapi tetap juga beristirahat di rumah. Jujurlah dengan diri Anda, berapa di antara Anda bersikap demikian? Berapa di antara Anda yang ridak takut pulang ke rumah? Sakit pinggang sedikit, sakit kepala sedikit, Anda sudah takut. Anda takut mati. Anda takut pulang ke rumah. Sadarlah!

………

Menikmati Kehidupan

Menikmati kehidupan bukan berarti menjadi kaya-raya, mengendarai mobil mewah, memiliki rumah yang besar. Tidak. Anda dapat menikmati kehidupan dengan atau tanpa benda-benda yang dapat Anda peroleh dari dunia ini.

Saya mengatakan “dengan atau tanpa”, karena memang demikian adanya. Kenikmatan yang saya maksudkan itu berasal dari diri Anda sendiri. Namun, penjelasan ini pun tidak akan banyak membantu Anda. Anda harus mengalaminya.

First thing first: Mulailaih dengan langkah pertama. Ikutilah arus kehidupan, tanpa menghakimi, tanpa memilah. Terimalah kehidupan ini sepenuhnya, seperti apa adanya. Setelah itu Anda baru dapat melampauinya. Bagaimana Anda dapat melampaui arus kehidupan, kalau belum melewatinya?

Kelahiran dan kematian merupakan titik-titik pemisah yang membedakan satu masa kehidupan dari masa kehidupan yang lain. Apabila Anda sudah dapat menyadari hal ini, Anda tidak akan gelisah lagi menghadapi kematian.

Lenyapnya kegelisahan Anda membuktikan bahwa jiwa Anda sedang mengalami evolusi. Begitu Anda tidak takut mati lagi, Anda akan berhenti mencari obat-obat untuk menghalangi proses penuaan dan lain sebagainya.

Oh ya, begitu Anda tidak mencat rambut lagi dan menerima proses penuaan serta bertambahnya usia, dengan bangga, maka kematian tidak dapat menakutkan Anda lagi. Saat itu juga, Anda terbebaskan dari cengkeraman maut. Anda terbebaskan dari kepalsuan. Anda mencapai Kebenaran.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s